Sunday, July 31, 2011

Hakikat Ramadhan dan kelebihannya

1. Syahrul ‘Ibadah (Bulan Ibadah)
Penamaan ini bukan berarti bulan yang lain bukan bulan ibadah. Dinamakan demikian kuantitas ibadah umat Islam pada bulan Ramadhan berlipat kali banyaknya dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
Jadikan bulan ini untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan memperbanyak ibadah. Jangan lewatkan detik-detik Ramadhan tanpa nilai ibadah. Jika pada bulan-bulan lain kita masih jarang melaksanakan ibadah sunnah, di bulan ini kerjakan semuanya. Jika sebelumnya kita sudah biasa mengerjakan amalan sunnah, tambahkan.
2. Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an)
Disebut demikian karena Al-Qur’an diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan.
Firman Allah : (Al-Baqarah : 185)
Dan pada bulan ini umat islam dianjurkan membaca Al-Qur’an lebih banyak daripada biasanya, sebagimana dilakukan Rasulullah. Pada bulan Ramadhan, setiap malam Rasulullah tadarus Qur’an dengan dibimbing malaikat Jibril.
3. Syahrur Rahmah (Bulan Rahmat)
Pada bulan ini Allah menurunkan banyak rahmat. Siapa yang tidak mendapat rahmat pada bulan Ramadhan maka orang itu termasuk orang yang celaka, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah meliputi kalian di dalam bulan tersebut, rahmat diturunkan, dosa-dosa dihapuskan, dan doa-doa dikabulkan. Allah melihat kalian semua berlomba-lomba di dalam bulan ini, maka Dia merasa bangga terhadap kalian dan para malaikat. Maka perlihatkanlah segala macam kebaikan diri kalian di hadapan Allah. Sebab orang yang celaka adalah orang yang terhalang mendapatkan rahmat Allah pada bulan tersebut.” (Riwayat Ath-Thabrani)
4. Syahrul Mubarak (Bulan Keberkahan)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa seseungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Ketika datang bulan Ramadhan : Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu.” (HR. Ahmad, Nasai, dan Baihaqy)
5. Syahrul Maghfirah (Bulan Ampunan)
Allah sangat senang memberikan pengampunan kepada orang yang berpuasa, sebagaimana firman-Nya : (Al Ahzab : 35)
Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan penuh harap (pahal), maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang.” (HR. Bukhari & Muslim)
6. Syahrut Tarbiyah (Bulan Pendidikan)
Disebut demikian karena pada bulan ini kaum beriman melakukan pendidikan terhadap seluruh dimensi kehidupannya, mulai dari nafsu, hati, fisik, ibadah, keluarga, masyarakat, ilmu, dan lain-lain. Di samping itu juga karena Al-Qur’an diturunkan di bulan ini, dan ayat yang pertama adalah iqra, yang menyuruh kita banyak membaca dan belajar.
7. Syahrul Jihad wal Falaah (Bulan Jihad dan Kemenangan)
Ini karena di bulan Ramadhan kita harus bermujahadah untuk melawan musuh yang paling berat yaitu hawa nafsu. Di samping itu juga karena dalam sejarah tercatat, kaum Muslimin banyak melakukan peperangan di bulan Ramadhan dan memperoleh kemenangan. Misalnya perang Badar dan penaklukan kota Makkah.
8. Syahrush Sabar (Bulan Kesabaran)
Rasululullah SAW bersabda : “Puasa itu separuh dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi).
Rasulullah juga bersabda : “Puasa itu perisai. Maka jika orang sedang berpuasa, janganlah berkata keji dan ribut-ribut. Kalau ada orang lain yang mencaci-maki dan mengajak berkelahi, maka katakanlah kepadanya, ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari & Muslim)
9. Syahrul-Judd (Bulan Kemurahan)
Setiap muslim dianjurkan memperbanyak bersedekah pada bulan Ramadhan, sebagaimana dianjurkan dan dilakukan Rasulullah.
Anas ra. Menyampaikan, ditanyakan kepada Rasulullah, “Sedekah manakah yang paling utama?” Jawab Rasulullah, “Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi).

Kelebihan Ramadan
  • Daripada Anas (r.a), Katanya: Bersabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba apabila melihat ia sehari bulan Ramadan lantas dia memuji Allah  ( kerana kedatangan bulan rahmat dengan kelebihan dan keistimewaanya) kemudian dibacanya Al-Fatihah tujuh kali, melainkan diafiatkan Allah daripada sakit matanya pada bulan ini.
  • Kelebihan bulan Ramadan dan keagungannya dengan adanya malam Lailatul Qadar yang dirahsiakan, sehingga mendapat keampunan dan pahala serta darjat dan darjah tertinggi bagi orang yang berjaya mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan dipenuhi amal ibadah dan bertaqwa kepada Allah, disamping sembahyangnya yang sunat , istiqfar, tasbih dan berzikir sepenuhnya.
  • Berkata Saidina Ali, Nabi (s.a.w) telah bersabda apabila engkau melihat sehari bulan maka bacalah olehmu "AllahuAkbar" 3 kali, kemudian bacalah :


(Segala kepujian bagi Allah yang telah menjadikan aku dan telah menjadikan engkau, dan telah menentukan bagi engkau pangkat-pangkat (darjah) dan telah menjadikan engkau tanda (kekuasaan) bagi sekalian alam) nescaya bermegah Allah akan Dia dengan malaikat dan firmanNya: Hai malaikat! saksikanlah kamu, bahwa Aku telah merdekakan daripada api neraka, atau dibacakan :


(Ya Allah, zahirlah Ramadan atas kami dengan keamanan dan keimanan dan dengan keselamatan dan keIslaman, Tuhanku dan Tuhan engkau Allah.)
  • Bersabda Nabi (s.a.w) : Bahawa syurga berlenggang-lenggang ia dan berhias dari setahun ke setahun kerana masuknya bulan Ramadan. Pada awal malam bulan Ramadan bertiup angin di bawah Arasy bergeraklah daun kayu lemah-longlainya di dalam syurga. Terdengarlah desiran daun-daun kayu, hembusan sang bayu syurga yang teramat indahnya.Seni rentak lagunya menawan seluruh perasaan nurani. Maka berhiaslah bidadari sekaliannya lalu berdirilah di atas puncak mercu syurga itu. Lantas bersuaralah bidadari : Adakah orang yang hendak meminang kami kepada Allah, kata bidadari pula: Apakah malam ini namanya? jawab Malek Ridwan (malaikat), Hai bidadari yang cantik manis, inilah malam awal Ramadhan, Lalu Allah berfirman: Hai Ramadan bukalah pintu syurga Bab AlJanan untuk orang-orang yang berpuasa daripada umat Muhammad (s.a.w). Hai Malek Ridwan tutuplah pintu neraka Al-Jahim daripada umat Muhammad (s.a.w), hai Jibrail belenggukan syaitan, lontarkannya ke dalam lautan supaya tidak membinasakan umat Muhammad akan puasanya. Maka berfirman Allah pada tiap-tiap malam Ramadan tiga kali : Adakah orang yang meminta ampun? Akan Aku ampunkan!
  • Pada malam Lailatul Qadar menyuruh Allah Ta'ala akan Jibrail Alaihisalam turun ke bumi, lalu turunlah Jibrail ke dalam perhimpunan malaikat ke bumi bersamanya bendera hijau lalu dipacakkan ke atas Kaabah, baginya 600 sayapnya , setengahnya tiada dibuka keduanya, melainkan pada malam Lailatul Qadar baharulah dibukakan keduanya, hingga sampai dari timur ke barat ( Musyriq Ke Maghrib ). Untuk menyelamatkan umat Muhammad, Lalu memberi salam kepada tiap orang yang berjaga pada malam Lailatul Qadar beribadah kerana mencari keredaan Allah, dan orang-orang yang duduk beribadah, orang yang sembahyang dan berzikir dan berjabat tangan sesama mereka mukmin dan mengucap amin doa orang-orang mukmin hingga terbit fajar subuh....... berkata para malaikat kepada Jibrail , apakah Allah berikan pada hajat orang mukmin dari umat Muhammad (s.a.w)  pada bulan Ramadan ini? Berkata Jibrail bahawasanya Allah menilik kepada  umat Muhammad yang berpuasa dan beribadah padanya dan dimaafkan mereka, diampunkan dosa-dosa mereka, melainkan empat orang yang tiada diampunkan dosanya: yaitu orang yang kekal minum arak, orang yang derhakakan ibubapanya, orang yang memutuskan sillaturrahim dan orang yang tidak bercakap dengan saudaranya lebih dari 3 hari.
  • Apabila pada malam akhir Ramadan dinamakan malam persalinan. Pada malam hari raya Aidilfitri didatangkan Allah malaikat kepada tiap-tiap negeri turunlah mereka ke bumi, berdiri pada permukaan jalan menyeru dengan suara yang kuat, semua mendengarnya kecuali jin dan manusia berkata mereka, hai umat Muhammad keluarlah kamu menghadap tuhan yang amat mulia (sembahyang raya di pagi raya) yang memberi pemberian yang berpanjangan dan mengampun akan dosa-dosa yang besar. Apabila tibalah umat Muhammad ke tempat sembahyang, firman Allah kepada maliakat : Hai malaikatKu, apakah balasan orang yang mengambil upah apabila selesai kerjanya ? Jawab malaikat , hai Tuhan kami, sempurnakanlah upahnya! Firman Allah bahawa Aku saksikan kamu hai malaikatku, telah aku jadikan pahala mereka dari puasa mereka pada bulan Ramadan mereka mendirikan sembahyang, ialah keredaanKu dan keampunanKu kepada mereka! Maka firmannya lagi : Hai segala hambaku, pohonlah kamu kepada ku, maka demi ketinggianku dan kebesaranku, tiada memohon kepadaku hari ini akak sesuatu bagi agamamu dan duniamu, melainkan Aku kurniakan kepadamu! (Al-Hadith).
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Diberi kepada umatku lima perkara yang belum pernah diberi kepada umat-umat dahulu sebelumnya :
    • a) Bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada kasturi di sisi Allah
    • b) Segala perbelanjaan dan derita lapar selama puasanya adalah syurga balasannya.
    • c) Diampunkan dosa-dosa mereka pada malam Lailatul Qadar.
    • d) Amalan yang dilakukan pada bulan Ramadan digandakan kepada 10 hingga 700 kali ganda, melainkan puasa maka ianya bagiKu, Aku balas kepadanya yang berkuasa menahan syahwatnya, makan minumnnya kerana Aku.
    • e) Dan mereka dikurniakan nikmat kepada mereka keseronokkan ketika berbuka dan ketika menemui tuhan di akhirat.(Al-Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Menunaikan yang sunat diberi balasan pahala fardhu, dan amal fardhu diberi balasan 70 kali ganda. Bulan puasa adalah bulan sabar (sabar dalam berbuat taat kepadaNya.), dan sabar itu adalah syurga balasannya bulan ini dilebihkan rezeki kepada hambanya orang mukmin, diampunkan baginya dosa-dosa. Barang siapa memberi makan kepada orang berpuasa pahalanya seperti memerdekakan hamba dan diampunkan dosanya, berkata sahabat : Bagaimana kami tak sanggup memberi makan orang yang berpuasa (berbuka puasa) ya Rasullullah - Allah memberi pahala ini kepada orang yang memberi seteguk susu atau sebiji kurma atau segelas air, barang siapa kenyangkan orang berpuasa diampunkan Tuhan dosanya, diminumkan Tuhan dari kolam Hudh sejenis minuman yang tiada dahaga lagi kemudiannya hingga masuk ia ke syurga dan pahalanya seperti pahala orang berpuasa. (Al-Hadith)
  • Puasa menurut segala yang disuruh dan menjauh segala pantang larangannya, diampunkan dosanya, dan bertasbih, bertahlil dibinakan rumah indah dalam syurga.
  • Barang siapa hadir ke dalam majlis zikir pada bulan Ramadan, ditulis tiap langkahnya ibadat setahun, dan pada hari Qiamat bersamaku di bawah Arasy. Siapa tetap berjemaah dalam bulan puasa didirikan kota bercahaya indah, cemerlangnya , dan yang berbakti kepada ibubapanya Allah memandang rahmat kepadanya, dan isteri yang berbuat sesuatu mencari keredaan suaminya, maka pahala yang besar Allah kurniakan kepadanya , seperti Siti Maryam dan siapa yang menyampaikan hajat orang mukmin, Allah menunaikan seribu hajatnya, dan siapa bersedekah kepada fakir miskin (yang ada anak isteri) tiap langkah dikurniakan kepadanya seribu kebajikan, dihapuskan seribu kejahatan dan diangkatkan seribu darjat baginya. (Al-Hadith).
  • Orang yang sembahyang bulan Ramadan tiap sekali sujud, dikurniakan kepadanya 1700 kebajikan, dan dibinakan rumah didalam syurga daripada permata bagi orang yang berpuasa dan beribadat, 75000 malaikat meminta ampun baginya dari pagi hingga tenggelam matahari, dan dibina sebuah mahligai baginya . (Al-Hadith)
  • Pada hari Qiamat, Allah memerintah Malek Ridwan supaya dikeluarkan orang-orang berpuasa daripada kuburnya dengan keadaan lapar dan dahaga, lalu disuruh Malek Ridwan berikan segala keinginan mereka dari segala macam makanan dan minuman syurga. Maka Malek Ridwan memerintah kepada anak-anak membawa talam-talam makanan , minuman dan buah-buahan. Sebagai balasan berlapar di bulan Ramadan. (A-Hadith)
  • Orang mukmin yang tidur dalam bulan puasa kerana puasa Ramadan, dia membalikkan badannya sambil meyebut Allah! maka kata malaikat kepadanya : Rahimakallah (Allah Mencucuri Rahmat kepada kamu.)
    • - Apabila  dia berdiri maka berdoalah hamparannya :  (Wahai Tuhanku, kurniakanlah kepadanya hamparan permaidani  tebal kepadanya di dalam syurga)
    • - Apabila memakai pakaian , berdoalah pakaian (Wahai Tuhanku, kurniakan kepadanya pakaian syurga)
    • - Apabila memakai kasut, berdoalah kasut  (Wahai Tuhanku, tetapkanlah atas titian Siratul Mustaqim!)
    • - Apabila memegang timba berdoalah pula timba : (Wahai Tuhanku kurniakan kepadanya gelas syurga!)


