Wednesday, March 30, 2011

Mengenal Hizib


Dalam pengamalan dzikir-dzikir tasawuf, kita mengenal HIZIB. ada beberapa yang terkenal seperti hizib nashr, hizib bahr, hizib magribi, hizib syeh abdul qodir al jailani, hizib nawawi, hizib yamani dan sebagainya
Hizib adalah kumpulan ayat-ayat Al-Quran, zikir, doa dan salawat yang disusun untuk diamalkan dengan membacanya.Tujuan asal Hizib adalah untuk diamalkan agar diri seseorang menjadi dekat dengan Allah dalam arti kata Allah akan meredai orang yang mengamal Hizib tersebut. Ini kerana Hizib adalah juga kategori doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid pengamal tersebut.

Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :

1. Surat Al Maaidah ayat 56 :
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta’ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang.

2. Surat Al Kahfi ayat 12 :
ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا
Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu

3. Surat Ar Ruum ayat 32 :
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka

4. Surat Al Fathiir ayat 6 :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

5. Surat Al Mujaadilah ayat 19 :
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi.

6. Surat Mujadiilaah ayat 22 :
Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).

Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at. Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri. Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh. Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut :


Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh. Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan.


Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam. Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar,Wallahu a’lam.


Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun. Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam.Wallahu alam.



oleh alifjuman

Tuesday, March 15, 2011

Fenomena jin dan hantu


Jin atau hantu mempunyai gelombang dalam julat Frekuensi Ultrasonik terletak di atas paras melebihi 20KHz yang besar. Ini biasanya dihasilkan oleh geteran hablur-hablur seperti hablur kuartza. Frekuensi bunyi hantu ini juga mempunyai persamaan seperti frekuensi bunyi yang dikeluarkan oleh kelawar. Atas rasional ini adalah agak malang bagi pengemar batu-batu permata yang menyimpan batu permata yang berkualiti rendah dengan struktur atau susunan atomnya yang tidak kukuh atau tidak stabil sebagai tempat pelindung yang digemari semua unsur yang mempunyai tekanan yang rendah.
    Dari segi Fizik, susunan atom yang tidak kukuh mempunyai frekuensi yang rendah. Frekuensi yang rendah ini pula hanya disukai oleh golongan jin. Pengamal perubatan tradisional misalnya, gemar menyimpan batu permata berwarna oren, merah, hitam dan kuning untuk tujuan seperti memerangkap tenaga asing. Berdasarkan kajian sains fizik, batu jenis ini mempunyai struktur atom yang kukuh dengan frekuensi rendah, perlahan dan digemari oleh unsur-unsur negetif. Namun batu permata yang berwarna merah jambu, ungu, putih, hijau dan biru didapati mempunyai struktur atom yang agak kukuh dan memiliki frekuensi bunyi yang tinggi serta laju.
    Orang-orang di Barat mempercayai hantu yang digambarkan sebagai "Drakula" dalam lakonan cerita-cerita seram yang mempunyai kaitan dengan frekuensi cahaya bulan penuh yang sedang menurun mengikut kalendar Islam jatuh pada 16hb. dan 17hb. setiap bulan.
    Berlian yang keras dengan struktur atom yang berbentuk segitiga atau piramid pula mempunyai tenaga elektrik yang lebih berkuasa dan mampu memberi berbagai-bagai kelebihan malah dapat menjadi benteng atau perisai kepada si pemakainya. Ini kerana berlian memerima spektrum tenaga cahaya matahari (tujuh warna). Mereka yang memakai berlian asli sebagai barang hiasan akan mempunyai perasaan harmoni kerana spektrum warna matahari sama dengan yang ada dalam tubuh manusia. Fungsi berlian banyak digunakan terutamanya dalam tujuan membersihkan persekitaran dan dalaman tubuh yang mengalami pencemaran radiasi.
    Hantu atau unsur tenaga yang lemah sebenarnya mencari kawasan udara yang berketumpatan rendah atau terlalu tinggi yang menghasilkan getaran pada kedudukan purata pada arah yang selari dengan arah rambatan gelombang.
    Tanda-tanda kawasan yang dikuasi oleh unsur-unsur tenaga lemah seperti kawasan yang berlumut, berbau busuk atau terlalu wangi, lembap atau terlalu kering dan panas, tempat sarang labah-labah atau terdapat serangga berbisa. Setiap kawasan-kawasan bersudut pada siling yang terlalu tinggi atau rendah dengan ruang yang sempit juga menjadi tempat yang disukai oleh unsur-unsur tenaga asing ini.
    Unsur tenaga asing ini juga dapat dilemahkan oleh AUDIBEL pada julat yang lebih kecil kurang daripada 20Hz. Bunyi ledakan gempa bumi dapat mengeluarkan belerang atau sulfur yang memerangkap unsur-unsur asing dan luar biasa ini. Selain itu, orang yang mempunyai semangat yang tinggi dengan keyakinan yang tidak berbelah bagi seperti kepercayaan kepada kekuasaan Tuhan sebenarnya dapat mencipata kelajuan seperti diatas.
    Garam atau kristal pula didapati hasil daripada bunyi yang amat ditakuti oleh unsur-unsur jahat ini. Garam laut Mediteranean dan laut mati mempunyai kekuatan kestabilan pada unsur darah tubuh iaitu sistem tulang. Orang-orang tua di zaman dahulu mempunyai banyak petua tentang kehebatan garam. Garam sebenarnya dapat meneutralkan unsur asid di dalam perut. Angin, gastrik, kejang, kesakitan dan bisa-bisa adalah berpunca daripada faktor kekurangan garam. Sebenarnya garam yang kita gunakan dalam masakan mengandungi banyak sodium berbanding garam yang terdapat pada laut Mediteranean yang didapati lebih semula jadi dan mengandungi banyak potasium. Pengambilan sodium yang berlebihan akan mengakibatkan pelbagai penyakit.
    Garam atau sulfur amat ditakuti oleh segala binatang berbisa yang menjadi penawar atau teman kepada orang yang ingin memasuki hutan rimba. Ini kerana sulfur atau juga dikenali sebagai belerang ini mempunyai frekuensi bunyi yang amat laju tetapi masih tidak boleh dikesan oleh organ pendengaran manusia. Inilah sebabnya mengapa ahli sihir tidak boleh meramalkan bila gempa bumi akan berlaku.
    Gempa bumi yang diakibatkan oleh aktiviti gunung berapi akan meluahkan larva atau belerang apabila meletus. Frekuensi bunyi yang tinggi pada belerang yang diluahkan kemudiannya akan memerangkap organisma yang mempunyai frekuensi bunyi yang lemah. Inilah sebabnya mengapa selepas sesebuah gunung berapi meletus kita akan mendapati virus atau bakteria membawa penyakit yang merbahaya memenuhi ruang kawah gunug berapi berkenaan.
Ayat Kursi mempunyai kelajuan gelombang yang dapat menjadi benteng kepada unsur-unsur jahat yang mempunyai gelombang jarak jauh dan perlahan. Iblis iaitu bapa segala jin dengan kuncu-kuncunya seperti syaitan yang berupaya melemahkan manusia menjadi was-was atau ragu-ragu dalam mencari ketenangan.
    Walau apapun iblis tetap satu bentuk tenaga yang boleh diubah atau ditukar bentuk dalam tenaga yang bergetar secara keseimbangan dalam gelombang dan frekuensi hijau. Orang yang berpuasa daripada makanan makanan berdarah dan hanya memakan sayur-sayuran (hijau) mempunyai deria yang amat peka kepada kedatangan unsur-unsur asing ini. Orang ini harus mempunyai kekuatan spiritual atau semangat agar ia dapat menepis daripada serangan tenaga asing yang sememangnya benci kepada keimanan atau kehijauan dalam frekuensi jantung.
    Hijau adalah warna keimanan atau perasaan. Orang yang mempunyai kekuatan iman dengan kelebihan budi (jantung) akan menjadi sasaran oleh unsur-unsur nafsu dan kejahatan ini. Warna hijau yang terletak pada titik tengah dalam frekuensi air dengan PH 7.5 yang neutral akan dicerobohi oleh unsur-unsur kejahatan untuk diubah menjadi frekuensi merah yang berasid.
    Hantu tenaga asing ini sebenarnya boleh didapati di mana-mana sahaja tidak kira di udara, air, tanah, angin dan api. Jadi bagaimanakah caranya untuk memastikan unsur ini dapat dineutralkan dalam satu bentuk tenaga yang tidak menggangu? Frekuensi hantu boleh dikesan dengan menggunakan sejenis peralatan khas yang pelbagai reka bentuknya. Salah satu yang digunakan di negara ini ialah spektronanometer. Alat ini biasanya digunakan untuk melihat struktur batu-batan. Setiap elemen yang ditemui akan dinilai mengikut frekuensi warna dan getaran bunyi daripada ukuran tersebut akan dikenalasti sama ada kawasan berkenaan mempunyai frekuensi, tekanan dan struktur atom yang stabil atau sebaliknya.
    Kehadiran unsur asing dan hantu ini turut dapat dikesan oleh dera sentuh khususnya bulu roma yang berfungsi sebagai antena kepada manusia. Kehadiran unsur-unsur negatif ini akan membuatkan bulu roma berdiri tegak dan diikuti oleh perasaan seram.
    Selain itu, bau-bauan berasap seperti kemenyan hitam yang sering digunakan dalam upacara pengkebumian atau pemujaan juga merupakan agen yang mengundang tenaga asing. Begitu juga dengan tempat tertutup yang tidak dimasuki oleh cahaya dan angin. Tempat-tempat ini turut merupakan faktor penarik kepada unsur-unsur asing ini.
    Mengikut kepercayaan masyarakat Cina dengan membakar mercun dan membunyikan objek-objek tertentu dengan nada yang tinggi atau maksimum akan dapat memerangkap atau menghalau hantu kerana bunyi yang kuat sebenarnya mewujudkan kawasan tekanan rendah yang menjadi tarikan atau magnet kepada unsur asing ini yang juga mempunyai gelombang atau frekuensi dalam tekanan yang rendah. Tidak hairanlah sekiranya para perawat yang hendak menangkap hantu menggunakan botol-botol kosong untuk menghasilkan bunyi. Botol-botol kosong ini sebenarnya telah mewujudkan satu bunyi atau tekanan rendah dan mudah memerangkap unsur-unsur negatif ini melalui satu arahan dari dalam hati dengan frekuensi yang penuh tenang dan tidak gementar.
    Proses rambatan gelombang bunyi ini akan menghasilkan kawasan-kawasan regangan dan pemampatan molekul-molekul udara dan seterusnya mengakibatkan perubahan, ketumpatan dan tekanan di kawasan yang terlibat. Gelombang bunyi ini sebenarnya bersamaan dengan gelombang tekanan. Oleh itu, manusia harus bijak mencari titik keseimbangan yang harmoni untuk menjadikan kediaman mereka sesuai untuk didiami.
    Penyingkiran Tenaga Asing
    Sebagaimana seseorang yang telah terkena sihir atau mempunyai penyakit kronik. Sebenarnya di dalam tubuh si pesakit terutamanya pada bahagian pusat dalam kedudukan usus besar telah wujud satu frekuensi tekanan yang amat rendah. Ini sememangnya akan mengundang pelbagai bentuk tenaga asing yang jahat bagi menambahkan kesakitan dan gangguan fikiran.
    Rawatan yang boleh digunakan ialah dengan cara mandian dengan air disiram di atas kepala dengan serentak si pesakit menghentakkan kakinya ke tanah berulangkali. Tujuannya ialah apabila frekuensi hentakkan sama dengan frekuensi asli tanah tersebut maka satu amplitud maksimum akan dihasilkan. Selain itu, kaedah mandian pati bunga-bunga ros putih juga berkesan kerana bunga jenis ini mempunyai frekuensi yang amat laju dan mampu meleraikan gelombang yang tidak stabil di dalam dan di persekitaran tubuh si pesakit.

