Thursday, April 28, 2011

Beramallah Kita Sebelum Terlambat 7 Perkara



Rasulullah saw pernah bersabda:

“Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara; apakah kalian akan menanti sampai datang kemiskinan yang melupakan, atau kaya yang membuat sombong, atau sakit yang merusak kehidupan, atau tua yang melemahkan kekuatan, atau kematian yang menyegerakan, atau datangnya dajjal, makhluk gaib yang paling buruk dinanti, atau datangnya hari kiamat, hari yang sangat dahsyat dan mengerikan” (HR. Turmizi)

1 – Beramal sebelum kemiskinan melilit

Kemiskinan sering membuat orang lupa dengan akhirat, lupa dengan Allah, lupa dengan tujuan hidupnya yang sesungguhnya dan lupa beramal baik untuk masa depannya yang abadi, karena seseorang yang dililit oleh kemiskinan selalu disibukan oleh usahanya mencari makan dan minum untuk menyambung hidupnya, mencari tempat tinggal untuk menaungi dirinya dari siraman hujan dan sengatan terik matahari, mencari pakain untuk menutupi tubuhnya.

Bahkan karena kemiskinan tanpa keimanan yang kuat dan demi sesuap nasi, seseorang bisa mencuri, merampas harta orang lain seperti yang pernah terjadi pada masa khalifah Umar bin Khatab, seseorang telah mencuri karena miskin, karena miskin seorang wanita yang lemah imannya berani menjual kehormatannya dan karena kemiskianan banyak orang yang terjerumus dalam kekafiran, ia rela menjual agamanya karena tuntutan hidupnya yang sulit sementara ia dijanjikan hidup yang baik dalam agama lain, karena itulah Rasulullah saw mengatakan:

Kemiskinan hampir menjerumuskan orang dalam kekafiran

dan beliau selalu berlindung kepada Allah dari kekafiran dan kemiskinan. Kemiskinan memang sangat menyulitkan hidup, namun Allah telah menentukan ada manusia yang kaya dan ada manusia yang miskin sebagai ujian baginya, apakah si kaya bersyukur dengan kekayaannya dan si miskin bersabar dengan kemiskinan. Allah berfirman:

Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha melihat akan hambva-hambanya. (QS. 17:30)

Segera beramal sebelum kemiskinan melilit hidup manusia itulah yang dipesankan oleh Rasulullah saw, karena ketika manusia memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak sarana dan kesempatan yang dapat digunakan untuk beramal, harta yang dimiliki bisa dibelanjakan di jalan yang benar dengan bersedekah, membantu orang yang tak punya, membayar zakat, menunaikan ibadah haji dan lain-lain.

Dengan kondisi kehidupan yang layak; memiliki makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal dan sarana transfortasi yang layak, seseorang mampu lebih berkonsentrasi dalam beramal tanpa disibukan dengan pikiran mencari sesuap nasi kecuali bagi orang yang tak pernah merasa cukup dalam hidupnya yang terus mencari dan mencari.

2 – Beramal sebelum kaya yang menyombongkan

Kaya merupakan ujian dari Allah, apakah si kaya bersyukur dengan nikmat harta yang diberikannya, memahami harta yang ada di tangannya hanyalah amanah dari Allah, Pemilik harta yang sebenarnya, menyadari apa yang ia miliki merupakan karunia dari Allah, Ia kuasa mengambil darinya dalam sesaat. Allah berfirman:

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 35:2)

Apakah si kaya memahami bagaimana ia membelanjakan hartanya, karena pada hari kiamat nanti seseorang akan ditanyakan tentang empat hal, salah satunya tentang hartanya dari mana ia memperolehnya dan baimana ia membelanjakannya. Harta adalah ujian, jika ia berada di tangan orang yang baik maka sungguh itu suatu kenikmatan baginya. Rasulullah saw bersabda:

“Sebaik-baik harta yang baik yang dimiliki oleh orang yang baik”.

Namun banyak orang yang menjadi sombong karena harta, ia merasa bahwa hartanya adalah hasil dari usahanya, buah dari jerih payahnya, manfaat dari ilmunya seperti yang dikatakan Karun: “Ini adalah hasil dari ilmuku” , karena kaya seseorang merasa tidak membutuhkan kepada Allah, ia tidak pernah berdoa memohon kepada-Nya karunia hidup, ia tidak mau meminta kepada-Nya nikmat kesehatan karena ia mampu membeli kesehatan dan jika ia sakit ia mampu berobat ke rumah sakit termahal, ia tidak pernah memohon kepada-Nya agar hartanya diberkahi dan dijaga, ia sombong karena merasa dengan harta di tangannya ia mampu berbuat apapun yang ia inginkan, ia lupa, ia lalai bahwa Allahlah yang membukakan untuknya kunci dunia dan ia mampu mengambil kembali darinya.