    • - Apabila mengambil air sembahyang , berdoalah air itu : (Wahai Tuhanku sucikannya daripada segala dosa dan kesalahan!)


    • - Apabila berdiri sembahyang , berdoalah rumahnya:  ( Wahai Tuhanku cahayakanlah kuburnya dan luaskanlah , lapangkanlah kuburnya!)


    • Serta menilik Allah kepadanya , maksudnya : HambaKu berdoa dan Aku menerima! (Al-Hadith)
  • Malaikat yang banyak muka bersujud kepada Allah pada hari Qiamat, satu muka sujud , satu muka melihat syurga, satu muka melihat neraka, satu muka melihat Arasy , lalu berkata malaikat itu : Wahai Tuhanku , ampunlah umat Muhammad, kasihanilah mereka! janganlah disiksa orang yang berpuasa Ramadan dari umat Muhammad! (Al-Hadith)
  •  
    • Keredaan Allah (bagi orang yang taat)
    • Keampuan Allah (bagi orang yang maksiat)
    • Jaminan Allah (bagi orang yang taat)
    • Kejinakan Allah (bagi orang yang tawakkal)
    • Anugerah Allah (bagi orang yang benar).
      • Ramadan, Ramada, ertinya : membakar - yakni menghapuskan dosa dosa orang yang berpuasa dan beribadat bulan Ramadan.
      • Ramadan ertinya bulan mendapatkan keredhaan Allah dan keampunan bagi hambaNya. Orang yang mendapat keredhaan dan keampunan Allah bererti memberi jaminan (kerana ibadatnya pada bulan mulia dengan penuh taat) mendapat syurga anugerah Allah bagi hambaNya yang benar benar melakukan ibadat kerana Nya pada bulan Ramadan termulia ini dengan ganjaran pahala sehingga seribu kali ganda dan keampunan yang banyak sekali, teristimewa pada malam Lailatul Qadar.
  •  
    • "Bahawa di dalam syurga terdapat bilik bilik, dilihat dari luar nampak di dalamnya dan dilihat dari dalam kelihatan di luarnya, berkata sahabat : untuk siapakah ya Rasulullah? Lantas Baginda menjawab : Ialah bagi orang yang baik percakapannya, bagi orang yang memberi makan makanan, bagi orang yang sentiasa berpuasa, bagi orang yang sembahyang di tengah malam sedang manusia banyak tidur." (Al Hadith)

 
    • "Semulia mulia sedeqah ialah sedeqah pada bulan Ramadhan." (Al Hadith)
  •  
    • "Puasa itu perisai dan sedeqah itu memadam kesalahan dosa sepertimana air memadamkan api." (Al Hadith)
  •  
    • "Siapa memberi makan ( berbuka puasa) kepada orang puasa makan baginya seumpama balasan pahala orang yang berpuasa dengan tidak kurang sedikitpun ." (Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba berpuasa Ramadan, diam tiada berkata yang sia sia dan daripada yang haram dan yang makruh, dan sentiasa menyebut Allah (berzikrullah), menghalalkan yang dihalalkan Allah, mengharamkan akan yang diharamkan Allah, tiada mengerjakan kejahatan, melainkan sehingga berakhir Ramadan, telah diampunkan baginya segala dosanya, dan tiap tasbih, tiap tahlil, dibinakan sebuah rumah yang terindah di dalam syurga daripada permata zamrud, di dalamnya daripada yaqut merah indah, di dalam rangka permata itu (yaqut) terdapat sebuah khemah, di dalamnya terdapat bidadari ( hurul ain isteri syurga). Terhias dengan permata bercahaya indah yang menerangkan bumi seluruhnya.(Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawasanya bagi Allah beberapa kejadianNya, dijadikan mereka supaya menyampaikan segala hajat orang dan supaya orang meminta tolong kepada Nya, pada menyempurnakan segala hajat yang diperlukan, mereka itulah orang yang aman daripada siksa Allah (Riwayat At Tibrani) (Al-Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawa pintu langit dan pintu syurga dibuka pada awal Ramadan hingga akhir malam Ramadan, tiap orang yang bersembahyang pada malamnya dituliskan baginya tiap satu sujud 1700 kebajikan, dibina rumah baginya di dalam  syurga daripada yaqut merah indah, baginya 70 pintu daripada emas yang bertatah yaqut permata yang merah, orang yang berpuasa pada awal Ramadan diampunkan segala dosanya  hingga ke akhir bulan Ramadan, dibinakan baginya tiap tiap hari sebuah mahligai di dalam syurga, mempunya 1000 pintu daripa emas, dan meminta ampun baginya 70 000 malaikat  dari pagi  hingga tenggelam matahari (Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Kelebihan hari Jumaat pada bulan Ramadan atas segala hari yang lainnya seperti kelebihan Ramadan atas segala bulan (Al Hadith)
  • Barangsiapa mengerjakan ibadat pada bulan Ramadan dengan keimanannya dan ikhlasnya kerana Allah, maka di ampunkan segala dosanya yang telah lalu (Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Tidur orang yang berpuasa itu adalah ibadat, dan nafasnya itu adalah tasbih, doanya itu mustajab, dosanya diampunkan Allah, dan amal ibadatnya dilipatgandakan . (Al Hadith)
  • Apabila berakhir bulan Ramadan, menangis wali-wali Allah kerana terpisahnya bulan yang paling mulia yang digandakan ibadat berlipatkali ganda daripada bulan bulan yang lainnya, bulan Allah mudah menerima ampun taubat hambaNya, bulan yang banyak sekali diturun rahmat ke alam, bulan yang terdapat padanya malam Lailatul Qadar, suatu rahmat dan rahsia yang dikurniakan kepada hamba hamba Nya yang  salihin, yang tidak terdapat pada bulan bulan yang lainnya. Mereka menangis kerana belum tentu akan dapat menemui bulan termulia ini pada tahun tahun hadapan, kiranya dipanjangkan umur.
  • Apabila berakhirlah malam bulan Ramadan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, dan segala malaikat, jerana berlalu Ramadan berlalulah kelebihan, sebab musibah bagi umatku, dan duduk segala malaikat bagi musibah, orang bertanya : Ya Rasullullah, apa itu musibah ? Jawab rasullullah (s.a.w), Kerana segala doa padaNya itu mustajab, sedakah makbul, segala kebajikan digandakan dan siksa kubur diangkat, maka apakah musibah yang terlebih besar daripada ini bagi umatku?! (Al-Hadith)
Malam Lailatul Qadar adalah malam rahsia, yang turunnya padanya malaikat Jibrail dan beberapa malaikat dengan perintah Allah. Orang yang berjaga dengan malam ibadatnya untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang terahsia itu yang tidak diketahui oleh manusia, hanya orang-orang solihin yang hampir, orang berusaha


Petikan dari buku Fadilat Rejab, Syaaban, Ramadan

Friday, July 22, 2011

Memartabatkan Ilmu Perubatan Islam


Pandangan Umum
Ilmu perdukunan atau perbomohan sangat berkembang pesat tetapi sukar untuk mendapat tempat di pesada masyarakat Malaysia. Ini kerana tidak ada kaedah pelajaran dan pembelajaran khusus untuk mendapat satu standard yang boleh diiktirafkan.. Profesi ini banyak juga menimbulkan masaalah penipuan, gejala jenayah lain saperti penyalahguna dadah, samun, kelakuan sumbang dan sebagainya yang menyebabkan pandangan yang tidak baik kepada pengamalnya.

Tidak dinafikan, ramai orang tertentu mempercayai kebolehan dukun, bomoh atau pengamal ilmu alternative ini. yang amalan mereka mengikuti syariat Islam. Ini terbukti kerana ada di antara pengamal-pengamal perubatan alternative ini berjaya memulihkan berbagai penyakit, yang mana pada peringkat awalnya tidak berjaya ditangani dengan kaedah perubatan moden. Pengamal perubatan ilmu Islam yang ikhlas memberi khidmat, berusaha menaikkan mertabat pengamal perubatan saperti ini. Mereka boleh dikatakan berjaya sebab mereka berpegang kuat kepada prinsip, etika dan nilai perubatan itu sendiri yang mereka telah pelajari dari ulama-ulama dan guru-guru mereka yang tidak kurang hebat dan berwibawa. Mereka ini juga berpegang kuat kepada syariat Islam yang menjadi teras didalam semua amalan perubatan mereka.

Pengamal saperti ini harus mencari jalan untuk meningkatkan lagi nilai dan martabat profesi mereka seperti yang telah dijayakan oleh Darul syifa dan sebagainya.


Kebolehan yang UNIK!

Penyakit terbahagi kepada tiga bahagian tertentu dari pandangan kaca mata perubatan Islam - Zahir (physical), Fikiran (mental) dan Ruhani (spiritual). Masaalah zahir dan fikiran lazimnya mudah diubati dengan kaedah moden yang kita tahu canggih sekarang ini. Tetapi ada juga sebilangan masalah dan penyakit tertentu menimbulkan keganjilan dimana pakar perubatan tidak dapat mengesan sebab-musabab punca penyakit-penyakit tersebut. Rawatan pakar yang diberi tidak menunjuk sedikit perubahan dan gagal walaupun sekian lama diawasi secara rapi. Masalah rohani pula yang selalu dihubung kait sebagai masalah mental, sangat asing bagi pakar phyciatri dan physcologi untuk menerima hakikat ujudnya permasalahan ini dari cetusan ganguan jin. Malah mereka sukar mempercayai bahawa kaedah ilmu perubatan Islam ada jawapan dan ubatnya.

Amalan ilmu perubatan Islam di dalam masyarakat kita telah banyak membuktikan kejayaan dibidang penyembuhan 'penyakit ganjil' yang kita harus bangga kebolehan mereka dan keberkesanannya. InshaAllah. Tetapi tidak banyak pengiktirafan dan penghargaan yang setimpal dari masyarakat umum.



Etika, Keterampilan dan Amalan Pengamal Ilmu 'Pengobatan' Islam

Kita harus juga ingat, yang merosakkan ilmu perubatan Islam adalah pengamal-pengamal itu sendiri. Kerana sesetengahnya tidak mampu meletak nilai dan mertabat dalam pengamalan ilmu-ilmu mereka. Kesalahan besar mereka adalah:

1. Tidak ada keterampilan sebagai pengamal yang harus dihormati dan disegani saperti profesi lain dari segi keperibadian, pakaian dan image yang bersesuaian

2. Mempraktikkan amalan mereka di tempat yang tidak sesuai saperti di kaki-lima dan lorong-lorong sempit.

3. Tidak beretika dan beramanah

4. Tidak faham untuk meletak NILAI kebolehan amalan perubatan mereka pada tahap yang mendapat penghormatan dan pengiktirafan

5. Tidak memahami bahawa segala ILMU yang ada di langit dan bumi adalah milik mutlak Allah SWT (sama ada ianya ilmu duniawi atau ilmu akhirat)

Maka dengan sifat-sifat pengamal sebegini, TIDAK ada memberi keBERKATan dari apa yang diamal mereka sampai bila bila pun dan Iblis akan mencampu-aduk dakyah syaitan didalam amalan mereka akhirnya.



Kenapa meletak NILAI, bukannya HARGA

Kita ingin melihat sumbangan pengamal ilmu perubatan Islam sebagai satu profesi saperti profesi lain. Di sini timbul pendapat dan kepercayaan TUA bahawa:

1. Seseorang yang mengamal ilmu pengobatan secara Islam, yang mengunakan kaedah Al-Quran dan membaca kalimah suci Allah SWT tidak harus memerima upahan atau bayaran atas kebolehan dan usaha mereka ini, walaupun mereka berjaya menyembuh seeorang pesakit itu.
2.  Ilmu Allah SWT tidak boleh dijualbeli - berkhidmat semata kerana Allah SWT!

Maka tidak hairanlah kita tidak berjaya memertabatkan ilmu perubatan Islam pada tahap profesi yang dihormati kerana pandangan dan penilaian rendah saperti ini. Tidak hairanlah juga pengamal ilmu perubatan Islam hidup ala-kadar dan tersisih di kaki-lima dan lorong sempit. Soal kekuatan ekonomi dan kebajikan mereka sendiri tidak diperkukuhkan dengan pendapatan yang setimpal dengan jaya-usaha dan khidmat yang mereka berikan kepada pesakit yang memerlukam khidmat itu.