Mindasains.com


Thursday, March 3, 2011

Al Qur'an dan Tenaga


Mari kita renungkan sejenak, bahawa setiap firman Allah yang direkodkan di dalam Al Quran, adalah perkataan dari Allah S.W.T sendiri, Pencipta sekalian alam ini. Kita perlu juga mengetahui, bahawa ayat-ayat Allah bukanlah hanya sekadar pembacaan mulut kita sahaja.

Setiap kali kita membaca Al Quran, ayat-ayat ini mempunyai tenaga dan frekuensi yang amat kuat, di mana kita selalu mendengar dari ustaz-ustaz dan para alim ulama yang mengatakan bahawa ayat-ayat Al Quran mempunyai khasiat. Dalam istilah sains, perkataan khasiat ini sebenarnya adalah merupakan tenaga.

Sebagai bukti, Allah telah memberi jaminan, bahawa isi kandungan Al Quran akan tetap terpelihara sehingga hari kiamat, dan tidak akan dapat diselewengkan, ditiru, atau pun dipalsukan. Ianya hanya boleh bertukar bentuk, iaitu dari bentuk asal (firman Allah) yang diwahyukan kepada Rasulullah S.A.W oleh perantaraan Malaikat Jibril A.S di dalam bahasa Arab (yang direkodkan/dijilidkan), sehingga ke bentuk moden, yang pada hari ini boleh kita temukan dalam bentuk CD, Software dan sebagainya.

Tetapi isi kandungannya tidak akan pernah berubah, tidak akan dapat dipinda atau diubah oleh sesiapapun kerana adanya jaminan pemeliharaan dari Allah.

Apakah pula definisi tenaga di dalam fizik?

Tenaga di dalam fizik merupakan suatu kuantiti skalar yang menerangkan jumlah kerja yang dapat dilakukan oleh sesebuah daya dan juga merupakan sejenis ciri pada objek dan sistem yang menuruti sebuah Hukum Keabadian. Jenis-jenis tenaga termasuklah tenaga kinetik, keupayaan, haba, graviti, bunyi, cahaya, elastik dan elektromagnetik.

Mengikut Prinsip Keabadian :

Tenaga tidak boleh hilang atau dimusnahkan tetapi ia boleh di tukar kepada bentuk yang lain.


Perhatikanlah kesinambungan definisi tenaga yang dapat kita lihat dari penerangan diatas. Maka janganlah kita memandang rendah pada pembacaan ayat-ayat Al Quran, kerana setiap pembacaan, ianya mengeluarkan tenaga yang amat kuat frekuensinya. Amalkanlah ayat-ayat Al Quran dalam hidup kita. Tenaganya boleh berfungsi sebagai ubat, penawar, meluaskan kemewahan rezeki, ketaqwaan, keimanan dan akhlak yang positif.

Kebenaran AL QURAN adalah benar dan terus di buktikan secara SAINTIFIK

 Tubuh badan manusia dibina dari lebih dari 53 trillion sel-sel yang hidup dan sentiasa bergetar. Hasil daripada getaran itulah yang mengeluarkan haba dan memanaskan tubuh badan manusia. Sel-sel tubuh manusia memerlukan zat makanan untuk hidup dan melakukan fungsinya.

      Kajian terkini menggunakan “ nano teknologi  ” telah mendapati bahawa dalam setiap sel itu pula mengandungi 10,000 sel hidup yang memiliki kebijaksanaan (intelligence) dan melaksanakan fungsi seperti mana yang telah diprogramkan. Program-program ini dikawal oleh otak melalui talian maklumat yang disampaikan menerusi sistem saraf (meredian lines). Talian saraf ini seumpama talian telefon yang memerlukan tenaga eletrik bagi membawa denyutan (pulse) maklumat daripada otak ke anggota tubuh menerusi saraf sebagai “arahan” dan sebaliknya maklumat daripada anggota tubuh dihantar sebagai “  laporan  ” kepada otak supaya otak dapat memproses maklumat itu dan mengenalpasti keadaan anggota berkenaan.

Sekiranya anggota itu sakit, maka otak akan mencari penyelesaiannya seperti mengeluarkan enzim-enzim atau kimia tertentu bagi memulihkan anggota berkenaan. Kesemua proses biologi ini tersusun dalam satu rangkaian proses yang berhubung kait antara satu sama lain.

      Fenomena dalam tubuh manusia ini amat menakjubkan para pengkaji dan saintis ditambah pula dengan penemuan Medan Tenaga Manusia (Human Energy Field (HEF)) oleh Dr Willian Kilner pada tahun 1911 lagi. Kilner memanggilnya sebagai AURA dan istilah ini masih digunakan sampai hari ini.