Harta membuat orang sombong sehingga tidak mau beramal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena baginya untuk apa mendekatkan diri kepada Allah sementara ia bisa melakukan apa saja yang ia sukai tanpa pertolongan Allah. Allah berfirman:

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (QS. 96:6)

karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:7)

3 – Beramal sebelum sakit yang merusak hidup

Kesehatan adalah harta yang paling berharga yang selalu menjadi dambaan manusia, kesehatan merupakan nilai yang tak dapat dihargai dengan uang, kesehatan nikmat yang tinggi setelah nikmat iman dan islam. Dengan nikmat sehat manusia mampu melakukan banyak aktifitas hidup yang bermanfaat, banyak bentuk ibadah dan amal baik yang bisa di laksanakan, banyak ladang amal saleh yang bisa di tanam.

Namun tatkala sakit datang, hidup menjadi tak berarti, keindahan hidup menjadi keruh, cita-cita dan harapan seakan sulit dicapai, waktu disibukan dengan usaha mengembalikan kembali kondisi tubuh, kesempatan beramal menjadi sempit, ladang amal tidak lagi bisa ditanam. Nikmat sehat banyak dilupakan orang dan banyak manusia yang kurang menghargainya. Rasulullah saw bersabda:

“Dua nikmat yang banyak membuat orang merugi dalam memperdagangkannya: sehat dan waktu luang”

4 – Beramal sebelum tua yang melemahkan

Perjalanan usia manusi melewati beberapa fase, dari sang janin di dalam kandungan, lalu lahir menjadi sang bayi, tumbuh menjadi anak kecil, berkebang menjadi remaja, beralih sebagai manusia dewasa dan berakhir menjadi orang tua. Allah berfirman:

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari kadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) itu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. 30:54)

Allah menciptakan manusia diawali sebagai manusia yang lemah ketika ia seorang bayi dan anak-anak, lalu Ia ciptakan menjadi manusia yang kuat setelah menjadi remaja dan orang dewasa, lalu setelah itu manusia kembali menjadi lemah tatkala manusia memasuki usia tua bahkan orang yang tua-renta sering berperilaku seperti anak-anak.

Ketika manusia telah memasuki tahap kehidupan akhirnya di dunia ini wajahnya menjadi keriput, tulang-tulangnya melemah, rambutnya ditumbuhi uban, ingatannya mulai lupa, kekuatan akalnya menurun. Masa indah yang penuh aktifitas di masa remaja tidak lagi akan kembali seperti dahulu, banyak kesempatan beramal yang terlewatkan tak akan terulang kedua kali. Beramal sebelum masa tua tiba yang melemahkan sebuah anjuran yang patut di renungkan.

5 – Beramal sebelum kematian datang secara tiba-tiba

Kematian tidak ada manusia yang mengetahui kedatangannya, misteri yang tidak dapat di capai oleh oleh ilmu pengetahuan modern, teka-teki yang tak dapat dijawab oleh manusia paling jenius, ia datang tanpa memberitahu, ia menjemput manusia tanpa memberi informasi terlebih dahulu, dan ketika kematian datang tidak dapat ditunda atau dimajukan sedetikpun. Allah berfirman:

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. 7:34)

Kematian merenggut seluruh lapisan usia tidak pernah membedakan umur, ia datang merenggut anak-anak, remaja yang sedang giat beraktifitas, berangan-angan menggapai cita-cita tinggi, sedang menggores tinta sejarah masa depan, ia datang kepada orang dewasa dan ia datang kepada orang tua. Setelah kematian tidak ada lagi kehidupan untuk beramal tetapi yang ada adalah kehidupan untuk mendapatkan balasan dan hisab, tidak ada lagi kehidupan kedua di dunia yang ada adalah kehidupan akhir selamanya.

6 – Beramal sebelum Dajjal datang

Kedatangan Dajjal menjelang hari kiamat merupakan hakikat yang wajib diimani karena disampaikan oleh manusia yang terpercaya yang diutus kepada umat manusia membawa kebenaran, Muhammad saw. Beliau bersabda:

Dajjal akan datang pada umatku dan tinggal selama empat puluh hari lalu Allah mengutus Isa putra Maryam…

Dalam banyak hadis sahih dijelaskan bahwa Dajjal akan datang dan menjadi fitnah bagi manusia karena ia datang mengaku dirinya sebagai tuhan, ia datang kepada manusia membawa ilusi surga dan neraka, apa yang dipandang manusia surga adalah neraka dan apa yang dipandangnya neraka adalah surga.