Apa bezanya Ilmu Amali Perubatan Islam dengam ilmu duniawi lain yang memanfaatkan kalau diguna cara betul dan bersyariat seperti ilmu kimia, hisab, perubatan dan kedoktoran, sains dan computer, bilogi, kejuteraan ...banyak lagi ???.... yang manusia menuntut penemuannya dan pemilikannya diatas nama mereka sendiri oleh orang barat dan timur ? Hakikatnya, kesemua ilmu-ilmu ini milik mutlak Allah SWT. Ilmu ini dihidayahkan atau diilhamkan kepada makhlukNya bernama manusia (dan sesiapa sahaja yang sangup berusaha keras dengan akal) untuk mencari dan menimba khazanah  ilmuNya Allah SWT disepanjang masa dari zaman datuk-nenek kita nabi Adam AS dan Hawa AS. Mengapa kita sanggup membayar ribuan ringgit kepada pakar sakit jiwa atau pakar jantung untuk rawatan dan penyembuhan penyakit kita? Dari manakah asal ilmu-ilmu sains, perubatan, teknologi dan kejuruteraan itu kalau tidak dari empunyaNya yang mutlak  Allah SWT jua ? Kenapa kita lupa untuk mengiktirafkan secara sedar bahawa setiap dan apa saja ilmu itu dibawah langit ini adalah dari Allah SWT? Masih ramai orang Islam sendiri tidak sedar dan faham hakikat ini. Nauuzubillah! Kami ulangi - Fahamilah dan Sedarlah bahawa setiap ilmu yang ada di muka bumi ini yang manusia memanfaatkan dengan izinNya adalah milik Allah SWT.

Maka amalan ilmu Perubatan Islam -  perdukunan, perbomohan dan sebagainya, harus dimartabatkan serupa.

(perhatian penulis juga tertumpu didalam soal kita memberi ganjaran untuk Guru Agama dan Ustaz yang memberi pengajian Al Koran untuk kita dan anak-anak kita. Kita tahu ibubapa sanggup memberi tuisen kepada anak-anak mereka hingga yuran mencecah RM 450 sebulan (3-5 mata pelajaran) untuk kejayaan anak-anak mereka didunia ini. Dalam soal yang sama, ramai ibubapa berkira dan memberi hanya RM 20-40 saja kepada Guru Agama dan Ustaz - itu pun sudah lumayan dalam pandangan mereka! Fikir-fikirkan lah mengenai nilai, kepentingan dan pengimabangan ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan kita)


Konsep NILAI bukan HARGA

Kita meletak NILAI bukan HARGA!
Misalnya, seorang pengamal ilmu perubtan Islam berjaya mengobati lelaki mengidap penyakit jiwa (schizophrenia) yang serius selama tujuh tahun. Beliau telah menerima rawatan dari ramai doctor pakar jiwa swasta dan kerajaan. Doktor pakar tidak menjanjikan penyembuhan kerana nasehat mereka bahawa penyakit jiwa yang dihadapi beliau cuma boleh dikawal melalui pengambilan ubat penenang ( yang berterusan), siri kaunseling dan sokongan morale dari keluarga dan masyarakat. Keluarga beliau telah membelanjakan hampir RM 57,000.00 selama tujuh tahun itu. Selama itu juga perusahaan hotel dan kilang kayu beliau telah mencatat kemerosotan yang mendadak dengan kerugian sejuta setenggah ringgit dan terpaksa diambil-aleh oleh anak-anak dan isteri. Ringkasan cerita, beliau telah diketemukan Allah SWT dengan seorang pengamal perubatan Islam yang sekadar memberi beliau segelas air yang didoakan dengan nama Allah SWT. Dengan keberkatan air doa itu dan dengan kudrat dan izin Allah SWT jua, beliau pulih sepenuhnya dalam jangka masa tujuh hari. Alhamdullillah. Bayangkan kegembiraan si
pesakit dan semua ahli keluarga atas pulihnya suami dan ayah mereka yang selama ini telah menjadi tonggak harapan dan kebahagian keluarga ini. Sipesakit bershukur kerana dapat kembali menikmati dan menjalani hidup seperti biasa bersama keluarga tersayang dan lebih penting sekali  dapat meneruskan ibadah kepada Allah SWT.

Timbul persoalannya, bagaimana harus keluarga ini 'membayar' khidmat pengamal pengobatan ilmu Islam itu yang berjaya memulihkan suami/ayah mereka?

Bayangkan, keluarga sanggup berbelanja apa saja (RM 57, 000.00) dengan tidak ada kepastian untuk memulihkan suami/ayah mereka. Ini tidak termasuk kehilangan potensi perusahaan yang ada. Saperti lazimnya, dukun dan bomoh akan dibayar RM 100.00. Ini dipercayai bayaran yang standard dan lumayan kepada pengamal perubatan 'kaki lima'.

Maka didalam soal ganjaran, kita harus gunakan akal untuk menilai khidmat si
pengamal itu, ia itu dengan kebijaksanaan dan kewarasan kita untuk berfikiran dan menilai erti makna 'kesihatan dan kebahagiaan' bagi kita dan keluarga kita. Lazimnya, makna kesihatan tidak dapat dinilai lagi dengan wang ringgit, apa lagi sekiranya penyakit itu dikhuatiri boleh membawa maut! Manusia yang kurang imannya takut akan mati awal! Mati setia menunggu.

Kalau kita tahu menilai betapa pentingnya kesihatan dan kebahagiaan kepada kita dan kita sanggup berbelanja apa saja untuk pemulihannya, NILAI lah juga usaha mereka mereka yang berjaya menyembuh penyakit kronik yang kita hadapi itu. Apa ada pada nilai RM 5000 atau RM 10,000 sekali pun sebagai imbuhan atau infak sekiranya ada kesedaran jua pada keluarga sipesakit. Mereka tetap faham betapa tingginya NILAI dan makna penyembuhan itu bagi pemulihan suami/ayah mereka. Kesimpulahnya, semua pengamal harus berusaha memberi kesedaran kepada masyarakat mengenai kebolehan unik mereka dan memartabatkan ilmu mereka. Masyarakat juga harus menerima hakikat betapa bernilainya sumbangan, usahabakti dan kaedah perubatan islam ini.

Pengamal perubatan Islam yang sejati tetap bersyukur dan bersedia untuk berkhidmat dan menerima apa saja ganjaran atau infak setimpal dengan usaha mereka. Tetapi bagi kita masyarakat umum yang memerlukan khidmat ini, fikirkanlah sekali lagi untuk bersedia meNILAIkan khidmat dan manfaat yang boleh disumbang olah pegamal ilmu perubatan Islam setanding dengan ilmu lain yang perlu dapat pengiktirafan dan penghormatan sewajarnya. Dan yang penting juga kita bersama berusaha memertabatkan Ilmu Perubatan Islam, InshaAllah. Amin Ya Rabilalamin.


Sumbangan Amirul Hayat Fatihah Al Binafsih Al Banjari


ISTILAH-ISTILAH & DALIL DALAM ILMU HIKMAH
Dalil-dalil berikut ini kami ambil dari beberapa sumber yang kami miliki seperti Al Qur'an, Hadits Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Ath Thibbun Nabawi, Mukhtarul Ahadits An Nabawiyyah, Khozinatul Asror dan lain-lain
(1) KHASIAT ZIKIR
 PERTOLONGAN ALLAH BAGI YANG ZIKIR. Sesungguhnya ALLAH berfirman, "Aku bersama hamba-Ku selama dia ingat kepada-Ku atau menyebut nama-Ku dan kedua bibirnya selalu bergerak dengan menyebut-Ku" (HR. Ahmad dari Abu Huroiroh)
TERKABULNYA DOA TERGANTUNG PERSANGKAAN MANUSIA KEPADA ALLAH. ALLAH berfirman, "ANA 'INDA ZHONNI 'ABDII BII WA ANA MA'AHU IDZAA DZAKARONII". Artinya : "Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya jika dia mengingat dan menyebut-Ku"
ZIKIR ATAU WIRID ITU HARUS ISTIQOMAH (TERUS MENERUS). Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahAwa Nabi bersabda, "AHABBUL A'MAALI ILALLAAHI ADWAAMUHAA WA-IN QOLLA". Ertinya, "Perbuatan yang paling dicintai ALLAH adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit". (HR. Bukhori dan Muslim)

(2) MA'UNAH  
 MA'UNAH BAGI MANUSIA. Sesungguhnya ALLAH akan menurunkan MA'UNAH (Pertolongan) seukuran saat yang ditentukan dan akan menurunkan kesabaran seukuran bala (ujian-Nya) (HR. Ibnu 'Adi dari Abu Hurioiroh)
HAKIKAT MINTA TOLONG. Kepada Engkaulah kami menyembah dan kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (Surat Al Fatihah ayat 5)
TAWASSUL (PERANTARAAN) MINTA TOLONG MELALUI MAKHLUK ALLAH. Dan minta pertolonganlah kalian melalui Kesabaran dan Solat (Surat Al Baqoroh ayat 45)
BANTUAN MALAIKAT. Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, pasti ALLAH menolong kamu dengan 5000 malaikat yang memakai tanda (Surat Ali Imron ayat 125)
PERTOLONGAN BAGI YANG SELALU INGAT ALLAH. Nabi SAW bersabda, "TA'ARROF ILALLAAHI FIR RO-KHOO-I YA'RIFKA FISY SYIDDAH". Artinya : "Berkenalanlah (ingatlah) kepada ALLAH dikala senang, maka ALLAH pasti akan mengingatmu dikala susah" (Hadits Muttafaq 'Alayhi)

(3) DOA' 
DOA MENOLAK TAKDIR. Sesungguhnya seseorang akan susah rezekinya kerana dosa yang menimpanya, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali Do'a dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali berbuat baik (HR. Ibnu Hiban dari Tsauban)
MENOLONG DENGAN DOA. Doanya orang Islam untuk saudaranya (seiman) pada saat temannya tidak mengetahuinya akan ALLAH kabulkan, di kepala orang yang berdoa itu ada malaikat yang diwakilkan kepadanya, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan baik, maka berkatalah malaikat itu : "AAMIIN (kabulkan Ya ALLAH), dan bagi kamu seperti tu" (HR. Ahmad dari Abu Darda')
DOA ORANG YANG DIANIAYA PASTI DIKABULKAN. Takutlah terhadap doanya orang yang teraniaya, maka sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya orang yang teraniaya dengan ALLAH (HR. Turmudzi)
 
(4) RUQYAH (JAMPI-JAMPI, MANTRA) 
 BOLEH  MENJADIKAN SYIRIK PEMAKAINYA. Diterima dari Abdullah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya jampi-jampi, tangkal-tangkal dan pelet menjadikan musyrik." (Ibnu HIbban)
JAMPI YANG BERMANFAAT. Tidak ada jampi-jampi (yang lebih utama dan lebih bermanfaat) kecuali untuk penyakit 'Ain (mata jahat) dan keracunan (HR. Abu Daud)
BOLEHNYA JAMPI UNTUK PENYAKIT. Rasulullah SAW memberi keringanan dengan jampi-jampi untuk penyakit 'Ain, keracunan dan kesemutan" (HR. Imam Muslim dari Anas)
MANTRA SUCI. Dari Abu Sa'id Al Khudry, sesungguhnya Jibril as pernah mendatangi Nabi SAW lalu berkata, "Hai Muhammad, apakah kau telah mengadu". Nabi menjawab, "Ya". Lalu Jibril as berkata, "Dengan nama ALLAH aku menjampi-jampi kamu, dari segala penyakit yang menyakitimu, dan dari segala jiwa atau mata orang yang dengki, ALLAH akan menyembuhkanmu, dengan nama ALLAH aku menjampi kamu (HR. Imam Muslim, Turmudzi dan Nasai)
JAMPI YANG BERMANFAAT. Sahl bin Hunaif bertanya kepada Nabi SAW, "Apakah jampi-jampi itu baik?" Nabi menjawab, "Tidak ada jampi-jampi yang lebih bermanfaat kecuali untuk peyakit mata jahat, keracunan dan sengatan binatang berbisa" (HR. Abu Daud)
BOLEHNYA JAMPI UNTUK PENYAKIT. 'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW memberi keringanan dalam masalah jampi-jampi untuk penyakit sengatan/patukan ular dan kalajengking" (HR. Ibnu Majah)
JAMPI ATAU MANTRA BOLEH ASAL TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AKIDAH DAN SYARI'AT. Diriwayatkan dari Ibnu Syihab Az Zuhri dia berkata, "Sebahagian sahabat Rasullullah SAW pernah disengat / patuk ular maka Nabi SAW berkata, "Apakah ada orang yang menjampinya?. Maka sahabat menjawab, "Sesungguhnya keluarga Hazm mereka membaca jampi-jampi untuk sengatan / patukan ular, maka ketika Engkau melarang jampi-jampi, mereka meninggalkan jampi-jampi tersebut." Nabi bersabda, "Panggillah 'Umaroh bin Hazm !" Lalu mereka memanggilnya lalu Umaroh menyodorkan jampi-jampinya, lalu Nabi bersabda, "Tidak apa-apa jampi-jampinya". Maka Nabi mengizinkannya kemudian ia membaca jampi-jampinya. (HR. Ibnu Majah, Bukhori, Muslim, Nasai dan Ahmad)
 