Kajiannya mendapati bahawa medan tenaga manusia ini memiliki beberapa lapisan tenaga utama. Lapisan paling hampir berada dalam tubuh hingga ke kulit.

Lapisan kedua meliputi satu inci daripada kulit dan lapisan ketiga meliputi 6 inci daripada lapisan kulit tubuh manusia. Ujian teliti telah dilakukannya dan mendapati bahawa kadar lapisan tenaga ini berbeza berdasarkan umur, jantina, kesihatan, kebolehan mental dan emosi seseorang.

      Dr Wilhelm Reich, seorang saintis dan juga psychiatrist menamakannya “orgone” dan menemui bukti bahawa aliran tenaga dalam tubuh manusia mempunyai hubungan rapat dengan keadaan fizikal dan psikologi manusia. Reich mengakui bahawa teknik rawatan akupuntur yang diamalkan oleh tabib-tabib cina semenjak ribuan tahun dahulu dengan melepaskan halangan tenaga yang tersekat dalam sistem saraf manusia mampu menghapuskan fikiran negatif, tekanan emosi dan kesakitan fizikal.

      Pada tahun 1930, Dr Lawrence Bendit dan Phoebe Bendit juga menemui bukti hubungan antara medan tenaga manusia dengan kesihatan dan keupayaan penyembuhan tubuh, malah kaitannya dengan kepercayaan agama dan kerohanian. Ini disokong oleh Dr Schafica Karagula dan Dr Dianne yang mendalami fenomena ini dan berjaya mengkaitkannya sehingga kepada masalah gangguan fikiran otak hinggalah ke perut.

      Perlu kita ingat, medan tenaga manusia ini adalah berasaskan tenaga yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh manusia yang bergetar disebabkan oleh getaran atom-atom dalam sel tersebut.

      Dr. Richard Dobrin, Dr John Pierrakos dan Dr Barbara Ann Brennan pula membuat kajian dan analisa terperinci tentang medan tenaga manusia ini dan berjaya membuktikan bahawa tenaga ini juga menghasilkan sinar cahaya. Mereka menggunakan alat pengesan cahaya yang amat sensitif hingga boleh mengesan kadar gelombang cahaya serendah 350 nanometer. Kadar sinar cahaya ini amat bergantung kepada kesihatan, perasaan dan emosi seseorang dan penemuan yang paling menakjubkan adalah kaitannya dengan kepercayaan keagamaan dan spiritual seseorang.

Amat benarlah hadis yg diriwayatkan Bukhari dan Muslim yg mafhumnya :

" Sesungguhnya umatku akan dipanggil kelak dgn muka2 dan tangan2 yg bercahaya dari bekas wuduk,maka barangsiapa dari kamu dapat memperpanjangkan cahaya mukanya maka hendaklah dia melaksanakannya "

Sementara hadis riwayat ibnu Asaakir dan Dailammi pula berbunyi :

 " Istighfar itu papan catatan amal,kemilau cahayanya "

Pernah juga kita terdengar Nur yg terpancar dari wajah org2 soleh dan Nur dari wajah RAsulullah SAW.


      Dr. William Eidson dan Karen Gestla dari Universiti Drexel, Dr Hiroshi Motoyama dari Jepun, Dr Zheng Rongliang dari Universiti Lanzhou juga membuat kajian lanjut berkenaan medan tenaga ini. Sementara itu, sekumpulan saintis dari Bioinformation Institute of A.S Popow mengumumkan penemuan kukuh bahawa organisma hidup mengeluarkan getaran tenaga berfrekuensi antara 300 hingga 2000 nanometers. Mereka memanggilnya sebagai ‘Medan Tenaga Bio” atau “Bioplasma”.

Penemuan ini disahkan oleh Akademi Perubatan Moscow dan disokong oleh penyelidikan di Great Britain, Netherlands, Germany, Amerika dan Poland.

      Sel-sel tubuh memerlukan air sebagai sumber makanan utama dengan membentuk 70% daripada tubuh adalah air. Berlandaskan fakta ini dapatlah kita simpulkan bahawa makanan dan minuman yang baik akan membentuk sel-sel yang baik. Sel-sel yang baik ini pula akan bergetar mengeluarkan tenaga. Perubahan kekuatan bioplasma dan sinar cahaya oleh tenaga itu pula telah dibuktikan secara saintifik berkait rapat dengan kadar kesihatan, fizikal, emosi, malah psikologi dan kerohanian seseorang. Maka kini terbongkarlah secara saintifik rahsia rawatan alternatif yang diamalkan oleh orang-orang terdahulu yang digelar sebagai sains kuno.

      Dapatlah kita fahami kini bagaimana logik dan relevennya amalan masyarakat kita yang diwarisi dari petua dan kaedah ulama silam seperti amalan mingguan membaca Surah Yasin yang biasanya diisi sebagai program amal pada malam Jumaat dan ada antara kita yang mengambil kesempatan menadah air sempena keberkatan daripada bacaan Surah Yasin tersebut.

Adakah amalan meminum air Yasin ini adalah perbuatan sia-sia? Adakah ia amalan khurafat, bidáh dan tak logik akal? Allah SWT menciptakan asbab bagi setiap kejadian. Bagaimana pula asbab bagi pelbagai mukjizat ayat Al-Quran ini? Sains dan Al-Quran tidak dapat dipisahkan. Sains berada didalam Agama dan Al-quran.

      Kata alim ulama, membaca Al-Quran membawa keberkatan dan kini sains telah membuktikan kebenarannya. Keberkatan bererti baik dan bermanafaat dunia dan akhirat. Apabila getaran suara daripada bacaan Al-Quran bertembung dengan getaran sel-sel tubuh yang juga bergetar, ia akan berinteraksi dan bersatu.

Getaran bacaan Al-Quran daripada ayat-ayat tertentu memberi makna dan impak berbeza menurut maksud ayat-ayat tersebut. Maka dakwaan bahawa ayat-ayat shifa yang memberi impak perubatan zahir dan batin merupakan kenyataan yang amat benar secara saintifiknya.

Firman Allah SWT dalam Surah Al-Israa’ ayat 82 mafhumnya:

“Dan Kami turunkan daripada Al-Quran apa yang menjadi penyembuh(ubat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman(yang mempercayainya) dan tiadalah Al-Quran itu menambahkan kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

Sabda Rasulullah SAW;

“Lazimilah kamu menggunakan dua penyembuh iaitu manisan madu(asli) dan Al-Quran.”

      Allah SWT berkuasa “mencipta dari yang tiada” dan manusia hanya berupaya mencipta dari yang ada. Maka anugerah “mencipta dari yang ada” patutlah dimanfaatkan oleh manusia. Ciptalah gelombang dan getaran positif kedunia ini dari pemikiran, suara, tulisan, lukisan dan perasaan serta niat yang baik. Getaran-getaran tersebut akan berinteraksi dengan apa saja binaan dan unsur didunia ini, apatah lagi bioplasma tubuh manusia yang bersifat halus dan lembut.

Penciptaan rawatan menerusi air yang dibacakan atau ditulis ayat Al-Quran memang secara sainsnya terbukti memberi kesan kepada organisma bioplasma samaada manusia, binatang, tumbuhan atau apa saja yang seunsur dengannya.

      Asasnya, semua kejadian daripada Allah, itulah akidah kita. Berusaha dan bersungguh, dengan izin Allahlah usaha dan ciptaan kita akan berhasil. Sementara manusia yang takut untuk mencipta apa-apa tidak akan merasai bertapa hidupnya alam ciptaan Allah ini.

Lapangkan dada dan minda, bacalah ayat-ayat Allah SWT dengan penuh penjiwaan, apabila getaran ayat-ayat ini telah berinteraksi dengan getaran bioplasma tubuh, kita akan dapat rasai betapa tenangnya emosi dan perasaan kita. Ketenangan inilah yang mententeramkan fikiran dan merawat getaran bioplasma neuron otak agar berfungsi seperti sediakala.

Otak yang mengawal semua fungsi sel dan tenaga manusia akan memproses dan memberi reaksi yang sesuai dengan mengeluarkan kimia tubuh samada kimia di otak atau cecair kimia di organ-organ tubuh bagi memperbetulkan organ-organ yang terganggu. Itu hanya impak daripada penciptaan getaran daripada bacaan Al-Quran, apatah lagi jika ayat-ayat suci ini ditulis.