Ia datang kepada manusia yang sedang mengahadapi musibah kemiskinan, para peternak yang tidak mendapatkan susu di hewan ternaknya, para petani yang tanamannya tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, mereka dalam keadaan yang sulit, hidup dalam kesusahan lalu Dajjal datang mengaku sebagai tuhan, ia perintahkan langit menurunkan hujan hingga mengguyur bumi, ia perintahkan bumi mengeluarkan air hingga membasahi tanah yang tandus lalu tanah mereka menjadi subur, tanaman mereka menjadi tumbuh, hewan-hewan mereka mengeluarkan susu, mereka hidup dalam kenikmatan setelah hidup dalam kesusahan, mereka hidup dalam kemakmuran setelah hidup dalam kesempitan, mereka sembah Dajjal karena dianggap telah menyelamatkan hidup mereka. Mereka hidup seakan di surga padahal itu adalah neraka.

7 – Beramal sebelum hari kiamat tiba

Hari kiamat pasti datang mematikan semua makhluk lalu membangkitkannya kembali untuk mendapatkan hisab dari seluruh amalnya. Setelah itu tidak ada lagi hari untuk beramal karena hari itu adalah hari pembalasan. Beramalah sebelum hari kiamat tiba.


berbagai sumber

Tuesday, April 26, 2011

Kalimah Allah

Dah lama rasanya tak update kisah-kisah  rawatan dalam blog namun ikhtiar-ikhtiar rawatan masih dilakukan cuma sejak kebelakangan ini banyak membantu pesakit dengan kaedah jarak jauh bagi-bagi pesakit yang memerlukan diantaranya di johor,singapore,selangor, juga kelantan namun bagi kes-kes yang berat melibatkan saka juga sihir yang sudah bertahun mengambil masa juga untuk di bantu dengan kaedah ini malah berbulan jugak nak handle...kadang-kadang tu malas juga nak buat kerana  ada sesetengahnya pesakit ni nak mudah dan senang jer minta buat amalan untuk diri pun susah nak buat belum lagi yang terlalu obses dengan jin juga telahan-telahan nujum pak belalang sebelumnya kerana itu saya lebih suka diagnos simptom-simptom penyakit juga gangguan dari menjadi nujum pak belalang yang mana di bimbangkan membawa fitnah,bagi saya rawatan jarak jauh ini harus ada kerjasama dari kedua-kedua pihak dalam permudahkan usaha rawatan di lakukan apapun kaedah dilakukan berbalik semula pada hakikat yang mana kesembuhan itu dari Allah adakalanya Allah berikan penyakit itu merupakan kifarah juga untuk kita lebih dekat dengannya,mungkin sebelum ini tak pernah dengar cd rukyah sekarang dah rajin dengar sekurang-kurangnya mendengar  bacaan kalamullah itu mudahan-mudahan melembutkan hati juga beroleh kebaikan, rasanyalah kalau tak sakit entah bila nak dengar cd rukyah ,Hakikatnya disini perawat hanyalah mendoakan dalam membantu kesembuhan dan bukan menyembuhkan.Alternatif lain yang dapat saya bantu ialah mengesyorkan mereka berjumpa perawat-perawat yang berdekatan melainkan pesakit sendiri sanggup untuk hadir diri dalam berikhtiar untuk rawatan,bagi saya mudah dengan cara berdepan dengan pesakit dari gunakan kaedah jarak jauh yang memerlukan tenaga yang banyak juga pemerhatian yang lebih.
Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu merawat pesakit wanita yang mengalami sedikit gangguan namun ada sesuatu yang ingin saya kongsikan  tentang kebesaran Allah taala yang mana saat saya merukyah pesakit ini ia terlihat kalimah Allah juga huruf-huruf hijaiyah mengelilinginya dengan memancarkan sinar putih bersinar,jika di tanyakan kepada saya mengapa demikian tidaklah dapat saya menjawabnya melainkan menyerahkan atas kekuasaan Allah semata... kerana seperti yang di jelaskan perawat hanya mendoakan yang menyembuhkan hanyalah Allah s.w.t.wallahuallam

Thursday, April 21, 2011

Apakah Berubat Merosakkan Tawakal?

 Salah satu sifat muslimin adalah bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata-mata. Barangkali sebahagian muslimin beranggapan bahawa berubat akan mengikis kesempurnaan tauhid. Alasannya adalah kerana berubat merupakan penggunaan sesuatu sebab yang berlawanan dengan tawakal kepada Allah. Sehingga seorang yang bertawakal tidak perlu untuk berubat bila sakit. Jika Allah mahu menyembuhkannya, maka dia akan sembuh tanpa perlu berubat. Akan tetapi, benarkah mengambil sesuatu sebagai sebab berlawanan dengan tawakal kepada Allah?