(5)  RAJAH, WIFIQ
  BERUPA TULISAN AL QUR'AN. Sekumpulan ulama Salaf berpendapat boleh menulis beberapa ayat Al Qur'an untuk penyakit 'Ain (mata jahat) kemudian meminum air basuhan tulisan tersebut. Berkata Imam Mujahid, "Tidak apa-apa menulis Al Qur'an dan membasuhnya dan meminumkannya kepada orang sakit". Dan seperti itu juga diriwayatkan dari Abi Qilabah. Dan disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas bahawa beliau menyuruh menulis 2 ayat Al Qur'an untuk wanita yang sulit melahirkan, lalu membasuhnya dan meminumnya. Dan berkata Ayub, "Aku pernah melihat Abu Qilabah menulis tulisan sebahagian dari Al Qur'an lalu membasuhnya dengan air dan meminumkannya kepada seseorang laki-laki yang punya penyakit" (Kitab AT Thibbun Nabawi halaman 133)
KHASIAT DAN KEKUATAN YANG TIDAK TERLIHAT YANG DITITIPKAN ALLAH KE SUATU BENDA MATI ITU MEMANG BOLEH ADA. Benda bertuah berupa baju gamis milik Nabi Yusuf. ALLAH berfirman, "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini lalu letakkanlah baju gamisku ke wajah ayahku (Yakub as) nanti ia akan melihat kembali dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku" (Surat Yusuf ayat 93)
ULAMA MEMBOLEHKAN. Telah berkata Imam Nawawi dalam kitabnya Syarhul Muhadzdzab, "Jikalau Al Qur'an ditulis di sebuah lauh (papan/batu tulis) atau pada bejana kemudian membasuhnya (tulisan tersebut) kemudian meminum air basuhan tersebut oleh orang sakit, maka berkatalah Hasan Bashri, Mujahid, Abu Qilabah dan Auza'i : ' Tidak apa-apa dengannya' . Tapi An Naha'i memakruhkannya". Telah berkata Qodi Husen dan Baghowi dan selain keduanya,"Jika menulis Al Qur'an di makanan yang manis atau makanan (lainnya) maka tidak apa-apa memakannya". Zarkasyi berpendapat tidak boleh memakan kertas yang bertuliskan ayat Al Qur'an. Ibnu Abdus Salam berfatwa makan dan minum dari kertas itu juga dilarang kerana menjadikan kertas tersebut bertemu dengan najis bathin. (Kitab Khozinatul Asror halaman 67)
MEDIANYA HARUS HALAL. Imam Ahmad dan lainnya menyatakan tidak mengapa menulis Al Qur'an untuk orang yang kena musibah atau lainnya termasuk sakit dengan materi (media / bahan) yang dibolehkan lalu membasuh dan meminumnya. Tidak boleh menulisnya dengan selain Al Qur'an seperti tulisan-tulisan yang tidak dimengerti ertinya dari bahasa-bahasa berbagai ajaran yang berbeza-beza, kerana mengandung di dalamnya kekafiran. Materi (media)nya tidak boleh berupa darah dan semacamnya yang termasuk najis kerana haram bahkan kafir. Tidak boleh juga semisal membolak-balikkan huruf Al Qur'an. (Kitab Khozinatul Asror halaman 67 dan Tafsir Ruuhul Bayan pada akhir Surat Al Ahqof)
 
(6)  SIHIR
PENGERTIAN SIHIR. Sihir adalah kekuatan gaib yang diciptakan ALLAH untuk makhluk-Nya, dimana kekuatan gaibnya berupa kekuatan pengaruh ruh-ruh jahat (jin atau setan), dan dapat berpengaruh pada unsur alam. Seperti diceritakan dalam Asbabun Nuzul surat Al Falaq dan An Nas iaitu ketika Nabi SAW sakit seolah mendatangi isteri-isterinya ternyata tidak, dan ternyata setelah diberitahu oleh Malaikat, sihirnya ada pada sebuah sumur dan berupa tali yang disimpul-simpulkan. 'Aisyah ra. berkata, "Rasulullah SAW pernah disihir sehingga beliau sungguh berkhayal bahawa dirinya mendatangi isteri-isterinya padahal beliau tidak mendatangi isteri-isteri beliau." (HR. Bukhori dan Muslim, Abu Daud dan Ahmad). Lihat kitab Ath Thibbun Nabawi Halaman 100)
 
(7)  TRANSFER ILMU GAIB MELALUI MEDIA BENDA MATI
SARANA AIR DAN GARAM YANG DIYAKINI DAPAT MENGUBATI PENYAKIT SEBELUM ADA PENELITIAN ILMIAH OLEH PARA PAKAR ILMU PENGETAHUAN MODEN. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dia berkata, "Ketika Rasulullah SAW solat, ketika sujud beliau disengat oleh kalajengking pada jari-jarinya. Maka berpalinglah Rasulullah SAW dan beliau berkata, "Semoga ALLAH melaknati kalajengking itu, selama kau tinggalkan Nabi dan selainnya". Abdullah bin Mas'ud berkata, "Kemudian Nabi meminta bejana yang isinya air dan garam. Lalu beliau memulai meletakkan air dan garamnya tersebut ke tempat luka sengatan tadi dan beliau membaca Qul Huwallaahu Ahad dan Al Mu'awwi-dzatain (Al Falaq dan An Nas) sehingga luka sengatan tadi menjadi tenang" (Kitab Ath Thibbun Nabawi halaman 141)
SARANA TANAH. Dari 'Aisyah ra dia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila seseorang mengadu sakit atau ada yang punya bisul/kudis atau luka, maka beliau berkata dengan jari-jarinya seperti ini (Dan Sufyan meletakkan jari telunjuknya ke tanah kemudian mengangkatnya) dan beliau berkata, "Dengan Nama ALLAH, inilah debu tanah kami, dengan ludah sebahagian kami, agar orang sakit kami disembuhkan, dengan izin Tuhan kami." (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)
 
(8) TIUPAN KE BENDA MATI
 TIUPAN KE TUBUH. Dari 'Aisyah dia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila berbaring di tempat tidurnya, beliau meniup kedua tapak tangannya dengan (sebelumnya membaca) Qul Huwallaahu Ahad dan Al Mu'awwi-dzatain (Al Falaq dan An Nas) kemudian beliau mengusap wajahnya dengan kedua tapak tangannya tersebut dan mengusap bahagian tubuh mana saja yang tangannya sampai." (HR. Imam Bukhori dan Muslim)
 
(9)  ISTIKHDAM (BANTUAN MAKHLUK)
 KHODDAM MALAIKAT. Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, pasti ALLAH menolong kamu dengan 5000 malaikat yang memakai tanda (Surat Ali Imron ayat 125)
KHODDAM JIN. ALLAH berfirman, "Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tenteranya dari Jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). (Al Qur'an surat An Naml ayat 17)
HARAM BERLINDUNG KEPADA JIN. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Surat Al Jin ayat 6)
 
(10) JUMLAH WIRID / ZIKIR
SEDIKIT TAPI TERUS MENERUS. Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahawa Nabi bersabda, "AHABBUL A'MAALI ILALLAAHI ADWAAMUHAA WA-IN QOLLA". Artinya, "Perbuatan yang paling dicintai ALLAH adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit". (HR. Bukhori dan Muslim)
DISUNNAHKAN JUMLAHNYA GANJIL. Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya ALLAH itu berjumlah ganjil, Dia juga mencintai yang berjumlah ganjil."
DIULANGI TERUS AGAR TAMBAH YAKIN. Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa Nabi SAW bersabda, "Apabila kamu mengadu sakit, maka letakkanlah tangan kamu ditempat yang sakit, kemudian katakanlah, "Dengan Nama ALLAH, aku berlindung dengan kemuliaan-Nya dan kuasa-Nya dari kejahatan apa yang aku dapatkan dari sakitku ini", kemudian angkatlah tanganmu kemudian ulangi demikian dengan jumlah ganjil" (HR. Imam Turmudzi)
 
(11)  IKHLAS
 IKHLAS ADALAH KARENA ALLAH. Katakanlah, "Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, matiku untuk Robb semsta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya". (Surat Al An'am ayat 162-163)
AMAL DITERIMA JIKA IKHLAS. Diriwayatkan dari Abu Umamah, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya ALLAH Ta'ala tidaklah menerima suatu amal kecuali jika dilakukan secara ikhlas dan yang dicari adalah wajah ALLAH." (HR.An Nasa-i)
IKHLAS MENJAUHKAN DARI NERAKA. Sesungguhnya ALLAH Ta'ala sungguh mengharamkan api neraka bagi orang yang mengucapkan LAA-ILAAHA ILLALLAAH, dengan demikian itu ia mencari wajah ALLAH. (HR. Bukhori dan Muslim)
 
(12) KEPEKAAN BATHIN, FIRASAT, ILMU SABDA (sekali ucap langsung nyata) 
FIRASAT YANG BENAR ADALAH DENGAN CAHAYA ALLAH. Nabi SAW bersabda, "ITTAQUU FIROOSATAL MU'MIN FA-INNAHUU YANZHURU BINUURILLAHI". Artinya : "Takutlah kamu terhadap firasatnya orang beriman (mu'min) kerana ia melihat dengan cahaya ALLAH" (HR. Turmudzi)
PERKATAAN YANG BENAR KERANA BANTUAN MALAIKAT. Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya ALLAH memiliki malaikat di bumi yang berbicara di atas lisan anak cucu Adam dengan sesuatu yang ada pada seseorang dari perbuatan baik dan buruk". (HR. Bayhaqy)
 
(13)  UPAH JASA HIKMAH 
 BOLEH MINTA UPAH. Abu 'Ubed, Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Al Hakim, dan Bayhaqi, dari Abu Sa'id Al Khudri ra. dia berkata: "Rasulullah SAW telah mengutus kami pada suatu peperangan 30 pengendara. Maka turunlah kami di suatu kaum orang Arab lalu kami minta mereka untuk menjadikan kami tamu mereka. Maka mereka menolak. Kemudian disengatlah ketua suku mereka oleh kalajengking lalu mereka berkata, Apakah pada kamu ada seseorang yang bisa menjampi dari sengatan kala jengking? Maka aku katakan : Ya, aku. Akan tetapi aku tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan kami sesuatu. Mereka menjawab, Kami akan berikan kalian 30 kambing. Abu Sa'id berkata maka aku baca ALHAMDULILAHI ROBBIL 'AALAMIIN (Surat Al Fatihah) 7x atas sengatan tersebut. Maka ketika kami menggenggam seekor kambing, disodorkanlah kepada kami. darinya. Lalu kami menahan diri sehingga mendatangi Nabi SAW. Maka kami sebutkan demikian itu kepada beliau. Lalu Nabi menjawab, Dari mana kamu mengetahui bahawa Al Fatihah itu adalah jampi. Bagi-bagilah kambing itu dan buatlah untukku bersamamu."
BOLEH AMBIL UPAH DARI PENGUBATAN DENGAN AL QUR'AN. Seorang sahabat Nabi SAW berkata : Aku telah mengambil upah atas kitab ALLAH (setelah mengubati orang dengan Kitab ALLAH)) sehingga kami tiba di Madinah. Lalu sahabat yang lain berkata (kepada Rasulullah SAW), Dia telah mengambil upah atas kitab ALLAH. Maka berkatalah Nabi 'Alaihis Sholaatu was Salaam, Sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah adalah Kitab ALLAH. (HR. Imam Ahmad, Bukhori dan Bayhaqy dari Ibnu 'Abbas ra)
UPAH ITU BAGIAN DARI AL QUR'AN. Abu Nu'aim meriwayatkan, dari Abu Huroiroh ra, "Telah bersabda Nabi 'Alaihis Sholatu was Salam, 'Barangsiapa mengambil upah atas Al Qur'an, maka demikian itu bahagiannya dari Al Qur'an.'"
IMAM MADZHAB SEPAKAT BOLEHNYA AMBIL UPAH. Para Imam Madzhab yang 3 dan sebahagian Ulama' Madzhab Hanafi dari golongan Ulama Mutaakhkhirin, mereka mengambil dalil dengan hadits-hadits ini (di atas) tentang mengambil upah.
TIDAK WAJIB MEMBERI / MENGAMBIL UPAH, BUKAN TIDAK BOLEH. Dalam Risalah Bulughul Arob Li-dzawil Qurbi oleh Asy Syaronbilaly : Tidak boleh mengambil / meminta upah atas perbuatan taat seperti mengajari Al Qur'an, Fiqih, jadi Imam Solat, Adzan, memberi peringatan / zikir, hajji dan perang, maksudnya TIDAK WAJIB UPAH Dan menurut Ulama Madinah, BOLEH. Seperti itu juga (membolehkan upah) pendapat Imam Syafi'i, Nashir, 'Ishom, Abu Nashr, dan Abul Layts (semoga ALLAH TA'ALA merahmati mereka)
(Ketiga hadits dan pendapat ulama tersebut dapat dilihat di kitab Khozinatul Asror halaman 64)


Friday, July 15, 2011

Rawatan Islam dan Al-Qur"an



Rawatan ISLAM ?
Bila disebut sahaja rawatan Islam ramai membayangkan ia adalah suatu rupa bentuk rawatan yang HANYA menggunakan ayat- ayat suci al-Quran, doa dan Ruqyah (jampi) tertentu semata- mata yang boleh memberi maksud seolah- olah rawatan melalui pendekatan atau kaedah  lain bukan sebagai rawatan Islam.

Sebenarnya tanggapan seperti ini adalah suatu kekeliruan yang telah lama wujud dalam masyarakat. Ini kerana sebenarnya ungkapan 'rawatan Islam' adalah satu istilah umum bagi apa jua bentuk dan kaedah rawatan yang bertujuan memulih atau mengubati sesuatu penyakit melalui cara dan pendekatan yang tidak bercanggah dengan Syariat Islam.