      Air yang terdedah kepada gambar, bacaan, muzik dan getaran fikiran, emosi atau niat akan berubah struktur molekul airnya dan membentuk getaran-getaran bioplasma sesuai dengan sifat yang dipancarkan.

Cubalah anda mengambil dua gelas air longkang yang kotor dan letakkan salah satu gelas tersebut berdekatan dengan segelas air bersih yang dibacakan atau dituliskan ayat suci Al-Quran. Bezakan antara keduanya seminggu kemudian, anda akan dapati air dalam gelas tersebut akan bertukar lebih bersih dan lebih bersinar dari air longkang dalam gelas yang anda pinggirkan sendirian. Ini adalah kajian mudah bagi membuktikan interaksi getaran bioplasma dalam air.

      Iman Abu Qasim Qushairi juga pernah menceritakan kaedah larutan tulisan dalam air bersih ini yang digunakan untuk mengubati anaknya. (Kitab Uswai Rasuuli Akram dari Madarijun Nubuawah.)

Imam Al-Qurtubi dan Imam Al-Hakim pernah meriwayatkan seperti dalam kitab “Al-Mustadrak” bahawa Abu Jaafar Muhammad B Ali pernah berkata; “Sesiapa merasa dalam hatinya rasa kasar(keras) maka hendaklah dia menuliskan surah Yasin pada sebuah pinggan dengan air dan Zaáfaran, kemudian hendaklah dia meminumnya.”

      Saintis terkemuka Jepun, Masaru Emoto pernah datang berceramah ke Malaysia juga telah menggunakan teknologi canggih mengambil imej molekul air yang diperdengarkan bacaan Al-Quran dan yang didedahkan kepada tulisan Al-Quran telah mendapati bahawa molekul air tersebut berubah bertukar menjadi amat cantik dan tersusun yang mana amat menakjubkan beliau sendiri.

      Sebagai umat Islam kepercayaan kita kepada ayat-ayat Allah mestilah jitu walaupun tanpa apa-apa sandaran logik akal. Kini, Allah SWT telah membuka sedikit demi sedikit rahsia dan mukjizat ayat-ayatNya menerusi penemuan demi penemuan berasaskan kajian saintifik.

Malangnya penemuan-penemuan ini dianugerahkan kepada orang bukan Islam yang mungkin lebih berfikiran terbuka berbanding dengan umat Islam kini yang masih terperangkap dalam ilmu sendiri tanpa mahu membukanya kepada fakta-fakta lain yang telah dibuka rahsia alam ini oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Mungkin kerana mereka bukan beragama Islam, maka kajian mereka itu semuanya palsu. Malang sekali mereka yang berfikiran sebegini.

Bukalah minda bukalah dada, tidak semua perkara yang tak logik akal itu adalah salah atau khurafat dan bida’ah, apatah lagi sesuatu yang telah dibuktikan oleh para pengkaji sains yang mampu memberi kesan dan membawa manafaat kepada manusia.

      Umat Islam kini mesti terus maju secara intelektual, fizikal dan ekonominya disamping terus taat dengan kepercayaan akidah Islamiah. Rapatkan ukhuwah dan berjuanglah atas dasar persamaan bukan atas dasar perbezaan. Sediakan diri menghadapi segala cabaran dahsyat yang sedang melanda kini. Jangan menuding jari dan mencemuh usaha orang lain tanpa usul mendalam. Kepandaian dalam pendidikan agama tidak boleh dijadikan batas kepada mendalami kajian saintifik, fizik, biologi, kimia dan lain-lain.

 

Sains telah menemui jawapan dan kebenarannya, apakah kita mahu menyangkalnya? Atas dasar syirikkah? Makan panadol dengan mengiktikadkan boleh menyembuhkan sakit kepala, adalah syirik. Salah panadol atau salah pemakannya? Salah makan atau salah iktikad? Sama-sama kita halusi permasalahan ini.
Dr Mohd Arip membuat satu demonstrasi dengan mengunakan Graf Microsoft Excel. Dimana beliau telah memasukan jumlah bilangan ayat-ayat dari 114 surah al-Quran kedalam sel-sel Microsoft Excel. Paksi X mewakili nombor surah, manakala paksi Y ialah jumlah ayat. Susunan yang dimasukkan kedalam graf itu membentuk huruf 'J'. Kemudian satu lagi graf ditunjukan, kali ini susunan 61 surah al-Quran palsu karya Anish Shorrosh. Dengan mengunakan teknik yang sama, graf menunjukan taburan titik ayat dan surah al-Quran palsu ini tidak membentuk apa-apa susunan yang seragam. Seterusnya taburan titik-titik al-Quran pada graf tersebut dicantumkan, lalu terbentuklah huruf alif, lam, lam, ha dan cantuman itu terhenti secara spontan pada titik terakhir, membentuk kalimah 'Allah'. Satu lagi graf disambungkan, kali ini titik-titik yang disambungkan membentuk huruf mim, ha, mim, dal, 'Muhammad'.


http://www.carigold.com/portal/forums/showthread.php?t=121160
 

Wednesday, February 23, 2011

Hikmah sujud


Hikmah sujud - Sujud lega sistem pernafasan

Mungkin ramai di kalangan umat Islam tidak sedar mengenai pelbagai hikmah  yang tersembunyi ketika sujud. Pada hal, kita perlu sedar bahawa tiada suatu pun ciptaan dan suruhan Allah s.w.t. yang sia-sia, malahansetiap ciptaan itu mempunyai kelebihan yang selalunya tidak terjangkau akalmanusia. Manusia melakukan sujud dalam dua bentuk, iaitu sujud fizikal seperti ketika bersolat dan sujud spiritual berbentuk ketaatan kepada perintah Allah s.w.t. dan menjauhi larangannya.
Ulama mengatakan sujud ketika solat adalah waktu manusia paling hamper dengan Allah s.w.t. dan mereka menggalakkan kita bersujud lebih lama. Antara hikmah lain sujud adalah melegakan sistem pernafasan dan mengembalikan kedudukan organ ke tempat asalnya. Bernafas ketika sujud pula boleh:

 - membetulkan kedudukan buah pinggang yang terkeluar sedikit dari  tempat asalnya.
 - membetulkan pundi peranakan yang jatuh.
 - melegakan sakit hernia. (burut)
 - mengurangkan sakit senggugut ketika haid.
 - melegakan paru-paru daripada ketegangan.
 - mengurangkan kesakitan bagi pesakit apendiks atau limpa.
 - kedudukan sujud adalah paling baik untuk berehat dan mengimbangkan lingkungan bahagian belakang tubuh.
 - meringankan bahagian pelvis.
 - memberi dorongan supaya mudah tidur.
 - menggerakkan otot bahu, dada, leher, perut serta punggung ketika akan sujud dan bangun daripada sujud.
 - pergerakan otot itu menjadikan ototnya lebih kuat dan elastik,secara automatik memastikan kelicinan perjalanan darah yang baik.
 - bagi wanita, pergerakan otot itu menjadikan buah dadanya lebih baik,mudah
 berfungsi untuk menyusukan bayi dan terhindar daripada sakit buah dada.
 - mengurangkan kegemukan.
 - pergerakan bahagian otot memudahkan wanita bersalin, organ peranakan mudah
 kembali ke tempat asal serta terhindar daripada sakit gelombang perut(convulsions).
 - organ terpenting iaitu otak manusia menerima banyak bekalan darah dan oksigen.
 - mengelakkan pendarahan otak jika tiba-tiba menerima pengepaman darah ke
 otak secara kuat dan mengejut serta terhindar penyakit salur darah dan sebagainya.

Dari segi psikologi pula, sujud membuatkan kita merasa rendah diri di hadapan Yang Maha Pencipta sekaligus mengikis sifat sombong, riak, takbur dan sebagainya.

Dari segi perubatan, kesan sujud yang lama akan menambahkan kekuatan aliran darah ke otak yang boleh mengelakkan pening kepala dan migrain, menyegarkan  otak serta menajamkan akal fikiran sekali gus menguatkan mentality seseorang. Menurut kajian, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah sedangkan setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal dan sempurna.