Marilah kita semak tulisan berikut ini.
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam pernah mengutarakan masalah berubat, sebagaimana di dalam beberapa hadis. Di antaranya,

1. Dari Jabir Bin Abdullah radhiallahu' anhu, bahawa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda,
"Setiap penyakit pasti memiliki ubat. Bila sesuatu ubat bertepatan dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah `azza wa jalla." (HR. Muslim)


2. Dari Abu Hurairah radhiallahu' anhu, bahawa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda,
"Tidaklah Allah menurunkan sesuatu penyakit melainkan menurunkan pula ubatnya." (HR. Al Bukhari dan Muslim)


3. Dari Usamah bin Syarik radhiallahu' anhu, bahawa beliau berkata,
"Aku pernah di sisi Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam lalu datanglah sekumpulan arab dusun. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bolehkah kami berubat? ." Baginda menjawab, "Iya, wahai para hamba Allah berubatlah. Ini kerana Allah `azza wa jalla tidaklah meletakkan sesuatu penyakit melainkan meletakkan pula ubatnya, kecuali satu penyakit." Mereka bertanya, " Penyakit apakah itu? ." Baginda menjawab, "Penyakit ketuaan." (HR. Ahmad, Al Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, beliau berkata bahawa hadis ini hasan sahih. Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i mensahihkan hadis ini di dalam kitabnya Al-Jami'us Sahih mimma Laisa fish Sahihain 4/486)

4. Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu' anhu, bahawa Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah `azza wa jalla tidaklah menurunkan sesuatu penyakit melainkan menurunkan pula ubatnya. Ubat itu diketahui oleh orang yang boleh mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak boleh mengetahuinya. " (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, beliau mensahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Juga Al-Bushiri mensahihkannya dalam kitab Zawaidnya. Lihat Takhrij Al-Arnauth atas Zadul Ma'ad 4/12-13)

Al Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, "Di dalam hadis-hadis yang sahih ini terdapat perintah untuk berubat dan ia tidak bertentangan dengan tawakal. Sebagaimana menolak penyakit yang berbentuk rasa lapar, haus, panas dan dingin dengan lawan-lawannya, ia tidak menghilangkan tawakal. Bahkan tidak sempurna hakikat tauhid kecuali dengan mengambil sebab yang Allah letakkan sebagai faktor yang akan melahirkan akibat, baik secara ketentuan takdir mahupun hukum syariat. Menolak sebab dapat merosakkan tawakal itu sendiri. Demikian pula dapat merosakkan dan melemahkan nilai perintah Allah dan hikmah-Nya. Sementara orang-orang yang menolak kerana mereka beranggapan bahawa yang demikian itu akan lebih menguatkan tawakal. Sedangkan menolak sebab merupakan sebuah kelemahan yang boleh menghilangkan tawakal. Ini kerana hakikat tawakal adalah seseorang itu menyandarkan hatinya kepada Allah di dalam mengambil manfaat dan menolak bahaya, baik pada agama mahupun dunianya. Penyandaraan hati ini mesti disertai dengan mengambil sebab. Jika tidak, maka dia akan menggugurkan hikmah Allah dan syari'at-Nya. Oleh kerana itu, janganlah seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai sikap bertawakal dan jangan pula dia menjadikan tawakalnya sebagai sebuah kelemahan." (Lihat Zadul Ma'ad, cet. Maktabah Ar-Risalah 4/14)

Berubat merupakan perkara yang diperselisihkan hukumnya di kalangan para ulama. Tentunya perselisihan mereka berpunca daripada perbezaan di dalam memahami dalil-dalil yang datang pada bab ini. Terdapat tiga pendapat di kalangan para ulama dalam menentukan hukum berubat.

Pertama, menurut sebahagian ulama bahawa berubat diperbolehkan tetapi yang lebih utama tidak berubat. Ini merupakan mazhab yang masyhur daripada Al-Imam Ahmad rahimahullah.

Kedua, menurut sebahagian ulama bahawa berubat adalah perkara yang disunnahkan. Ini merupakan pendapat para ulama pengikut mazhab Syafi'i rahimahumullah. Bahkan Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim menisbahkan pendapat ini kepada mazhab majoriti salaf dan khalaf. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Abul Muzhaffar. Beliau berkata, "Menurut mazhab Abu Hanifah bahawa berubat adalah perkara yang sangat ditekankan. Hukumnya hampir mendekati wajib."

Ketiga, menurut sebahagian ulama bahawa berubat dan meninggalkannya sama saja, tidak ada yang lebih utama. Ini merupakan Mazhab Al-Imam Malik rahimahullah. Beliau berkata, "Berubat adalah perkara yang tidak mengapa demikian pula meninggalkannya. " (lihat Fathul Majid halaman 88-89)

As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah memiliki method yang cukup baik di dalam mempertemukan beberapa pendapat di atas. Beliau memperincikan hukum berubat kepada beberapa keadaan:

1. Bila diketahui atau diduga kuat bahawa berubat sangat bermanfaat dan meninggalkannya akan mengakibatkan kemudharatan, maka hukumnya wajib.
2. Bila diduga kuat bahawa berubat sangat bermanfaat namun meninggalkannya tidak mengakibatkan kemudharatan yang pasti, maka berubat lebih utama.
3. Bila dengan berubat, peluang sembuh dan mudharat memiliki kadar kemungkinan yang sama, maka meninggalkannya lebih utama, agar dia tidak melemparkan dirinya dalam kehancuran tanpa sedar.
(lihat Asy-Syarhul Mumti' 2/437)


Salah satu sifat orang-orang yang masuk syurga tanpa hisab dan tanpa azab adalah bertawakal kepada Allah semata.