Sama ada melalui kaedah rawatan yang berdasarkan wahyu ( al-Quran & Hadith) atau berdasarkan kajian dan percubaan. Ia tidak hanya terbatas kepada satu-satu kaedah sahaja. Banyak kaedah rawatan  tergolong dalam pengertian rawatan Islam seperti kaedah tradisional yang berorentasikan pengambilan herba, kaedah akupuntur, urut, refleksi, kaedah guna haba, gelombang, warna dll.

Sebenarnya perubatan Homeopathy malah kaedah- kaedah moden seperti yang diamal di hospital juga jika dipandang dari segi prinsipnya boleh digolong dalam keumuman pengertian rawatan Islam. Ini selama diketahui tidak menggunakan kaedah, cara, bahan yang bertentangan dengan Islam juga selama tidak memberikan mudharat atau membahayakan seseorang itu.

Jika jelas dan terbukti ada percanggahan dengan prinsip dan hukum Syara' atau berlaku kemudhratan yg nyata maka ketika itu hilanglah ciri 'Islamik' tersebut darinya.

Rasulullah saw ada menyebut dalam banyak Hadith tentang berbagai kaedah rawatan yang boleh diamalkan oleh kita seperti berbekam, berpuasa, pengambilan bahan- bahan alami seperti madu, cendawan, jintan hitam, bawang putih dll.

Namun di samping itu semua Rasulullah saw juga pernah mengajarkan suatu bentuk rawatan lain iaitulah rawatan menerusi ayat/bacaan Al-Quran, Ruqyah (jampi) dan doa- doa tertentu. Kaedah perubatan yang berdasarkan Hadith Nabi saw seperti ini dikenali dengan Thibbun Nabawy( rawatan cara Sunnah). Rawatan seperti ini tentunya  menduduki tempat yang lebih istimewa.

(*Menggunakan nama Rawatan Islam semata- mata terkadang boleh mengelirukan apabila rawatan yang diberikan hanyalah menggunakan kaedah terapi al-Quran atau Ruqyah. Maka lebih tepat jika dinamakan seperti Pusat Terapi/Rawatan al- Quran.... atau Terapi ar-Ruqyah.....atau Terapi as- Sunnah... atau pun boleh juga menggunakan nama2 yang sesuai seperti Pusat Rawatan al-Hikmah, al-Kauthar. al-Bayaan dsb tanpa perlu menyebut perkataan Islam.  Ini bagi mengelakkan tanggapan seolah-olah selain kaedah tersebut sebagai bukan  'rawatan Islam'.

AL-HIKMAH ( الحكمة)
Hikmah adalah suatu ilmu yang membicarakan bagaimana menyempurna & mengatasi segala keperluan dan masalah kehidupan manusia baik yang menyangkut urusan dunia mahupun akhirat. Soal perubatan pula termasuk salah satu bidang penting dalam Ilmu Hikmah. Ulama yang mempeloporinya dikenali sebagai Hukama'.

Manakala rawatan kaedah hikmah ini dilihat sinonim dengan rawatan Islam secara umumnya. Ini kerana Ilmu ini juga bersandarkan petunjuk dan asas Syariat di samping itu ia 'diindahkan' lagi dengan anugerah 'ilham' dari Allah swt kepada mereka. Firman Allah swt:


Ertinya: Dia mengurniakan pengetahuan/ kefahaman itu (al-hikmah) kepada sesiapa yang ia kehendakinya. Dan barangsiapa yang diberikan al-Hikmah itu maka sesungguhnya dia telah dianugerahkan suatu kurniaan yang banyak dan tiadalah mahu mengambil pengajaran itu kecuali orang- orang  yg berakal"  
- (Al- Baqarah ayat 269)


Rawatan Hikmah adalah suatu bidang yang sangat luas merangkumi kesemua kaedah rawatan Islam. Banyak sekali karya  dalam bidang ini ditulis oleh ulama besar silam seperti Al-Ghazali, Al-Buuni, Al- Jauzi, As-Suyuthi, An- Nazilie dll yang tak terhitung jumlahnya.

Rawatan Islam dan rawatan Hikmah secara umumnya ialah kaedah- kaedah rawatan yg tidak bercanggah dengan prinsip serta asas ajaran Islam yang kaya dengan berbagai pendekatan dan cara. 

Cuma adakalanya sesetengah kaedah hikmah mungkin dilihat agak luar biasa malah ada yang gopoh menghukumnya Bid'ah. Sebenarnya orang yang suka menghukum pihak lain sebagai sesat atau bidaah hanya kerana perkara tersebut "tak dibuat oleh Nabi saw" sewajarnyalah mempelajari kaedah2 usul dan prinsip hukum yg lima (wajib, sunat, harus, haram dan makruh)sebelum dengan mudah menghukum sesuatu atau seseorang itu sebagai sesat atau bidaah. Ini kerana istilah Bidaah itu sendiri bukannya merujuk kepada hukum lima tersebut. Perkara bidaah yg dilarang atau sesat itu ialah dlm soal2 Aqidah atau ibadah khusus yang  dilarang melakukan tokok tambahnya.

Adapun dalam soal2 kehidupan lainnya seperti masalah perubatan, pekerjaan manusia dll sekalipun ia tidak dilakukan oleh Nabi saw tiada pula larangan mengerjakannya asal ia tidak bercanggah dengan hukum Syariat yang nyata  atau selama  tiada dalil atau nas khusus yang melarangnya. 


Ada orang yang keliru lalu mudah menghukum seseorang perawat itu  sesat,bidaah dsb semata-mata apabila perawat tersebut melakukan sesuatu amalan atau kaedah rawatan tertentu yang mungkin tidak popular di sisinya atau tidak diketahuinya. Namun bila dihalusi  ternyata ia sebenarnya yang keliru kerana apa yang dilakukan perawat itu sebenarnya masih tidak bercanggah dengan Syariat. Bak kata pepatah " bukan tiap2 yang masyhur (popular) itu mesti sebenarnya".

RAWATAN DENGAN AL-QURAN

Sesungguhnya rawatan secara Quranik tergolong dalam rawatan Hikmah yg utama malah ia memiliki ciri- ciri khusus. Ia bersifat holistik berbanding rawatan Islam lain.
Sesetengah pengamal kaedah al-Hikmah  khasnya para Hukamak ada mendapat anugerah Allah (Futuhaat Ilahiyyah) swt  seperti yang disebutkan sebagai suatu pertolongan Allah dalam melakukan sesuatu amalan hikmah itu. Bagi kita yang mempercayai adanya Ilhaam, Karomah dan Ma'unah (iaitu anugerah pertolongan Allah swt bagi hamba- hambanya yg soleh) perkara ini tidaklah asing lagi. Samada ia berupa perkara luar biasa atau suatu perkara hebat yang susah hendak dilakukan oleh manusia lain. Soal ketaqwaan dan keimanan adalah syarat dan asas utama bagi segala amalan mereka.

Namun seperti yg dimaklumi bukanlah semua perkara ajaib atau luar biasa   itu anugerah pertolongan Allah swt kerana perkara- perkara negatif, jahat juga punyai ciri-ciri 'keluarbiasaan'nya seperti sihir, ilmu hitam dsb.  Cuma yang satu diredhai Allah dan yang satu lagi dimurkainya.

Cukuplah bila disebutkan al-Hikmah adalah suatu anugerah Allah swt kpd hambanya bila mana ia menjadikan al-Quran , ketaqwaan sebagai jalan dan pegangan hidupnya. Berbeza dgn umpama amalan sihir dsb yg menjadikan syaitan dan perkara kufur sebagai mainan hidupnya. Banyak perkara zahirnya nampak serupa atau seiras..tapi hakikatnya masih jauh berbeza atau tidak sama. Hanya orang berilmu  boleh mengenal pasti dan membezakan antara dua perkara 'hebat' dan 'luarbiasa' tersebut.

Rawatan mengunakan al-Quran ada mempunyai berbagai pendekatan dan kaifiat. Antaranya ada yang dibacakan ayat/ surah tertentu kepada pesakit secara langsung. Ada pula yang dibacakan pada benda/ objek tertentu seperti air,minyak dsb.

Malah ada kalanya dengan  ditulis ayat atau Surah tertentu di atas pinggan, piring putih atau kertas dsb dengan menggunakan tinta suci tertentu. Menulisnya pula haruslah  dengan kaifiat dan cara tertentu...kemudian dilarutkan dengan air (samada untuk diminum, disapu atau dimandi oleh pesakit) dan beberapa cara lagi.

Biasanya pada setiap kali rawatan disertakan pula dengan Ruqyah (jampi), zikir- zikir, selawat dan doa- doa tertentu.

Dalam sebuah Hadith Nabi saw menyebutkan:
الفاتحة شفاء من كل داء - روا ه مسلم
“ Al- Fatihah itu adalah penawar bagi semua penyakit ”- (riwayat Muslim) dan juga sabda Baginda s.a.w :
خير الدواء القرءان- رواه ابن ماجه
“ Sebaik-baik ubat adalah al- Quran ” - ( riwayat Ibnu Majah)

Semua ini sesuai dengan maksud ayat 82 Surah al- Isra’ yang menyatakan Al-Quran itu diturunkan sebagai Syifaa’ (penawar) dan Rahmat bagi kaum mukminin. Rawatan dengan al-Quran mempunyai kaifiat dan rahsia tertentu dimana ilmu ini diperolehi menerusi bimbingan dan‘ijazah'dari seseorang guru.

Namun ia bukanlah suatu yang sukar untuk dipelajari. Banyak kitab peninggalan para Hukama’ silam yang boleh dijadikan rujukan dan panduan. Namun dewasa ini agak kurang yang boleh membimbing dan mengajar kitab dan ilmu tersebut. Oleh itu tidaklah semua yang bergelar ustaz mesti tahu dan mampu mempraktikkannya kerana ilmu seperti ini jarang dijadikan kursus di universiti kecuali sekadar menelaahnya secara 'sambil lalu' sahaja.

Sewajarnya kita merujuk dan bertanya kepada mereka yang ahli di bidang tersebut jika ada sebarang kemusykilan yang timbul. Maksud Firman Allah swt :
“Bertanyalah kamu kepada ahli sesuatu perkara itu jika kamu tidak mengetahui"

(Bak kata pujangga "manusia suka memusuhi apa yang ia tidak tahu". Maka sering kita dapati si fulan menyalah, mem'bid'ah' atau menyesatkan si fulan yang lain semata-mata kerana ada suatu perkara yang ia kurang tahu atau fahami sebaiknya. Apalagi jika ada sesuatu kelebihan itu ia sendiri tidak boleh lakukan. Umpama seseorang yang tidak mampu mendaki gunung yang tinggi akan mengatakan kepada orang lain bahawa kerja tersebut adalah pekerjaan sia-sia atau merbahaya semata-mata kelemahannya mendaki gunung itu jua. Walhal dalam kitab- kitab ulama/hukama silam sarat dengan bermacam-macam hikmah, keajaiban dan kehebatan yang boleh diperolehi melalui berkat & mukjizat al- Quran itu sendiri)