 Tujuh kalimat
 Sabda Rasulullah S.A.W
 " Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak busa/buih laut "

 1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
 2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
 3. Mengucap Astagfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut
 4. Mengucap Insya Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
 5. Mengucap La haula wala kuwwata illa billah jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
 6. Mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rajiun jika menghadapi dan menerima musibah.
 7. Mengucap La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah sepanjang siang malam  sehingga tak terpisah dari lidahnya dari tafsir hanafi, mudah-mudahan ingat, walaupun hanya sedikit mudah-mudahan istiqomah.


sumber petikan email

Thursday, February 10, 2011

Bicara tentang aura

Aura juga dikenali dengan pelbagai nama antaranya chakra, chi, prana, kuasa minda, tenaga batin dan sebagainya.

 

 

 

Kajian Awal Tentang Aura

Pengkajian tentang aura juga telah dipermodenkan di mana ia dikaji secara saintifik. Sejenis kamera khas dicipta untuk merakam warna2 aura yang menyelubungi seseorang. Beberapa kaedah dan tips juga diperkenalkan bagi melihat aura dengan mata kasar. Dan ini boleh dibuktikan dan diulangi berulang-ulang kali dalam kajian. Dalam tafsiran moden, aura ditafsirkan sebagai gelombang elektro magnetik yang terpancar dari benda2 hidup. Malah kawasan atas muka bumi juga dikatakan mempunyai aura yang berbeza2.

Elektro magnetik adalah gelombang yang terhasil daripada ayunan menerus sendiri yang terdiri daripada medan magnet dan elektrik. Ia adalah satu bentuk sinaran atau cahaya. Sinaran elektromagnet dibahagikan mengikut frekuensi gelombang iaitu gelombang radio, gelombang mikro (microwave), sinaran inframerah, cahaya nampak, sinaran ultraungu, sinar-X dan sinar gamma. Hanya pada julat frekuensi tertentu gelombang elektro magnetik itu boleh dikesan oleh mata dan ia dikenali sebagai spektrum nampak.

Menurut bidang perubatan (neurologi), saraf2 dalam badan manusia menghantar isyarat melalui impuls (denyutan) elektrik dari satu deria ke otak. Oleh itu badan manusia boleh dikatakan mempunyai cas elektrik yang kecil. Manakala bumi sebagaimana yang diketahui mempunyai medan magnet, ini boleh ditunjukkan oleh jarum kompas. Adakah gabungan medan elektrik dari badan manusia dan medan magnetik bumi boleh menghasilkan sinar elektro magnetik? Tiada kajian lagi tentang perkara ini?

Tidak banyak kajian mengenai aura dan kesan, pengaruh serta kegunaannya secara saintifik.

Adakah aura suatu yang asing dalam Islam?

Dalam bahasa mudah, adakah aura itu bidaah dan sesat seperti dakwaan sesetengah pihak? Agak pelik juga jika kewujudan aura yang boleh disahkan berulang-ulang kali dengan mata kasar iaitu dengan kaedah melihat aura di hujung jari, di tapak tangan, menggunakan cermin dan latar putih dalam cahaya suram, boleh dikatakan sesat, bidaah. Apa yang mereka lihat aura itu sebagai cahaya putih atau berwarna, adakah itu dikatakan sesat dan bidaah? Adakah sains itu satu bidaah dan sesat? Ini kerana sains adalah satu ilmu kajian, kajian tentang alam dan kehidupan.
Memang benar terlalu banyak elemen2 diserapkan ke dalam pemahaman tentang aura terutama dari pelbagai agama. Tetapi oleh kerana aura adalah satu juzuk atau unsur yang kehadirannya boleh dibuktikan secara sainstifik berulang-ulang kali seperti kewujudan elektrik dalam wayar tanpa pembalut di mana kehadiran dan kewujudan elektrik itu boleh dibuktikan, maka aura tidak wajar dikatakan elemen2 agama ardhi atau berteraskan agama ardhi.
Firman Allah SWT :
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Maksudnya : Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Az-Zumar : 9.
Maksud hadis: “Kelebihan seorang alim atas seorang a’bid, laksana kelebihan bulan purnama ke atas seluruh bintang2″.
Apa yang aku nak maksudkan di sini, jangan hentam ikut suka tanpa asas yang kukuh. Teringat satu doa’ Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Mukhtarul hadiths, yang bermaksud:
“Ya Allah! Jadikanlah hatiku bercahaya, dan pada lidahku bercahaya dan jadikanlah pada penglihatan ku bercahaya dan pada pendengaranku bercahaya, dan dari kanan ku bercahaya, dan dari kiriku bercahaya, dan daripada atas ku bercahaya, dan daripada bawah ku bercahaya, dan dari muka ku bercahaya, dan dari belakang ku bercahaya, dan jadikanlah pada diriku bercahaya dan sebesar-besar bagiku bercahaya.”
Cahaya adalah satu bentuk gelombang elektromagnetik dan aura juga adalah satu gelombang elektromagnetik. Kedua-duanya terpancar daripada suatu jisim atau dan jumlah pancaran bergantung kepada sumbernya. Aura adalah satu bentuk cahaya atau sinaran elektomagnetik yang terpancar dari hidupan. Walaupun cahaya dalam hadis itu mungkin boleh dikaitkan dengan aura, TETAPI jangan salah faham dan jangan pula salah fokus@tumpuan. Jangan pula beramal untuk aura pula.
Sekali lagi dikatakan aura terpancar bergantung kepada sumbernya. Fokus doa itu adalah kepada sumbernya iaitu kepada jiwa muslimin dan bukannya kepada aura. Aura terpancar mengikut jiwa dan fisiologi seseorang. Salah faham seperti ini menghasilkan fahaman misalnya jika sakit kepala maka gunakan produk aura X, ia memperbaiki aura yang kononnya menyebabkan sakit kepala. Padahal sakit kepala mungkin disebabkan oleh keradangan saraf, tegangan atau tekanan seperti akibat cuaca panas, stress atau masalah kesihatan lain. Kenapa tak gunakan “panadol” sahaja, kan lagi senang. Lain yang sakit, lain pula yang dirawat!
Lagi hadis yang boleh dikaitkan dengan kewujudan aura. Maksud hadis:
Hadis riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Kalian adalah orang-orang yang memiliki cahaya muka, cahaya tangan dan cahaya kaki pada hari kiamat, kerana penyempurnaan wudu. Maka barang siapa di antara kalian yang mampu, hendaklah ia memanjangkan cahaya putih tersebut.
Walau tidak disebut dengan istilah aura dalam Al-Quran, tetapi terdapat beberapa ayat yang menerangkan tentang cahaya “aura” ini dengan agak jelas.
Firman Allah SWT yang bermaksud:
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu’min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” At Tahriim : 8
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”. Al Hadiid : 12
يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.  Al-Hadiid: 13
Kesimpulan dari ayat2 dan hadis menunjukkan aura itu wujud dan merupakan salah satu ciptaan Allah SWT, satu cabangan ilmu yang kita namakan sebagai mekanik kuantum, atau fizik atom, cahaya, elektrik dan elektro magnet. Masalah istilah bukanlah masalah besar. Misalnya istilah “orbit” tak wujud dalam Al-Quran, sebaliknya ia disebutkan sebagai garis edaran.
Firman Allah SWT yang bermaksud:
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. Yaa Siin : 40



Perhatikan kuatnya cahaya aura itu adalah berpunca dari sumber yang memancarkannya.



 



Firman Allah s.w.t:
Allah yang menerangi langit dan bumi. Bandingan nur hidayah petunjuk Allah adalah sebagai sebuah "misykaat" yang berisi sebuah lampu; lampu itu dalam geluk kaca (qandil), geluk kaca itu pula (jernih terang) laksana bintang yang bersinar cemerlang; lampu itu dinyalakan dengan minyak dari pokok yang banyak manfaatnya, (iaitu) pokok zaitun yang bukan sahaja disinari matahari semasa naiknya dan bukan sahaja semasa turunnya (tetapi ia sentiasa terdedah kepada matahari); hampir-hampir minyaknya itu - dengan sendirinya - memancarkan cahaya bersinar (kerana jernihnya) walaupun ia tidak disentuh api; cahaya berlapis cahaya. Allah memimpin sesiapa yang dikehendakiNya kepada nur hidayahNya itu; dan Allah mengemukakan berbagai-bagai misal perbandingan untuk umat manusia; dan Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.