Sifat ini bukan bererti mereka tidak menjalani sebab sama sekali. Ini kerana secara global menjalani sebab merupakan perkara fitrah dan tertanam secara spontan. Tidak seorang pun boleh terlepas daripada menjalani sebab. Bahkan bertawakal itu sendiri merupakan sebab yang paling terbesar, sebagaimana firman Allah ta'ala,

"Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Ath-Thalaq: 3)


Dengan demikian mereka hanya meninggalkan perkara yang makruh walaupun mereka memerlukannya, dengan tetap bertawakal kepada Allah, seperti meminta diruqyah. Mereka meninggalkan perbuatan ini kerana keadaannya sebagai sebab yang makruh. Terlebih lagi orang yang sakit, dia akan bergantung dengan apa sahaja yang dianggapnya sebagai sebab untuk sembuh meskipun dengan sarang labah-labah (yang sangat lemah).
Adapun mengambil sebab dan berubat dalam bentuk yang tidak mengandungi hukum makruh, maka ia tidak merosakkan tawakal. Oleh kerana itu meninggalkannya tidak disyariatkan, sebagaimana yang difahami daripada hadis-hadis yang telah kita senaraikan di atas. (Lihat Fathul Majid 87-88).

Mengambil sebab boleh menjadi perbuatan syirik dan boleh pula merupakan ibadah dan tauhid kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Menjadi syirik apabila orang yang mengambilnya menyandarkan hati kepadanya, merasa tenang dengannya, dan meyakini bahawa sebab itu sendiri yang dapat melahirkan akibat tanpa Allah subhanahu wa ta'ala. Dia berpaling daripada Zat Yang Menciptakan Sebab dan menjadikan perhatiannya hanya terbatas kepada sebab itu.
Sedangkan ia boleh menjadi tauhid dan ibadah bila dia menganggapnya hanya sebagai bentuk penunaian, pelaksanaan dan penegakan hak ibadah yang terdapat padanya. Lalu menempatkannya pada tempat yang sesuai. Maka mengambil sebab dengan cara yang seperti ini merupakan satu bentuk ibadah dan tauhid kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Ini kerana hal itu tidak memalingkannya daripada menghadapkan hati kepada Zat Pencipta sebab tersebut.
Seorang yang bertauhid dan bertawakal kepada Allah tetap mengambil sebab tetapi tidak menyandarkan hati, tenang, berharap, takut dan condong kepadanya. Hatinya hanya tertuju dan tergantung kepada Zat Pencipta Sebab subhanahu wa ta'ala. Namun bukan bererti dia menolak, menggugurkan dan mengabaikan untuk mengambil sebab.


Tawakal adalah salah, baik secara hukum syariat mahupun logik kecuali apabila ia digantungkan hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata. Tidak ada di alam nyata ini sebab yang sempurna dan dapat melahirkan akibat dengan sendirinya kecuali kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.
Kehendak Allah merupakan sebab bagi segala sebab. Allah telah menjadikan padanya kekuatan yang akan memberi kesan. Tidak ada satu sebab pun yang boleh melahirkan akibat dengan sendirinya melainkan mesti disertai oleh sebab yang lain. Allah menjadikan bagi setiap sebab lawan-lawan dan perkara-perkara yang dapat menghalangnya. Hal ini tentunya berbeza dengan kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Kehendak-Nya tidak memerlukan sebab apapun selainnya. Tidak ada sebab apapun yang dapat melawan dan membatalkannya. Namun kadang-kala Allah subhanahu wa ta'ala membatalkan hukum kehendak-Nya dengan kehendak-Nya. Dia menghendaki sesuatu perkara lalu menghendaki lawannya dan perkara yang menghalang terjadinya. Seluruhnya dengan kehendak dan pilihan Allah. Oleh kerana itu tawakal tidak dibenarkan kecuali hanya kepada-Nya. Demikian pula penyandaran diri, rasa takut, harapan, keinginan tidak ditujukan kecuali kepada-Nya.

Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
"Aku berlindung dengan redha-Mu daripada murka-Mu, dengan pemeliharaanmu daripada seksa-Mu. Dan dengan-Mu daripada-Mu." (HR. Muslim dan Abu Daud)


"Tidak ada tempat selamat dan berlindung dari Zat-Mu kecuali kepada Zat-Mu." (HR. Muslim)

Apabila kita mengumpulkan antara bertauhid dan mengambil sebab, maka hati kita akan lurus dalam menuju Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan demikian, jelaslah jalan besar yang dilalui oleh seluruh rasul, nabi dan pengikut mereka. Itulah jalan yang lurus iaitu jalan orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita.