sumber 
An-anwaa

Thursday, July 14, 2011

konsep perubatan islam


Allah s.w.t. berfirman (Al-Quran: al-Isra': 82):
Dan Kami turunkan daripada al-Quran itu sesuatu yang menjadi penawar
dan rahmat bagi orang yang beriman.
Dalam surah Fussilat:44 pula terdapat firman Allah:
Katakanlah bagi mereka yang beriman, al-Quran itu adalah petunjuk dan
penawar bagi mereka yang beriman. Mereka yang tidak beriman, pada
telinga mereka ada sumbatan, sedangkan al-Quran itu sesuatu kegelapan
bagi mereka. Mereka ini adalah seperti orang yang dipanggil dari tempat
yang jauh.
Sesetengah ahli tafsir menerangkan perkataan yang terdapat dalam surah di
atas (al-Isra':82) bukan Iit-tab'id , bererti bahawa al-Quran itu keseluruhannya
adalah penawar, bukan sebahagian daripadanya sahaja. AI-Quran boleh digunakan
untuk menangani sakit fizikal juga sakit yang berkaitan dengan hati, jiwa dan roh,
seperti kejahilan, kesesatan dan sebagainya. Kesejahteraan fizikal berkait rapat
dengan kesejahteraan hati. Mengenainya. Rasulullah s.a.w. ada bersabda:
Sesungguhnya pada jasad itu ada seketlul daging, apabila ia sejahtera,
maka sejahteralah keseluruhan jasad. Dan apabila rusak akan dia, maka
rusaklah keseluruhan jasad, iaitu hati. (Muttafaq 'alaih).
Menurut Ahmad Mahmud (1994:18), hal demikian tidak bererti bahawa al-Quran itu
digunakan sebagai tangkal, ataupun azimat, kerana baginda Rasulullah s.a.w. tidak
berbuat demikian dan tidak menyuruhnya, bahkan baginda adakalanya melakukan
rawatan dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran dan bahan-bahan semula jadi
untuk merawat dirinya. Baginda menyuruh mereka yang sakit, yang terdiri daripada
kaum keluarga juga para sahabat agar berbuat demikian.
Baginda juga melakukan rawatan bergantung kepada punca penyakit. Baginda
bersabda:
Sesungguhnya bagi setiap penyakit itu ada ubat. Maka apabila ubat itu
serasi dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah 'azza wajalla
(Riwayat Muslim dari hadis Abi Az-Zubair dari jabir dari Rasulullah).
Menurut Muhammad Mahmud (1992:28-29), al-Quran, sama ada keseluruhannya
ataupun sebahagian daripada ayatnya adalah setinggi-tinggi penawar dan ubat
paling utama. Setiap huruf yang terkandung padanya merupakan penawar
penyakit jiwa, melahirkan ketenangan, penawar sakit dalaman dan luaran dengan
syarat adanya iman terhadap Allah, Pencipta segala yang wujud, yang menurunkan
al-Quran. Allah memberitahu bahawa al-Quran itu diturunkan sebagai peringatan
kepada manusia dan penawar bagi hati orang yang beriman (at-Taubah:30).
Dalam sebuah hadis daripada Ali bin Abi Talib r.a. disebutkan tentang sabda
Rasulullah s.a.w. yang berbunyi:
(Sebaik-baik ubat itu adalah al~Quran –Riwayat at-Tarmizi).
Sebuah hadis lain dariliada Abu Said al-Khudri menyatakan adanya seorang lelaki
yang-telah datang menemui baginda Rasulullah s.a.w. mengadu dadanya sakit.
Baginda memberitahunya agar membaca al-Quran, kerana Allah s.w.t. ada
berfirman:
(Al-Q uran itu adalah penawar penyakit yang ada dalam dada).
Sebuah hadis lain, iaitu hadis daripada Jabir bin Abdullah menyatakan bahawa
Al-Fatihah itu adalah penawar semua penyakit kecuali maut)
- Riwayat Ibn Rahuwiyah daripada Ali r.a.
Pada satu hari seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w. mengadu
kedua matanya sakit, lalu baginda berkata kepadanya:
(Lihatlah pada mashaf al-Quran).
Allah s.w.t. menjadikan manusia itu terdiri daripada tiga unsur utama, iaitu jasad,
roh dan akal. Allah meniupkan roh, setelah janin dalam perut ibu cukup sifatnya
(al-Hijr': 29). Ketika itu janin tadi hidup. Gabungan daripada roh insaniah dan akal
meletakkan maqam manusia itu lebih mulia berbanding dengan makhluk lain di
muka bumi ini, termasuk jin dan malaikat, membolehkan mereka menjadi khalifah
(a]-Baqarah:30), mentadbir muka bumi., dengan syarat mereka hendaklah beriman
kepada Allah. Andainya mereka tidak beriman, melanggar perintah Allah, maqam
mereka adalah lebih hina daripada binatang (A]-A'raf: 38).
Seperti jasad, roh juga memerlukan penjagaan yang rapi untuk memperoleh
kesejahteraan. Roh yang tidak sihat mencetuskan sakit yang berkaitan dengan roh
ataupun hati, seperti sifat takabur, riak, tamak, sifat hasad dan sebagainya. Sakit
yang berkaitan dengan roh akan melahirkan tingkah laku jahat manusia,
menyebabkan mereka lebih berkecenderungan melakukan kejahatan. Sakit
dalaman seperti ini merupakan ransangan utama yang akhirnya tercetus melalui
perlakuan jasad. Kerana itulah dikatakan bahawa kesejahteraan roh memberi
kesan pada kesejahteraan fizikal.
Roh adalah urusan Ilahi (Isra': 85). Roh yang sakit perlu dirawat dengan penawar
yang menepati Ar-Ruhiyyah asy-syar'iyyah yang melibatkan iman. Menurut. Riyad
Muhammad Samahah dalam bukunya bertajuk Dalilu aI-Mua'lijin bi aI-Qurani aIKarim,
sakit seperti ini, paling sesuai dirawat menggunakan al-Quran, doa-doa dan
sebagainya.
PRINSIP ASAS PERUBATAN
Setiap penyakit ada ubatnya. Allah s.w.t. yang menjadikan penyakit, Dialah yang
menyediakan ubatnya. Setiap sesuatu mempunyai sebab yang boleh dikaitkan
dengan tingkah laku manusia yang secara langsung berkaitan dengan rahsia llahi
yang tidak difahami oleh manusia.
Allah s.w.t. memerintahkan pesuruhnya, iaitu Muhammad s.a.w. agar memberitahu
mereka yang bertanyakan tentang roh, bahawa roh itu adalah urusan Ilahi
(Isra':85). Setiap sesuatu yang berlaku, termasuk penyakit dan masalah manusia
mempunyai sebab musabab. Pencipta sebab itu ialah Allah, al-Khaliq, yang
berkuasa melakukan sesuatu. Apabila ia hendak menjadikan sesuatu dan berkata:
jadilah, maka jadilah (Yasin: 82).
Asas Perubatan
Asas perubatan ada dua, iaitu penjagaan diri dan rawatan. Penjagaan diri lebih
baik daripada merawatnya. Allah s.w.t. melarang orang yang beriman daripada
membinasakan dirinya (al-Baqarah:195), tidak kira sama ada pembinasaan itu
melibatkan pemakanan yang memberi mudarat, yang terlarang, berlebihan dan
sebagainya. Allah s.w.t. menyuruh setiap orang itu makan dan minum, tetapi
melarang daripada mengambilnya berlebihan (al-Anam: 141).
Rasulullah s.a.w. ada bersabda:
(Perut itu ialah tempatpenyakit).
Menurut Shamsuddin Muhammad (t.t.:13), keperluan pada makanan itu ada tiga
tahap; iaitu semata-mata untuk keperluan, mencukupi dan berlebihan. Rasulullah
s.w.t. memberitahu bahawa makanan itu mencukupi dengan suapan kecil yang
menguatkan tulang belakang, ataupun makan memenuhi satu pertiga daripada
ruang perut, satu pertiga lain untuk air manakala yang bakinya untuk bernafas.
Inilah kaedah utama yang paling memberi manfaat pada penjagaan badan, kerana
perut itu tumpuan penyakit. Perut apabila penuh dengan makanan ruang minuman
menjadi sempit. Apabila minuman itu berlebihan, ruang bagi bernafas menjadi
sempit, menyebabkan seseorang itu sukar bernafas, penat dan terasa berat.
Semuanya ini menyebabkan berlakunya kerosakan hati, pergerakan tubuh menjadi
lembab dan malas untuk melakukan ketaatan dan membangkitkan nafsu syahwat.
Kesihatan adalah nikmat yang besar yang sering terabai. Sebuah hadis daripada
Ibn Abbas menyatakan tentang adanya seorang Arab yang bertanyakan Rasulullah
s.a.w. apa yang perlu ia pohon setiap kali selepas sembahyang lima waktu.
Baginda menjawab agar ia memohon kesihatan daripada AIlah. Lelaki tersebut
merasa tidak puas hati dengan jawapan tadi. Setelah bertanya buat kali ketiga,
baginda akhirnya menjawab agar ia memohon kesihatan di dunia dan akhirat.
Sesetengah ahli tafsir menyatakan bahawa yang dimaksudkan dengan kalimah
" " yang tersebut dalam ayat al-Quran (at-Takathur:8):
yang akan ditanya oleh Allah terhadap hambanya pada hari kiamat kelak ialah
kesihatan. Dalam sebuah hadis lain, daripada Abu Bakar as-Siddiq, menyatakan
yang ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
Pohonlah kepada Allah keyakinan dan kesihatan. Tidak ada yang lebih baik
yang didatangkan kepada seorang selepas keyakinan itu selain kesihatan –
(Riwayat An-Nasaiy)
Kebersihan
Selain daripada bersifat sederhana dalam pengambilan makanan, kesihatan
memerlukan kebersihan, iaitu pada makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal
dan sebagianya. Kebersihan adalah faktor utama bagi kesihatan luaran dan
dalaman diri. Allah s.w.t. menegaskan agar setiap orang yang hendak
sembahyang membasuh muka, tangan, menyapu kepala dan kaki (al-Maidah:7).
Mesti bersih badan, tempat sembahyang dan pakaian kerana amalan seperti ini
membawa kepada kesihatan badan dan roh. Sesungguhnya Allah s.w.t. itu
sukakan orang yang bertaubat dan orang yang menyucikan diri (al-Baqarah: 222).
Penyakit Berjangkit
Rasulullah s.a.w. juga mengajar agar setiap orang itu menjauhkan diri daripada
penyakit berjangkit. Rasulullah s.a.w. seperti yang disebut dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Abu Naim, seperti yang tersebut dalam "At-Tibbu an-
Nabawi" tidak mengauli isterinya yang sakit mata, sehinggalah sembuh.
Daripada Ibn Abbas ia berkata, telah bersabda Rasulullah s.a.w.; jangan
kamu amalkan memandang mereka yang sakit kusta - Riwayat Ibn Majah.
Tersebut dalam at-Tibbu 'an-Nabawi bahawa sakit kusta itu ialah penyakit yang
berjangkit dan sakit keturunan. Baginda menegah seseorang itu daripada terus
menerus memandang mereka. Baginda juga pernah mengumpulkan para pesakit
kusta untuk hidup di kalangan mereka. Menurut Ibn Qutaibah, sakit ini boleh
menjangkiti mereka yang menghampiri pesakit dengan perantaraan bau. Ciuman
bau merupakan salah satu cara jangkitan.
Dalam sebuah hadis riwayat oleh A-bu Daud dan at-Tarmizi daripada Usamah bin
Syuraik ia berkata bahaiwa orang-orang Arab telah bertanya kepada Rasulullah
sama ada mereka perlu berubat. Baginda menjawab:
Ya, wahai hamba Allah, berubatlah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan
penyakit kecuali ia telah menetapkan baginya penawar kecuali satu.
Mereka bertanya, apakah yang satu itu, baginda menyatakan:
iaitu tua.
(Hadis Hasan Sahih. Lafaz oleh At-Tarmizi)
Setiap Penyakit ada ubatnya
Ternyata bahawa setiap penyakit itu ada ubatnya. Allah s.w.t. memberi penyakit,
Allah juga telah menetapkan ubat ataupun penawarnya, kecuali tua. Berdasarkan
keterangan hadis ini juga difahamkan bahawa tua itu adalah termasuk dalam
kategori penyakit, tidak kira sama ada tua itu benar-benar penyakit, ataupun ia
merupakan satu evolusi yang semestinya dilalui oleh semua manusia, yang
biasanya disertai dengan pelbagai penyakit dan masalah, yang tidak ada
penawarnya, ataupun ubat membolehkan orang yang tua menjadi muda, kerana
setiap orang itu mempunyai had umur. Apabila tiba masa mati, ketentuan itu akan
datang tanpa dapat dielakkan (al-A'raf:33). Maut adalah penghujung setiap
kehidupan, segala-galanya telah ditetapkan di Loh Mahfuz (al-An'am: 38).
Keterangan di atas membuktikan bahawa telahan mengenai umur seseorang sama
ada panjang ataupun pendek itu adalah urusan Ilahi. Begitu juga dengan harapan
untuk hidup ataupun untuk sembuh biarpun manusia melalui pengalaman yang
dilalui menurut lazimnya dapat menjangkanya.
Allah menurunkan penyakit. Dan setiap penyakit, sama ada sakit fizikal, mental
ataupun yang berkaitan dengan hati ada penawarnya. Rasulullah s.a.w. menyuruh
agar setiap orang yang sakit berusaha untuk berubat dengan pertolongan orang
lain yang pakar dalam bidang yang dimiliki, ataupun oleh diri sendiri. Jelas terbukti
bahawa tugas manusia di sini ialah berusaha untuk mendapatkan kesembuhan
menurut keupayaan dan kemajuan akal tanpa putus asa. Usaha dan ikhtiar adalah
tugas manusia manakala kesembuhan adalah urusan Allah yang telah ditetapkan
termaktub di Loh Mahfuz.
Allah s.w.t. apabila menghendaki kebaikan itu berlaku ke atas hambanya, Ia akan
menyegerakan balasan terhadap dosa-dosa yang dilakukan. Seorang lelaki telah
mengadu kepada Rasulullah s.a.w. menyatakan harta bendanya telah habis,
manakala badannya terasa sakit. Baginda menjawab yang bermaksud:
Tidak baik seorang hamba yang tidak hilang hartanya dan tidak sakit badannya.