  (An Nur: 35)

Eksperimen tentang Aura

Segmen ini adalah petikan dari blog/web lain, boleh cuba untuk lihat sendiri kewujudan aura. Rasanya, tiada unsur2 pemujaan, spiritual, atau pelik2 dalam eksperimen di bawah. Selamat mencuba.

1. Melihat Aura Dengan Jari Tangan
Carilah tembok yang berwarna putih, lalu duduklah dengan tenang pada jarak 1/2 meter dari tembok. Ambil nafas sebanyak mungkin dan tahan selama mungkin. Lakukan sebanyak 5 kali. Gosoklah kedua telapak tangan hingga terasa hangat. Rapatkan masing-masing jari tangan kanan dan kiri saling berpasangan. Letakkanlah kedua tangan yang masih berpasangan tadi 30 cm di depan mata dengan latar belakang tembok berwarna putih. Renggangkanlah perlahan-lahan kedua telapak tangan saling menjauh. Perhatikanlah, antara kedua ujung jari tadi akan mengeluarkan garis cahaya putih. Itulah aura yang memancar dari ujung jari kita.
2. Melihat Aura Dengan Telapak Tangan
Tariklah nafas dan gosokkanlah kedua telapak tangan seperti pada cara No. 1. Tempelkanlah salah satu telapak tangan pada tembok yang berwarna putih. Tariklah nafas, tahan dan hembuskanlah. Lepaskan telapak tangan dari tembok. Amatilah bekas telapak tangan yang tertinggal ditembok. Itulah aura yang memancar dari telapak tangan dan lama kelamaan akan larut dalam aura alam.
3. Melihat Aura Diri Sendiri
Letakkanlah cermin besar dihadapan kita. Duduklah dengan tenang. Usahakanlah latar belakang tembok berwarna putih dan penerangan berupa lampu neon. Tariklah nafas sebanyak mungkin dan tahanlah selama mungkin. Ulangilah sebanyak 5 kali. Tataplah bayangan diri kita yang ada di cermin. Pandangan mata diusahakan tidak melihat tubuh maupun bayangan tubuh, namun lihatlah batas tepian kepala dengan latar belakang tembok. Setelah pandangan mata kita terfokus, maka perlahan-lahan dari kepala dan bahu akan keluar cahaya aura kita. Sinar yang pertama kali terlihat, biasanya berwarna putih. Putih ini biasanya bukan merupakan warna aura kita yang sesungguhnya, melainkan dari warna aura yang sesungguhnya. Tataplah terus sampai kita melihat warna lain yang tidak berubah. Setelah berhasil, mulailah untuk melihat aura orang lain.
4. Melihat Aura Orang Lain
Mintalah bantuan seseorang yang akan menjadi objek untuk berdiri didepan tembok yang berwarna putih. Usahakanlah penerangan di dalam ruangan dibuat remang-remang atau redup. Berdirilah lebih kurang 3 meter di depan objek. Fokuskanlah pandangan mata pada bagian tepi kepala dan bahu objek. Perlahan-lahan akan keluar sinar aura dari tepi kepala objek. Fokuskanlah pandangan pada seluruh tepian tubuh objek, maka seluruh tubuh objek akan memancarkan warna aura.


Dalam sejarah sains, alkimia (bahasa Arab: الكيمياء, al-kimia) merujuk kepada kedua-dua jenis penyelidikan sains alam dan disiplin falsafah dan rohaniah yang menggabungkan unsur kimia, metalurgi, fizik, perubatan, astrologi, semiotik, mistik, spiritualisme dan seni yang digabungkan menjadi suatu daya yang kuat. Perkataan alchemist itu sendiri berasal dari bahasa Arab الكيمياء al-Kimia, dan ia pula berasal dari kata Parsi Kimia کيميا. Tamadun Islam telah merevolusi alkimia dan ia menjadi asas kepada kimia moden hari ini.

sumber : wikipedia.org

Friday, February 4, 2011

Zikir sebagai sumber kekuatan

Zikir sebagai sumber kekuatan

Firman Allah swt:
“….Ketahuilah dengan mengingati Allah itu hati menjadi tenang.”(ar-Ra’d:28)

Manusia mempunyai empat fakulti pada dirinya iaitu Ruh,emosi (nafsu), akal dan jasad.Ruh diturunkan kealam ini dalam jasad yang diciptakan dari tanah.Ia dibekalkan dengan nafsu dan akal.Manusia yang hanya hidup untuk kekuatan jasad, akal atau nafsu semata-mata akan tewas degan segala ujian hidup.

Kekuatan Ruh amat diperlukan untuk mengawal emosi, akal dan jasad,Kekuatan jasad amat terhad, ianya mengikut kata hatinya.Kekuatan daya intelek (IQ) juga terbatas, ia boleh merancang, bijak dalam tindakan dan sebagainya, tetapi dalam reality kehidupan banyak perkara luar dugaan akal berlaku.Akal menjadi lemah apabila perancangannya gagal, lemah bila menghadapi musibah kematian, kesakitan, perpisahan dan sebagainya.

Kekuatan emosi juga tidak kuat jika tidak bertaut dengan Tuhan.Manusia akan menjadi kuat jika ia dapat berhubung dengan Allah swt.Tetapi bagaimana mahu berhubung denganNya walaupun Ia lebih dekat dari leher (halkum) insan itu sendiri.

Firman Allah:
“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya sendiri.” (al-Qaf:16)

Kekuatan ruh dalam berhubungan dengan Allah berdasarkan ingatan.Tanpa ingat padaNya, ruh tidak berhubung denganNya.Ramai manusia meninggalkan Tuhan tanpa disedari sedang Tuhan tidak pernah meninggalkannya.Apabila ada kesusahan, baru manusia teringat padaNya,
merayu-rayu padanya, Tetapi apabila mereka diberi kesenangan, mereka lupa padaNya.

Kaum sufi memulakan pembinaan manusia dengan kekuatan ruh,bukannya akal atau emosi.Ia membina kekuatan ingatan pada Allah sehingga perasaannya terhadap Allah begitu mendalam.

Zikir yang bersungguh-sungguh menyebabkan ruh seseorang itu mempunyai dzauk atau asyik dengan Tuhannya.Tambatan hamba dengan Tuhan bukan sekadar hafalan sifat-sifatNya, tetapi ialah merasai kehampiran dengan Tuhan sehingga hati mereka gementar apabila disebut nama Allah, air mata mereka menitis apabila mengingatiNya.Mereka mersa rindu, cinta sehingga perasaan itu, menyebabkan emosi, akal dan jasad turut bersama-sama merasainya.

Firman Allah swt: "Maka ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu (bersama dan melindungi hambaNya).... (Al-Baqarah:152)

Allah memberi jaminnan bahwa hamba yang kukuh jiwanya dengan Allah akan mendapat perlindunganNya dari gangguan syaitan.Zikir yang bersisilah dan dilakukan dengan teknik yang betul akan mensucikan hati pengamalnya dan meningkatkan ubudiyahnya kepada Allah.Semangkin tinggi ubudiyyah, semangkin tawadhuk dan semangkin kerdil hamba itu terhadap Tuhannya sehingga ke tahap merasa hilang wujud diri (fana) , maka semangkin kuatlah Tenaga Illahi yang terlimpah pada qalbinya.Ia selari dengan perinsip sains bahwa semangkin kecil sesuatu atom itu , maka semangkin hebat tenaga dan kuasanya.

Tenaga zikir adalah tenaga dari Illahi, ia mempunyai cahaya yang hebat yang datang dari alam Lahut.Energi zikir akan menyucikan segala kotoran pada qalbi sehingga qalbinya akan terkeluar cahaya alam Lahut yang tertutup selama ini disebabkan kekotorannya.Cahaya ini akan bersinar dan meningkatkan frekuensi cahaya jiwanya (mazmumah).Ia juga akan bergerak menguatkan Ruh Sultani iaitu cahaya akal sehingga akalnya mempunyai daya ketahanan yang kuat, berfikiran tajam dan kreatif.Getaran cahayanya yang tinggi ini juga akan menguatkan Ruh Jasmani atau tenaga dalam atau gelombang elektromagnet yang bergerak aktif dalam tubuhnya. Gelombang atau tenaga inilah yang mengawal segala fungsi dan organ dalam tubuh manusia.Apabila tenaga ini terganggu atau lemah, maka ia akan mendedahkan seseorang itu kepada serangan pelbagai penyakit.Tenaga dalam badan ini juga mewujudkan medan magnetik yang juga disebut aura.Ia mengelilingi seluruh badan dan menjadi benteng pertahanan diri seseorang dan dapat mengesan gelombang-gelombang di sekelilingnya sama ada positif atau negatif.Semangkin kuat tenaga elektromagnet dalam tubuh, semangkin kuatlah medan magnet atau benteng dirinya.