Wallahu a'lam bishshawab
Oleh: Al Ustadz Abdul Mu'thi Al Maidani








 

Zikirullah Kunci Khazanah Langit Dan Bumi

Adalah dikhabarkan bahawa Sayiddina Uthman ibn Affan r.a. telah meminta penjelasan lanjut tentang "Maqalad As-Samawi Wal-Ardh" (Kunci Langit Dan Bumi) mengenai firman Allah Berkaitan dengan Kunci Pembuka Khazanah Langit dan Bumi
Renungan Dari Surah Az-Zumar (39), Ayat 63.
Mafhum Ayat: Dia sahajalah yang menguasai urusan dan perbendaharaan langit dan bumi; (orang-orang yang percayakan yang demikian beruntunglah) dan orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan ALLAH yang jelas nyata itu, mereka itulah orang-orang yang paling rugi.



Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepadanya: “Kamu bertanya kepada saya apa yang orang lain belum pernah bertanya. Kunci Pembuka Khazanah Langit dan Bumi itu adalah yang berikut:

Ertinya:
Tiada yang disembah melainkan Allah
Allah Maha Besar Maha Suci Engkau
Segala Puji Bagi Allah
Aku memohon Ampun kepada Allah
Tiada yang patut disembah melainkan Dia
Dia yang awal Dia yang akhir
Dia yang zahir Dia yang bathin
Yang menghidupkan Yang mematikan
Dia yang hidup tanpa mati
Pada-Nya segala kebaikan
Dan Ia berkuasa atas segala sesuatu.

Seterusnya Nabi s.a.w. bersabda : “Wahai Uthman! Barangsiapa membacanya 100 kali sehari, akan dikurnia 10 faedah:
Pertama, segala dosanya yang lalu akan diampuni, 
kedua : terlepas daripada siksaan neraka, 
ketiga : dua orang malaikat dilantik untuk memeliharanya siang dan malam daripada penyakit dan siksaan, 
keempat : dia di kurniakan perbendaharaan rahmat dan berkat, 
kelima : dia mendapat pahala seperti orang yang membebaskan 100 orang hamba abdi daripada keturunan Nabi Ismail r.a., 
keenam : dia di beri pahala seperti membaca seluruh Al-Qur’an, Zabur, Taurat dan Injil, 
ketujuh : sebuah rumah akan didirikan untuknya di syurga, 
kelapan, dia akan berkahwin dengan seorang bidadari syurga, 
kesembilan, dia akan dipermuliakan dengan mahkota kemuliaan, 
kesepuluh : permohonan keampunannya bagi 70 orang saudaranya akan dimakbulkan.

Wahai Uthman! Kalau kamu mampu, janganlah lupa membacanya setiap hari. Kamu akan termasuk dalam golongan orang-orang yang berjaya dan melampaui orang-orang yang sebelum kamu dan selepas kamu”.

" Jika kamu hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya "

(Al-Quran : Ibrahim ; 14:34)



Berbagai sumber

Monday, April 11, 2011

Tentang Keutamaan Ilmu


Hadist Tentang Keutamaan Ilmu

Sungguh tinggi kedudukan ilmu, menuntut ilmu, orang yang memiliki ilmu dan orang yang memberikan ilmu. Begitu juga sebaliknya, betapa ancaman bagi orang yang bermain-main dengan ilmu. Berikut Hadist yang berisi tentang ilmu, menuntut ilmu, orang yang memiliki ilmu dan orang yang memberikan ilmu serta kesalahan-kesalahan berkaitan dengan ilmu:

1. Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’)

2. Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka’at. (HR. Ibnu Majah)

3. Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

4. Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)

5. Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

6. Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )

7. Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)

8. Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)

9. Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?” Nabi Saw menjawab, “Majelis-majelis taklim.” (HR. Ath-Thabrani)

10. Apabila muncul bid’ah-bid’ah di tengah-tengah umatku wajib atas seorang ‘alim menyebarkan ilmunya (yang benar). Kalau dia tidak melakukannya maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Tidak akan diterima sodaqohnya dan kebaikan amalannya. (HR.Ar-Rabii’)

11. Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud)

12. Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhoan Allah maka dia akan ditakuti oleh segalanya, dan jika dia bermaksud untuk menumpuk harta maka dia akan takut dari segala sesuatu. (HR. Ad-Dailami)

13. Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR. Abu Dawud)

14. Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR. Asysyihaab)

15. Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)

16. Barangsiapa dimintai fatwa sedang dia tidak mengerti maka dosanya adalah atas orang yang memberi fatwa. (HR. Ahmad)

17. Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

18. Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

19. Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)

20. Termasuk mengagungkan Allah ialah menghormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al Qur’an dan ahlinya[1], serta penguasa yang adil. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

21. Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)

22. Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)

23. Maafkanlah dosa orang yang murah hati, kekeliruan seorang ulama dan tindakan seorang penguasa yang adil. Sesungguhnya Allah Ta’ala membimbing mereka apabila ada yang tergelincir. (HR. Bukhari)

24. Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im)

Semoga bermanfaat.
Sumber: 1100 Hadits Terpilih – Dr. Muhammad Faiz Almath

Tuesday, April 5, 2011

20 Amalan Murah Rezeki



Amalan-amalan ini menjadi sebab Allah (SWT)limpahi hamba-Nya dengan keluasan rezeki dan rasa kaya dengan pemberian-Nya. Berdasarkan konsep rezeki yang telah diperkatakan, Allah (SWT)memberi jalan buat setiap hamba-Nya untuk memperolehi rezeki dalam pelbagai bentuk yang boleh menjadi punca kebaikan dunia dan akhirat. Di antaranya:

1. Menyempatkan diri beribadah
Allah (SWT)tidak sia-siakan pengabdian diri hamba-Nya, seperti firman-Nya dalam hadis qudsi:

"Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku maka Aku akan membuat hatimu kaya dan menutup kefakiranmu. Jika tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu." (Riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abu Hurairah r.a.)

2. Memperbanyak istighfar
Istighfar adalah rintihan dan pengakuan dosa seorang hamba di depan Allah (SWT), yang menjadi sebab Allah (SWT)jatuh kasih dan kasihan pada hamba-Nya lalu Dia berkenan melapangkan jiwa dan kehidupan si hamba. Sabda Nabi s.a.w.:

"Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah (SWT)s.w.t akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa'i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas r.a.)

3. Tinggalkan perbuatan dosa
Istighfar tidak laku di sisi Allah (SWT)jika masih buat dosa. Dosa bukan saja membuat hati resah malah menutup pintu rezeki. Sabda Nabi s.a.w.:

"… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya." (Riwayat at-Tirmizi)

4. Sentiasa ingat Allah (SWT)
Banyak ingat Allah (SWT)buatkan hati tenang dan kehidupan terasa lapang. Ini rezeki yang hanya Allah (SWT)beri kepada orang beriman. Firman-Nya:

"(iaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah (SWT). Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah (SWT)hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd: 28)

5. Berbakti dan mendoakan ibu bapa
Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah s.a.w. berpesan agar siapa yang ingin panjang umur dan ditambahi rezekinya, hendaklah berbakti kepada ibu bapanya dan menyambung tali kekeluargaan. Baginda s.a.w. juga bersabda:

"Siapa berbakti kepada ibu bapanya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah (SWT)akan memanjangkan umurnya." (Riwayat Abu Ya'ala, at-Tabrani, al-Asybahani dan al-Hakim)

Mendoakan ibu bapa juga menjadi sebab mengalirnya rezeki, berdasarkan sabda Nabi s.a.w.:

"Apabila hamba itu meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya nescaya terputuslah rezeki (Allah (SWT)) daripadanya." (Riwayat al-Hakim dan ad-Dailami)

6. Berbuat baik dan menolong orang yang lemah
Berbuat baik kepada orang yang lemah ini termasuklah menggembirakan dan meraikan orang tua, orang sakit, anak yatim dan fakir miskin, juga isteri dan anak-anak yang masih kecil. Sabda Nabi s.a.w.:

"Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu." (Riwayat Bukhari)

7. Tunaikan hajat orang lain
Menunaikan hajat orang menjadi sebab Allah (SWT)lapangkan rezeki dalam bentuk tertunainya hajat sendiri, seperti sabda Nabi s.a.w.:

"Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah (SWT)akan menunaikan hajatnya…" (Riwayat Muslim)

8. Banyak berselawat
Ada hadis yang menganjurkan berselawat jika hajat atau cita-cita tidak tertunai kerana selawat itu dapat menghilangkan kesusahan, kesedihan, dan kesukaran serta meluaskan rezeki dan menyebabkan terlaksananya semua hajat. Wallahu a'lam.

9. Buat kebajikan banyak-banyak
Ibnu Abbas berkata:

"Sesungguhnya kebajikan itu memberi cahaya kepada hati, kemurahan rezeki, kekuatan jasad dan disayangi oleh makhluk yang lain. Manakala kejahatan pula boleh menggelapkan rupa, menggelapkan hati, melemahkan tubuh, sempit rezeki dan makhluk lain mengutuknya."

10. Berpagi-pagi
Menurut Rasulullah s.a.w., berpagi-pagi (memulakan aktiviti harian sebaik-baik selesai solat Subuh berjemaah) adalah amalan yang berkat.