Sesungguhnya Allah s.w.t. apabila ia mengasihi seseorang hamba Ia akan
mengujinya, dan apabila ditimpa bala maka Allah akan memberi kesabaran.
Kifarah
Kifarah adalah balasan Allah di dunia akibat dosa yang dilakukan oleh seorang
hambanya, juga ujian-ujian Allah itu boleh berlaku, yang mungkin melibatkan
kematian orang yang dikasihi, kehilangan harta benda ataupun penyakit, tidak kira
sama ada penyakit tersebut berlaku dalam tempoh masa yang lama ataupun
sekejap bergantung kepada ketentuan (qada') Ilahi atau buat selama-lamanya
sehingga mati. Selagi ketentuan (qada') bagi sakit itu belum menepati qada' Allah,
maka sakit (kifarah) tadi tidak akan sembuh biarpun pelbagai usaha dilakukan oleh
manusia jelas di.sini membuktikan bahawa ada di antara penyakit itu akan sembuh
dengan sendiri biarpun tanpa usaha manusia untuk mendapatkan kesembuhan
ataupun tidak akan sembuh biarpun banyak usaha untuk menyembuhkannya telah
dilakukan.
Sesungguhnya, apabila Allah s.w.t. itu mengaishi seseorang hamba Ia akan
mengujinya. Dan apabila Ia mengujinya, sama ada dengan menurunkan penyakit
dan sebagainya, Allah akan memberikan kesabaran. Dalam menghadapi cubaan
seperti ini, kesabaran adalah paling utama. Sesungguhnya orang yang bersabar
akan diberikan pahala mereka tanpa hisab (az-Zumar: 10).
Allah s.w.t. menetapkan martabat seseorang pada maqam-maqam tertentu.
Namun amalan-amalan yang dilakukan olehnya tidak membolehkannya mencapai
martabat yang ditetapkan. Untuk membolehkan hamba berkenaan mencapai
martabat tadi, Allah akan mengujinya, mungkin dengan menurunkan bala ke
atasnya, seperti sakit, kehilangan pancaindera dan sebagainya. Apabila diberi
ujian maka Allah akan memberi kesabaran. Dengan ini hamba berkenaan akan
mencapai martabat tersebut. Demikianlah kehendak Allah terhadap hambanya
yang dikasihi.
Sayyidatina Aishah ada berkata, bahawa baginda Rasulullah ada bersabda yang
bermaksud: Tidak menimpa ke atas seorang mukmin satu kecelakaan, biarpun duri,
ataupun lebih daripada itu, melainkan Allah akan menggugurkan dengannya satu
dosa. (Maksud hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslirn)
Dalam sebuah hadis lain Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda yang bermaksud:
Rintihan orang sakit tercatat sebagai tasbih, kegelisahan dan jeritannya sebagai
tahlil, nafasnya seumpama sedekah, tidurnya sebagai ibadah dan kegelisahannya,
daripada satu,bahagian ke satu bahagian lain adalah bagaikan jihad kerana Allah
s.w.t. dan ditulis baginya sebaik-baik amalan yang pernah dilakukan semasa sihat.
Tidak dinafikan bahawa setiap sesuatu itu berlaku, mempunyai sebab musabab,
dan boleh dikaitkan dengan tingkah laku manusia, namun pada hakikatnya di
sebalik fakta-fakta yang dapat diterima akal rasionalnya, qada' dan qadar Ilahi itu
mengandungi rahsia-rahsia Ilahiyah yang tidak difahami oleh manusia.
Jelas disini membuktikan bahawa setiap pihak itu perlu memainkan peranan
masing-masing. Rasulullah s.a.w. menyuruh orang yang sakit agar berubat.
Pakar-pakar perubatan perlu berusaha, menyelidik dan mencari
penemuanpenemuan baru untuk menangani penyakit berdasarkan latar belakang
dan kepakaran masing-masing. Masalah kesembuhan adalah urusan Tuhan.
Semakin banyak dan mendalam penyelidikan dilakukan, seseorang itu akan lebih
insaf dan menyedari bahawa terlalu banyak ilmu yang tidak diketahui olehnya,
menyedarikan betapa terhadnya ilmu yang dimiliki berbanding dengan ilmu Allah.
Dari pengalaman seperti ini dan pengalaman harian menangani penderitaan, akan
lahir golongan manusia yang berupaya bersyukur kepada Allah dengan
menggunakan kepakaran yang dimiliki untuk menolong manusia, bukan untuk
kepentingan diri yang terlalu mengutamakan keuntungan, atau pun untuk
mengagungkan diri.
Ajal ditentukan oleh Alllah
Allah s.w.t. yang menentukan ajal. Apabila tiba masa, Allah akan memerintahkan
malaikat maut mencabut nyawa seseorang, menepati masa yang telah ditetapkan.
Ketika itu malaikat akan tahu ketentuan ajal seseorang, dan tidak mengetahui
sebelum itu. Hujah ini membuktikan bahawa ramalan-ramalan ahli-ahli nujum yang
memperkatakan tentang ketentuan ajal, adalah bertentangan dengan ajaran Islam.
Begitu juga dengan mereka yang terlibat dengan rawatan, jangkaan hayat itu boleh
diagak, sembuh atau tidak sembuh berdasarkan pengalaman dan kajian
kepakaran, namun ketentuan ajal tetap di tangan Tuhan.
Walaupun demikian, biarpun kematian itu tidak boleh diramalkan, namun semua
orang faham semakin lanjut umur seseorang, bererti semakin pendeklah kadar
hayat kerana setiap orang itu mempunyai ketetapan umur. Biar dalam keadaan apa
sekalipun, pesakit perlu diberi harapan. Sebuah hadis daripada Abu Said alKhudri
r.a. ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w. ada bersabda:
Apabila kamu semua mengunjungi pesakit, hiburkanlah dia dengan lanjut
umur. Memang hiburan itu tidak menolak ketentuan Allah sedikit pun, dan
sebaliknya menyenangkan hatinya - Riwayat At-Tarmizi dan Ibn Majah.
Rasulullah s.a.w. juga meminta agar dibacakan Yasin di sisi orang yang hampir
mati:
Bacalah Surah Yasin di sisi orang yang menghadapi mati di kalangan kamu -
Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah.
Surah Yasin dibaca tidak semestinya kerana ajal seseorang itu telah hampir, tetapi
ia dibaca agar orang yang berada dalam keadaan tenat itu disembuhkan Allah
s.w.t. andainya nyawanya masih panjang, ataupun diambil nyawanya dalam
keadaan tenang sekiranya ajalnya telah hampir, kerana Surah Yasin itu dibaca
menurut niat pembacanya.
Jauhi Bahan Ubat yang diharamkan oleh Allah
Sebuah hadis daripada Abu Ad-Darda' menyatakan:
Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan ubat. Dan menyediakan
bagi setiap penyakfi itu ubat. Maka berubatlah, dan jangan berubat dengan
benda yang diharamkan - Riwayat Abu Daud.
Sebuah hadis riwayat, daripada Abu Hurairah menyatakan:
Barang siapa berubat dengan benda yang halal maka baginya kesembuhan,
Dan barangsiapa berubat dengan benda haram, Allah tidak akan
memberinya kesembuhan - Riwayat Abu Daud.
Dalam sebuah hadis lain baginda telah ditanya tentang arak yang dijadikan ubat.
Baginda menjawab menyatakan: Bahawa arak itu adalah penyakit bukan ubat.
Baginda juga menegah berubat dengan sesuatu yang kotor (al-khabth).
Ibn Arabi menjelaskan yang dimaksudkan dengan perkatan "al-khabth" di sini
menurut kata Arab bermaksud sesuatu yang tidak digemari. Andainya ia dirujuk
kepada percakapan, bererti celaan, pada agama bererti kufur. Andainya dirujuk
pada makanan bererti haram. Dalam sebuah hadis lain riwayat Azwad, dijelaskan
bahawa ubat yang kotor itu adalah seperti racun.
Sayyidatina Aisyah r.a. telah meriwayatkan sebuah hadis yang menyatakan
bahawa Rasulullah s.a.w. ada bersabda yang bermaksud: "Setiap benda yang
memabukkan adalah haram. Setiap sesuatu yang banyak memabukkan, maka
sukatan sedikit, seperti satu genggam kecil juga haram hukurnnya (Maksud hadis
riwayat At-Tarmizi dan Abu Daud)"
Menurut satu riwayat daripada Abu Saleh Muhamad bin Al-Hasom dan Ishak bin
Ibrahim dan Harb, Abdullah, Al-Atram dan Ibrahim bin Al-Harta bahawa Rasulullah
s.a.w. telah mengharamkan daging keldai dan susunya dalam peperangan Khaibar,
dan mengharuskan minum kencing unta ketika darurat. Manakala mengambil ubat
yang boleh menyebabkan mabuk makruh hukumnya.
Menurut Imam Ahmad, harus merujuk satu-satu kes penyakit kepada tabib yang
terdiri daripada ahli zimmah mengenai ubat yang diharuskan, dan tidak perlu
menurut nasihatnya sekiranya ubat yang dicadangkan itu terdiri daripada ubat-ubat
yang diharamkan seperti arak dan sebagainya. Begitu juga tentang pendapatnya
mengenai puasa, keharusan berpuasa, sembahyang duduk dan sebagainya.
Pandangan seperti ini tidak boleh diterima, kecuali daripada dua orang Islam yang
adil, yang terdiri daripada pakar perubatan.
Menurut al-Marwazi, Imam Ahmad telah menyuruhnya agar tidak membeli ubat
yang dicadangkan oleh orang Nasrani, andainya tidak diyakini ubat itu selamat
daripada campuran benda-benda haram yang terdiri daripada benda-benda yang
beracun, najis dan sebagainya.
Sebuah hadis daripada Ummu Atiyyah, ia berkata, bahawa ia pernah menyertai
peperangan sebanyak tujuh kali bersama Rasulullah s.a.w. di belakang kaum lelaki,
dan bertugas menyediakan makanan, memberi minum kepada mereka yang cedera
dan merawat mereka yang sakit.( Maksud hadis riwayat oleh Muslim, Ibn Majah
dan Ahmad.)
Imam Ahmad berpendapat bahawa para tabib diharuskan melihat aurat perempuan
ajnabiah ketika darurat, begitu juga sebaliknya. AI-Marwazi pula berpendapat
harus menggunakan khidmat perempuan ajnabiah ketika seseorang lelaki itu sakit
begitu juga sebaliknya, dan diharuskan melihat sebahagian daripada auratnya
kerana hajat iaitu ketika ketiadaan lelaki ataupun mahramnya. Kaum wanita juga
harus memandikan mayat lelaki ketika tidak ada kaum lelaki untuk
memandikannya.
Begitu juga harus bagi kaum wanita mengambil ubat untuk memberhentikan
haidnya sekiranya ubat itu diyakini tidak memberi mudarat, iaitu sekiranya ia tidak
mempunyai suami, andainya ia mempunyai suami, keharusan itu bergantung
kepada izin suami (Abi Abdullah Mohammad, 1984:237).
HUKUM DAN AMALAN
Kaedah perubatan Islam sering disalah ertikan oleh masyarakat, dimana konsep
tersebut sering merujuk kepada:
1. Kaedah rawatan yang menggunakan doa-doa, yang merangkumi pelbagai
ungkapan kata yang mengandungi kata-kata pengaruh Islam, seperti
penggunaan kalimah salam, bismillah, nama-nama nabi dan rasul-rasul,
nama-nama malaikat, kalimah barakat dan sebagainya, termasuk kalimah
syahadah.
2. Anggapan seperti ini mencetuskan pemahaman seolah-olah kaedah-kaedah.
rawatan lain, selain daripada kaedah di atas, tidak termasuk dalam kaedah
yang dinamakan "Rawatan Islam" atau "Perubatan Islam". Mereka kata
bidang rawatan lain terkeluar daripada apa yang diistilahkan sebagai
Rawatan Islam.
Rasulullah s.a.w. ada bersabda menyatakan bahawa, kalau tidak kerana.tiga
perkara, manusia tidak akan insaf menundukkan kepalanya, iaitu kefakiran,
sakit dan kematian. Kebanyakan manusia akan mengingati Allah ketika
dalam keadaan susah, lalu dalam keadaan "desperate" dan putus asa
berdoa, untuk mengatasi penderitaan yang ditanggung. Jelas di sini
menunjukkan bahawa berdoa itu seolah-olah menggambarkan amalan
manusia yang telah putus asa, tidak ada harapan dan ikhtiar lain. Kerana itu
timbul tanda tanya yang boleh dijadikan ejekan atau senda, bagaimanakah
orang yang berdoa, yang biasanya terdiri daripada mereka yang putus asa,
tidak berupaya mengatasi masalah diri sendiri hendak melakukan rawatan.
4. Oleh kerana perubatan Islam itu diberi satu ruang lingkup terhad, yang
hanya merangkumi doa-doa ataupun ungkapan kata yang mengandungi
pengaruh Islam, mereka yang berpendidikan agama sering dianggap
sebagai berupaya menguasai bidang ilmu ini, kerana mereka ini dianggap
sebagai golongan yang menguasai pembacaan doa-doa dan sebagainya,
padahal ilmu perubatan tersebut adalah satu bidang ilmu khusus, di mana
didikan agama, biarpun di mana kurikulum pembelajaran itu didedahkan, ia
tidak merangkumi bidang Rawatan Islam yang melibatkan doa-doa. Dari
sinilah lahirnya golongan agama sendiri yang menafikan keperluan doa
sebagai salah satu kaedah rawatan.
Situasi seperti ini menyebabkan mereka yang melibatkan diri menggunakan doa doa
untuk tujuan rawatan sering menghadapi pandangan sinis, sindiran dan
cemuhan daripada mereka yang menafsirkan bahawa bidang yang mereka ceburi
itu sebagai terkeluar daripada Rawatan Islam, daripada golongan agama, dan
dianggap sebagai menggugat profession mereka yang melibatkan diri dengan
rawatan perubatan Melayu tradisional.
Memang benar kaedah perubatan Islam yang difahami umum sekarang ini
tertumpu kepada amalan-amalan yang mengandungi doa-doa yang terdiri daripada
ayat-ayat al-Quran, hadis-hadis, doa-doa al-ma'thurat, doa-doa para salihin, doa doa
yang diamalkan oleh orang Melayu tradisional yang diyakini tidak bertentangan