Kaum sufi berzikir dengan mengikut garisan tertentu pada anggota tubuhnya dan dibuat berulangkali sehingga terasa kesan pada qalbinya seperti panas atau pedih.Ia selari denga hukum fizik yang menyatakan bahwa melakukan gerakan atau geseran pada tempat yang sama secara ulang alik akan menghasilkan tenaga elektrik.Tenaga yang diperolehi itu diqasadkannya untuk penyucian ammarahnya.Seseorang ahli zikir atau orang yang khusyuk dalam ibadah mempunyai ketenangan yang tinggi.Sains mengatakan semangkin tenang atau hening sesuatu objek itu, maka gerakan atom atau tenaga yang berhasil amatlah laju.Justeru, semangkin seseorang itu tenang, tenaganya makin kuat dan laju.Tenaga yang ada pada dirinya itu boleh diqasadkan perbagai kegunaan zahir dan batin.

Ingat ini dituntut oleh Allah dalam firmanNya yang berbunyi:

Firman Allah swt:
“Hendaklah kamu ingat akan Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk, dan diwaktu berbaring.”(An-Nisa:103)

“Hendaklah kamu ingat Tuhan yang telah memeliharamu didalam hati dengan rasa hormat dan takut (serta harap akan kurnia-Nya) dengan tidak menyebut dimulut pagi dan petang (terus menerus) dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai”.(al-A’raf:205)

Bagi kaum sufi, nafas adalah kembar bagi Ruh. Ruh adalah hakikat dan nafas adalah syariatnya di alam ini.Ruh ibarat kapal, ombak bagaikan nafas.Jika tenang ombak, tenaglah perjalanan kapal. Begitu juga Ruh, jika nafas seorang hamba tenang, maka ia memberi kesan pada ruhnya.

Kaum sufi amat mementingkan latihan pernafasan. Bila pernafasan elok, maka akan eloklah perjalanan ruh dengan Tuhannya. Emosi amat mempengaruhi pernafasan, baik ia dalam keadaan marah “stress” atau tenang.Jika seseorang itu berjaya mengawal emosinya.

Nafas adalah sumber kehidupan, tanpa nafas hancurlah kehidupan.Nafas adalah al-Hayat yang datang dari Tuhan, ia adalah rahsia Illahi.Para ulama sufi mengamalkan zikir nafas untuk pembersihan rohani, manakala para ahli “tenaga dalam” mengamalkan pernafasan untuk mengaktifkan tenaga ghaibnya sehingga dapat melakukan perkara yang luar kekuatan jasad.Kaum sufi menamakan iannya sebagai Nasma iaitu gabungan antara Ruh Jasmani dan jasad.

Mengikut kajian pakar 70% punca pesakit adalah berpunca dari ketidakstabilan emosi atau masalah psikologi.Justeru itu rawatan yang paling baik ialah membina motivasi seseorang itu kepada kekuatan dalaman.Tiada pembinaan yang paling baik melainkan mendekatkan manusia itu dengan RabbNya.

Zikir yang digabungkan dengan teknik pernafasan yang betul, atau disebut oleh ahli Tasauf sebagai zikir nafas, akan memberi kesan yang hebat. Imam Ghazali mengatakan zikir yang dilakukan dengan cara menahan nafas akan mempercepatkan proses penyucian hati (membakar mazmumah).

Pernafasan yang betul akan memaksimumkan penyerapan oksigen yang amat penting dalam kehidupan dan kesihatan manusia.Kekurangan oksigen menyebabkan seseorang terdedah kepada pelbagai penyakit seperti kanser,gangguan saraf, leukemia dan lain-lain.


berbagai sumber

Sunday, January 30, 2011

Tawasul

Pengertian Tawasul

Tawasul berarti perantara atau penghubung, sebagaimana Allah memiliki Ruhul Amiin, Jibril AS, untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW. Demikianlah pencapaian makrifat kepada Allah, yakni terungkapnya hijab dengan Allah melalui rantai-rantai wasilah, yakni perantara yang sampai kepada Rasulullah. Demikian karena si hamba dhaif lagi faqir, maka perlulah bertawassul kepada Balatentara Allah yang suci agar hajatnya mudah sampai hadhirat Allah Yang Agung lagi Suci daripada gambaran hamba yang hina.

Perintah Allah Ta'ala dalam Al-Quran:

"Wahai orang-orang yang beriman, taqwalah engkau kepada Allah dan carilah wasilah sebagai jalan yang mendekatkan dirimu kepadaNya dan bermujahadahlah (berjuanglah) pada jalanNya, supaya kamu mendapatkan keberuntungan".[2] (QS. Al-Maidah[5]:35).

DR. Muhammad Al-Maliki Al-Hasani mengatakan bahwa Al-Wasilah adalah segala sesuatu yang dijadikan Allah sebagai penyebab untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan penyambung untuk dipenuhNya segala kebutuhan. Untuk itu, demi menjayakan tawasul, yang ditawasuli atau yang menjadi perantara itu mesti mempunyai kedudukan dan kehormatan di sisi Allah SWT sebagai yang dituju dengan tawasul.

Orang yang bertawasul dengan perantara seseorang berkeyakinan bahwa orang tersebut adalah orang saleh atau Wali Allah atau orang yang memiliki keutamaan menurut prasangka baik terhadapnya. Orang-orang tersebut dianggapnya sebagai orang yang dekat kepada Allah dan dicintaiNya. Sebab orang yang menanamkan rasa cinta dan keyakinan yang erat pada kalbunya akan dibalas karenanya. Allah SWT berfirman: "..... Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.." (QS. Al-Maidah[5]:54). Jadi orang yang bertawasul menurut hakikatnya bertawasul kepada Allah.

Seakan-akan orang yang bertawasul kepada seorang Awliya itu berkata, "Wahai Tuhan, sesungguhnya aku mencintai si Fulan. Aku berkeyakinan bahwa ia mencintai-Mu. Ia adalah orang yang suka beribadah secara ikhlas untuk berbakti kepada-Mu. Saya juga berkeyakinan bahwa Engkau mencintainya dan meridhainya. Maka aku bertawasul - membuat perantara - untuk menuju kepada-Mu dengan perantaraan kecintaanku kepadanya dan lewat keyakinanku mengenai dirinya, hendaklah Engkau mengabulkan permohonanku, dan ...." Tetapi kebanyakan orang tidak mampu merinci keyakinan mereka mengenai yang ditawasuli - yang menjadi perantara - dengan keyakinan bahwa Allah SWT Yang Mengetahui - yang mengetahui segala ada di langit dan bumi serta mengetahui kedipan mata dan apa yang tersembunyi di dada - itu lebih jeli dan lebih mengetahui keyakinan orang yang bertawasul terhadap yang ditawasuli.

Inilah juga yang mendasari tawasul dengan rabithah, yang hanya membayangkan wajah seorang Awliya (Mursyid) akan mendekatkan kalbu (dirinya) kepada Allah SWT, dan yang berabithah itu tidak merinci apa-apa yang terbetik dalam dadanya. Hal tersebut amat mujarab dan banyak terbukti, telah dilakukan oleh banyak kalangan Ahli Tasawuf dan Hakikat.

Kata-kata Al-Wasilah (perantara) yang dimuat ayat Al-Quran itu bersifat umum. Dengan demikian, ia mencakup tawasul dengan zat atau pribadi yang mulia dari kalangan para Nabi dan orang-orang saleh, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah wafatnya; juga mencakup tawasul kepada Allah dengan perantaraan amal-amal nyata yang baik yang diperintahkan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Bahkan, amal perbuatan yang telah lalu dapat juga dijadikan sebagai wasilah atau perantara dalam bertawasul.