11. Menjalin silaturrahim
Nabi s.a.w. bersabda:

"Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya maka hendaklah dia menghubungi sanak-saudaranya." (Riwayat Bukhari)

12. Melazimi kekal berwuduk
Seorang Arab desa menemui Rasulullah s.a.w. dan meminta pedoman mengenai beberapa perkara termasuk mahu dimurahkan rezeki oleh Allah (SWT). Baginda s.a.w. bersabda:

"Sentiasalah berada dalam keadaan bersih (dari hadas) nescaya Allah (SWT)akan memurahkan rezeki." (Diriwayatkan daripada Sayidina Khalid al-Walid)


13. Bersedekah
Sedekah mengundang rahmat Allah (SWT)dan menjadi sebab Allah (SWT)buka pintu rezeki. Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam:

"Hai Zubair, ketahuilah bahawa kunci rezeki hamba itu ditentang Arasy, yang dikirim oleh Allah (SWT)azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, nescaya Allah (SWT)membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, nescaya Allah (SWT)menyedikitkan baginya." (Riwayat ad-Daruquthni dari Anas r.a.)

14. Melazimi solat malam (tahajud)
Ada keterangan bahawa amalan solat tahajjud memudahkan memperoleh rezeki, menjadi sebab seseorang itu dipercayai dan dihormati orang dan doanya dimakbulkan Allah (SWT).

15. Melazimi solat Dhuha
Amalan solat Dhuha yang dibuat waktu orang sedang sibuk dengan urusan dunia (aktiviti harian), juga mempunyai rahsia tersendiri. Firman Allah (SWT)dalam hadis qudsi:

"Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)

16. Bersyukur kepada Allah (SWT)
Syukur ertinya mengakui segala pemberian dan nikmat dari Allah (SWT). Lawannya adalah kufur nikmat. Allah (SWT)berfirman:

"Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, nescaya Aku tambahi nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat keras." (Ibrahim: 7) Firman-Nya lagi: "… dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran: 145)

17. Mengamalkan zikir dan bacaan ayat Quran tertentu
Zikir dari ayat-ayat al-Quran atau asma'ul husna selain menenangkan, menjenihkan dan melunakkan hati, ia mengandungi fadilat khusus untuk keluasan ilmu, terbukanya pintu hidayah, dimudahkan faham agama, diberi kemanisan iman dan dilapangkan rezeki.

Misalnya, dua ayat terakhir surah at-Taubah (ayat 128-129) jika dibaca secara konsisten tujuh kali setiap kali lepas solat, dikatakan boleh menjadi sebab Allah (SWT)lapangkan kehidupan dan murahkan rezeki.

Salah satu nama Allah (SWT), al-Fattah (Maha Membukakan) dikatakan dapat menjadi sebab dibukakan pintu rezeki jika diwiridkan selalu; misalnya dibaca "Ya Allah (SWT)ya Fattah" berulang-ulang, diiringi doa: "Ya Allah (SWT), bukalah hati kami untuk mengenali-Mu, bukalah pintu rahmat dan keampunan-Mu, ya Fattah ya 'Alim." Ada juga hadis menyebut, siapa amalkan baca surah al-Waqi'ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kepapaan. Wallahu a'lam.

18. Berdoa
Berdoa menjadikan seorang hamba dekat dengan Allah (SWT), penuh bergantung dan mengharap pada rahmat dan pemberian dari-Nya. Dalam al-Quran, Allah (SWT)suruh kita meminta kepada-Nya, nescaya Dia akan perkenankan.

19. Berikhtiar sehabisnya
Siapa berusaha, dia akan dapat. Ini sunnatullah. Dalam satu hadis sahih dikatakan bahawa Allah (SWT)berikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tapi agama hanya Allah (SWT)beri kepada orang yang dicintai-Nya saja. (Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Bagi orang beriman, tentulah dia perlu mencari sebab-sebab yang boleh membawa kepada murah rezeki dalam skop yang luas. Misalnya, hendak tenang dibacanya Quran, hendak dapat anak yang baik dididiknya sejak anak dalam rahim lagi, hendak sihat dijaganya pemakanan dan makan yang baik dan halal, hendak dapat jiran yang baik dia sendiri berusaha jadi baik, hendak rezeki berkat dijauhinya yang haram, dan sebagainya.

20. Bertawakal
Dengan tawakal, seseorang itu akan direzekikan rasa kaya dengan Allah (SWT). Firman-Nya:

"Barang siapa bertawakal kepada Allah (SWT), nescaya Allah (SWT)mencukupkan (keperluannya)." (At-Thalaq: 3)

Nabi s.a.w. bersabda:

"Seandainya kamu bertawakal kepada Allah (SWT)dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang." (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)

Kesemua yang disebut di atas adalah amalan-amalan yang membawa kepada takwa. Dengan takwa, Allah (SWT)akan beri "jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkan), dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya." (At-Talaq: 2-3)

Pendek kata, bagi orang Islam, untuk murah rezeki dalam ertikata yang sebenarnya, kuncinya adalah buat amalan-amalan takwa. Amalan-amalan ini menjadi sebab jatuhnya kasih sayang Allah (SWT), lalu Allah (SWT)limpahi hamba-Nya dengan keluasan rezeki dan rasa kaya dengan pemberian-Nya.