dengan ajaran Islam, di samping penggunaan bahan-bahan tertentu, yang tidak
terlarang terutamanya air. Walaupun demikian, amalan dan kaedah ini tidak
mendakwa bahawa kaedah tersebut mencakupi keseluruhan apa yang difahami
sebagai "Perubatan Islam" yang disalahertikan dan menolak secara total atau
menafikan lain-lain kaedah rawatan termasuk rawatan di hospital dan klinik.
Ilmu seperti ini sesuai bagi mereka yang tidak mempunyai latar belakang perubatan
'alopathi' formal, terutamanya mereka yang berpendidikan agama, yang secara
langsung banyak mempelajari ilmu-ilmu al-Quran, hadis-hadis dan syariah Islamiah.
Walaupun demikian, ilmu seperti ini akan lebih mudah dan banyak memberi
manfaat dan sumbangan kepada mereka yang berlatar belakangkan orientasi
perubatan alopathi yang beragama Islam, kerana kaedah-kaedah dan bacaan bacaan
yang dituturkan adalah berlandaskan ajaran Islam yang perlu dijadikan
ikutan oleh umatnya. Dalam masa yang sama adalah difahami bahawa penyakit
pada hakikatnya berpunca daripada sebab yang banyak dan berbeza, yang
memerlukan rawatan yang berbeza menurut kesesuaian atau keserasian.
Masyarakat pada umumnya tidak dapat membezakan antara kaedah perubatan
Islam yang menggunakan doa-doa dan kaedah rawatan Melayu tradisional.
Rawatan yang menggunakan ungkapan kata yang mengandungi unsur-unsur Islam
seperti yang dijelaskan, tidak membuktikan bahawa kaedah yang diamalkan itu
merupakan kaedah perubatan Islam yang sebenar. Tukang-tukang tilik dan ramal
yang melibatkan diri dengan rawatan Melayu tradisional juga memanggil jin-jin
untuk melakukan sihir dengan menyebut kalimah-kalimah yang kedengaran seperti
sebutan a'uzubilLah, menyebut kalimah salam, sebutan nama-nama nabi, termasuk
kalimah syahadah. Keadaan seperti ini selain melahirkan keraguan dan
kecelaruan, ia juga memberi imej buruk terhadap mereka yang melibatkan diri
dengan kaedah Perubatan Islam yang menggunakan doa-doa seperti yang
dijelaskan.
Sebahagian daripada mereka yang melibatkan diri dengan rawatan Melayu
tradisional berdampingan dengan makhluk-makhluk halus, yang dibela, dibuat
sahabat ataupun saudara. Dari sinilah lahirnya mereka yang dikatakan mempunyai
kelebihan menilik pelbagai punca penyakit, meramal perkara-perkara ghaib, yang
telah berlaku dan yang akan datang, juga melibatkan diri dengan amalan sihir.
Inilah di antara kandungan ilmu kebatinan Melayu yang masih diamalkan sehingga
sekarang ini. Kekuatan atau keupayaan mereka pada hakikatnya terletak pada
sokongan makhluk-makhluk halus yang berdampingan, yang pada kebiasaannya
dilakukan ketika dalam keadaan menurun. Oleh kerana kekuatan yang mereka
miliki terjadi dengan sokongan makhluk-makhluk tadi maka kebanyakan sakit
dikatakan berpunca daripada gangguan makhluk-makhluk halus.
Oleh kerana penyakit itu sering dirujuk sebagai berpunca daripada makhlukmakhluk
halus yang terdiri daripada iblis dan syaitan ataupun sihir, yang
menyebabkan gangguan, ataupun lain-lain penyakit, pada hal ia sebenarnya
mungkin berpunca daripada lain-lain faktor, yang dapat dibuktikan seperti
ketegangan, ketidakseimbangan, kecederaan, akibat gangguan agen-agen parasit
seperti virus, kuman, kulat, toksin dan sebagainya, maka telahan-telahan
seumpama ini menyebabkan sebahagian daripada masyarakat menolak sama
sekali kaedah perubatan tradisional, termasuk kaedah yang menggunakan ayatayat
al-Quran.
Salah Faham Rawatan Islam & Rawatan Tradisional
Prinsip dan kaedah pembelajaran mereka yang melibatkan diri dengan rawatan
Melayu tradisional dan rawatan yang diistilahkan sebagai Rawatan Islam yang
menggunakan doa-doa adalah berbeza. Walaupun demikian, oleh kerana
maklumat mengenai rawatan Islam itu tidak dimengerti oleh sebahagian besar
masyatakat; akibat pendedahannya yang terhad dan akibat kekaburan maklumat
sebenar rawatan Melayu tradisional, yang sering menjadi rahsia daripada
pengetahuan umum, yang berselindung di sebalik prinsip ilmu kebatinan, maka
masyarakat umumnya menganggap kedua-duanya sebagai kaedah rawatan yang
sama, apatah lagi dengan adanya golongan tertentu yang mencampuradukkan
kaedah-kaedah rawatan tradisional dengan pelbagai elemen pengaruh Islam
seperti yang dijelaskan diatas.
Keadaan seperti ini menjadi lebih gawat dan tidak menentu apabila pihak yang
dianggap sebagai memahami kaedah-kaedah rawatan Islam, yang sebenarnya
tidak tahu hakikatnya cuba memperkatakan mengenainya. Hukum sihir itu adalah
jelas. Ia termasuk dalam kategori dosa-dosa besar. Tegahan mengenainya
termaktub jelas dalam al-Quran, hadis dan kitab-kitab, tetapi untuk mengidentifikasi
hakikat sihir, ia memerlukan satu bidang ilmu lain yang memerlukan penyelidikan
yang serius. Adalah terlalu malang bagi mereka yang hanya mengetahui hukum larangan
mengenai sihir, tetapi tidak tahu hakikat sihir cuba memperkatakan
tentang rawatan Melayu tradisional ataupun Rawatan Islam.
DOA DAN RAWATAN
Allah s.w.t. menyuruh setiap orang Islam agar sentiasa berdoa kepadanya, dan Dia
akan memperkenankannya (Ghafir: 60, Ibrahim: 34). Orang yang berdoa, bererti ia
ingatkan Allah. Allah mahukan setiap hambanya agar mengingatinya pada zikir
lidah juga pada setiap amalan. Setiap perbuatan mesti dilakukan kerana Allah
membolehkan perbuatan itu diperkira sebagai ibadah, termasuk amalan yang
melibatkan rawatan, yang akan diberi ganjaran. Inilah yang membezakan, antara
amalan yang dilakukan sebagai adat dan ibadah. Apabila sesuatu perbuatan itu
termasuk dalam kategori ibadah, segala tindak tanduk yang bertentangan dengan
ajaran syariah perlu dihindarkan.
Pada hakikatnya, berdoa bukan amalan orang yang lemah, putus asas atau tidak
mempunyai harapan setelah banyak ikhtiar dilakukan tetapi gagal. Doa ialah
senjata orang yang beriman. Rasulullah s.a.w. juga ada bersabda, menyatakan
bahawa;
(Doa itu adalah otak ibadah).
Bererti bahawa setiap ibadah itu mesti bermula atau disertai doa.
Untuk hidup sejahtera, manusia perlukan otak. Ibadah seseorang itu perlukan otak.
Pada manusia, otak ibadah itu ialah doa. Pada manusia, otak adalah organ yang
sangat kompleks, pusat segala aktiviti, menjalankan fungsi berfikir, punca reaksi
seperti takut, bimbang, rasa sensitif dan sebagainya, mengawal pergerakan tubuh
yang tidak boleh diganti apabila rosak. Gangguan pada otak menyebabkan
berlakunya gangguan emosi, yang mungkin boleh membawa maut. Kita lihat di sini
betapa pentingnya otak dalam kehidupan manusia, begitulah keperluan doa dalam
ibadah, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. yang tidak boleh dinafikan.
Doa-doa yang dibaca, sama ada yang terdiri daripada ayat-ayat al-Quran, sumber
hadis dan lain-lainnya hanya merupakan satu kaedah ataupun wasilah dalam
usaha mendapatkan kesembuhan, yang dituturkan dengan lidah dan niat dalam
hati. Begitu juga dengan bahan-bahan yang digunakan, sama ada air zam-zam
atau air biasa. Kesembuhan sebenar adalah daripada Allah s.w.t. Apabila Allah
s.w.t. memperkenankan doa seseorang, maka Allah akan memberi kesembuhan,
biar betapa besar atau kecilnya penyakit atau masalah yang dihadapi oleh
seseorang, kerana Allah s.w.t. itu maha berkuasa dan tidak digagahi oleh sesiapa
pun. Urusan Allah, apabila ia menghendaki sesuatu dengan berkata: jadilah, maka
jadilah (Surah Yasin: 82).
Jelas disini bahawa kata-kata atau sindiran adakah doa boleh menyembuhkan
penyakit atau tidak bukan persoalan utama, sama seperti persoalan yang
ditimbulkan oleh golongan tertentu sama ada amalan merawat menggunakan doa
dan air itu boleh dipanggil sebagai Perubatan Islam.
Kisah Sahabat Nabi merawat dengan Surah Al-Fatihah
Dalam sebuah hadis daripada Abu Said al-Khudri r.a. ia menjelaskan adanya satu
kumpulan sahabat Rasulullah s.a.w. yang keluar pergi musafir. Di tengah
perjalanan mereka telah singgah di sebuah perkampungan Badwi. Mereka telah
meminta makanan, tetapi penduduk kampung tersebut enggan memberinya.
Dengan takdir Allah s.w.t., tidak lama setelah itu, ketua kampung berkenaan telah
disengat binatang. Mereka telah berusaha untuk mengubatinya tetapi gagal.
Sesetengah daripada mereka mencadangkan agar mereka meminta pertolongan
daripada kumpulan orang Islam yang singgah di kampung tadi. Mungkin mereka
boleh membuat sesuatu untuk merawat.
Mendengarkan harapan yang begitu tinggi terhadap mereka, sebahagian daripada
orang Islam tadi memberitahu bahawa mereka boleh menolongnya, tetapi oleh
kerana penduduk tersebut pernah menolak permintaan mereka sebelum itu,
mereka tidak akan menolongnya kecuali setelah berjanji memberi upah.
Rombongan itu bersetuju atas permintaan tadi untuk memberi beberapa ekor
kambing. Orang Islam yang berkenaan datang menemui ketua kaum yang sedang
sakit, lalu dihembusnya dengan air ludah pada tempat yang sakit tadi sambil
membaca: "AlhamdulilLah". Dalam satu riwayat lain disebutkan bahawa doa yang
dibaca ialah Surah al-Fatihah lalu perawat tadi mengumpulkan air ludahnya dan
dihembuskan, menyebabkan pesakit beransur sembuh. Dalam satu riwayat lain,
dijelaskan bahawa upah yang diberi ialah tiga puluh ekor kambing.
Keterangan hadis ini memperlihatkan bahawa Surah al-Fatihah itu amat besar
fadilatnya, di antaranya ialah untuk merawat pesakit akibat terkena racun, seperti
disengat kala jengking, lipan dan sebagainya.
Dijelaskan juga dalam keterangan hadis ini bahawa perawat, dengan izin Allah
berjaya melakukan rawatan dengan membaca Ummu al-Qur'an (Surah al-Fatihah).
Kalau difikiri dari segi logiknya, terlalu sukar untuk menerima hakikat, bahawa
pesakit boleh sembuh hanya dengan bacaan Surah al-Fatihah dan sedikit
hembusan air ludah.
Setiap orang Islam boleh dikatakan tahu membaca Surah al-Fatihah, tetapi untuk
meyakinkan bahawa bacaan yang dituturkan membolehkan seorang pesakit,
seperti sakit terkena gigit kala jenking ataupun lipan boleh sembuh, sering
dirasakan seupama sesuatu yang sukar diterima. Malah kita sendiri mungkin tidak
yakin bahawa usaha seperti ini boleh berjaya. Tetapi, kesembuhan seperti ini
bukan sesuatu yang mustahil, kerana Allah s.w.t. itu maha berkuasa, tidak digagahi
oleh sesuatu, apabila Ia menghendaki sesuatu, Ia berkata: jadilah maka jadilah
(Surah Yasin: 82).
Doa yang makbul
Allah s.w.t. menyuruh setiap hambanya agar berdoa, memohon kepadanya, dan
Allah s.w.t. akan memperkenankannya, sama ada diberi dengan cepat, lambat,
diberi ketika seseorang itu hidup di dunia ataupun di akhirat kelak. Jelas di sini
bahawa bukan sesuatu yang mustahil doa-doa yang dibaca oleh seseorang itu
boleh menyebabkan sakit yang dideritai oleh seseorang itu sembuh dengan izin
Allah, biar betapa berat derita yang dialami atau betapa besar masalah yang
ditanggung oleh seseorang.
Doa-doa yang dibaca hakikatnya bukan merupakan faktor utama kesembuhan.
Dua orang yang cuba merawat pesakit dengan menggunakan bacaan Surah al-
Fatihah, ataupun lain-lain doa, tidak semestinya melahirkan natijah yang sama.
Mungkin salah seorang daripada pesakit akan sembuh, ataupun semakin teruk,
padahal doa yang dibaca adalah sama. Hal demikian membuktikan bahawa doadoa
yang dituturkan hanya merupakan salah satu usaha rawatan, ataupun usaha
untuk memperoleh kesembuhan. Kesembuhan yang sebenar ialah kemakbulan
daripada Allah s.w.t. iaitu apabila doa-doa yang dibaca itu dikabulkan.
Kemakbulan ataupun kemustajaban doa yang dibaca pula berkait rapat dengan
taraf ataupun kualiti diri seseorang di sisi Allah. Semakin hampir seseorang itu
kepada Allah, maka semakin mudahlan doa-doa yang dipohon itu dikabulkan.
Orang yang hampir kepada Allah ialah mereka yang bersifat warak, zuhud dan
taqwa. Apabila seseorang hamba itu hampir kepada Allah, maka Allah akan
mengasihinya.
Orang-orang yang dikasihi Allah ialah mereka yang melakukan amalan-amalan
yang difardukan, juga amalan sunat secara terus menerus. Allah akan memberi
kekuatan dan memperkenankan doa-doa andainya ia memohon, dan
melindunginya apabila ia berbuat demikian.

sumber 

Tuan Guru Dato' Dr. Haron Din