DR. Muhammad Al-Maliki Al-Hasani menjelaskan beberapa makna bertawasul:

1. Tawasul termasuk salah satu cara berdo'a dan salah satu pintu untuk menghadap kepada Allah SWT. Jadi, yang menjadi sasaran atau tujuan asli yang sebenarnya - dalam bertawasul - adalah Allah SWT. Sedangkan yang ditawasuli (al-mutawassal bih) hanya sekedar perantara (wasithah dan wasilah) untuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, siapa yang berkeyakinan selain demikian, sungguh ia telah menyekutukan Allah.

2. Sesungguhnya yang bertawasul itu tidak bertawasul dengan (menggunakan) perantara (al-mutawassal bih), kecuali karena ia mencintai perantara itu, seraya berkeyakinan bahwa Allah SWT-pun mencintai perantara tersebut. Jika tidak demikian, ia akan termasuk manusia yang paling jauh dari perantara tersebut, bahkan akan menjadi manusia yang paling benci kepadanya.

3. Jika yang bertawasul berkeyakinan bahwa yang ditawasuli atau yang menjadi perantara (al-mutawassal bih) itu berkuasa memberikan manfaat dan menolak mudharat dengan kekuasaannya sendiri - seperti Allah atau lebih rendah sedikit - maka ia telah menyekutukan Allah SWT.

Pada intinya tawasul itu sendiri merupakan wujud birokrasi umat sekarang terhadap umat terdahulu. Karena seandainya tidak ada jasa baik dan ijtihad umat terdahulu, maka tidak akan mungkin ada Iman dan Islam umat di akhir zaman. Inilah bukti komitmen orang yang bertawasul terhadap keberadaan mereka, sebagai realisasi perilaku orang-orang yang bermoral/berakhlak mulia.

Begitulah para ahli Thariqat, bertawasul kepada guru-gurunya hingga kepada Rasulullah SAW, yang menandakan keabsahan birokrasi Ilahiyah. Inilah kemudian yang dapat menjadikan layaknya mandat seseorang dalam memangku sebuah kepemimpinan semacam thariqat Rasul.
Pengertian Tawasul secara perkataan:

"Bertawasul ia kepadanya dengan suatu wasilah, sama dengan mendekatkan diri ia kepadanya dengan suatu amal". (Lisanul ‘Arab, Juz XIV: 250)

Dalam Al-Quran ada 2 tempat yang menyebutkan ‘Wasilah', satu ayat lainnya Surat Al-Isra'[17]: 57): "Mereka mencari perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan".

Pembahagian Tawasul

Tawasul itu terbagi menjadi tiga tingkatan nilai. Pertama yang dinilai sebagai Tawasul bis Silsilah, yakni bertawasul dengan jalinan yang bersambungan antara orang yang bertawasul dengan Guru-guru talqin dzikir hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Tawasul inilah yang shahih dan utama, yang bersifat menyampaikan, karena mempunyai hubungan yang erat antara orang yang bertawasul dengan yang ditawasuli.

Yang kedua, dinilai sebagai Tawasul bil Barokah[1]. Yakni bertawasul dengan para Nabi, para Awliya dan Sholihin yang tidak mempunyai hubungan silsilah dzikir dengannya, meskipun jalinan yang ditawasuli itu merupakan orang yang amat dikenal kesalehannya seperti: Khalifah yang empat (Abu Bakar Ra., Umar Ra., Utsman Ra., Ali Ra.), para Imam madzhab, para Mursyid, Awliya, Shalihin, dsb. Bertawasul kepada mereka semua hanyalah sebagai penghormatan, dan kita mengharapkan keberkahan dari kesalehannya.

Yang ketiga, dimasukkan dalam kategori Tawasul lil Hadiyah. Yakni bertawasul atau memberikan Fatihah kepada orang-orang yang mempunyai hubungan/hak dengan kita, namun tidak mempunyai hubungan rantai zikir, seperti kedua orang tua, saudara-saudara kita sesama muslim, dsb. Dan kita tidak boleh menggunakan jalinan orang-orang yang masih diragukan kesalehannya, apalagi yang masih mengharapkan ampunan dan syafa'at dari orang-orang yang masih hidup. Secara syari'at kita-lah yang masih hidup yang pantas menolong mereka, bukan mereka yang kita mintakan tolong untuk menyampaikan hajat kita kepada Allah SWT.

Alat perantara zikir itu terdiri menjadi 2 bahagian: (pertama) dengan jalinan/tokoh yang telah mendapat mandat kekhalifahan (istikhlaf), dan diakui kesalehannya (dekat kepada Allah), dan (kedua) dengan amal saleh yang telah dilakukannya. Berkenaan dengan masalah ini Berkata Syaikh Ismail Al-Khalidi Rahimahullah:

"Dan wasilah (jalan) itu dengan segala macam amal salih. Dan tiadalah diperoleh amal salih itu kecuali dengan ikhlas. Dan tidaklah amal yang salih itu kecuali bersih daripada campuran-campuran kekotoran hati. Dan bagi kami telah berhasil dengan berbagai pengalaman-pengalaman bahwa sesungguhnya jika kami menyibukkan dengan Rabithah, maka hilanglah campuran-campuran lalai hati daripada amal-amal kami". Jadi amal yang lalai itu hampa dan dengan wasilah maka hilanglah lalai itu. Sebab hilangnya lalai itu ialah Hudhurnya hati. Dan semulia-mulia & seutama-utama wasilah adalah dengan Rabithah.
Contoh bertawasul dengan amal adalah sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah SAW kepada kita mengenai kisah 3 orang yang terhimpit di dalam gua. Hadits itu adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA. Berkata: "Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

‘Terjadi pada masa dahulu sebelum kalian, ada 3 orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam di dalam gua. Tiba-tiba ketika mereka sedang berada dalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka: ‘Sungguh tiada suatu yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya ini, kecuali jika bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah kamu lakukan dahulu kala'. Maka berkata seorang di antara mereka: ‘Ya Allah! Dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi minuman susu pada seorangpun sebelum keduanya, yakni ayah ibu saya meminumnya terlebih dahulu, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah tertidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan saya pun segan untuk membangunkan keduanya, dan saya pun tidak akan memberikan minuman itu kepada siapa pun kecuali ayah bunda saya. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum daripada susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku sedang menangis minta susu itu, di dekat kakiku. Ya Allah! Jika saya berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah keadaan kami ini'. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja mereka belum dapat keluar daripadanya. Orang yang kedua berdo'a: ‘Ya Allah! Dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena sangat cinta kasihku, saya selalu merayu dan ingin berzina padanya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang minta bantuan kepadaku, maka saya berikan padanya wang 120 dinar tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata: ‘Takutlah kepada Allah dan jangan engkau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang halal. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya, dan saya tinggalkan dinar emas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah! Bila saya berbuat itu semata-mata karena mengharap KeredhaanMu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka belum juga dapat keluar daripadanya'. Yang ketiga berdo'a: ‘Ya Allah! Saya dahulu adalah seorang majikan yang mempunyai banyak buruh pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segeralah ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga menjadi suatu kekayaan. Kemudian setelah lama datanglah buruh itu, berkata: ‘Hai Abdullah! Berilah kepadaku upahku yang dahulu itu!' Jawabku: ‘Semua kekayaan yang di depanmu itu merupakan upahmu, berupa unta, lembu, dan kambing serta budak penggembalanya'. Berkata orang itu: ‘Hai Abdullah! Kau jangan mengejekku!' Jawabku: ‘Aku tidak mengejekmu'. Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tiada meninggalkan satupun daripadanya. Ya Allah! Jika saya berbuat itu karena mengharapkan KeridhaanMu, maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini'. Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga keluar mereka semua dengan selamat'.

Sedangkan contoh bertawasul dengan jalinan adalah sebagaimana diriwayatkan Imam Thabrani dalam Mu'jamus Shagir, Al-Hakim Naisaburi dalam Mustadrak ash Shihhah, Abu Nu'aim dan Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah, Ibnu ‘Asakir Syami dalam Tarikh-nya, dan Imam Hafizh As-Suyuthi dalam Ad-Durrul Mantsur serta dalam Ruhul Ma'ani dengan sanad dari S. Umar bin Khatthab, menukil bahwa Nabi SAW bersabda:

"Ketika Nabiyyallah Adam melakukan dosa, ia menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata: ‘Wahai Tuhan, aku memohon kepadaMu dengan Haq Muhammad agar Engkau mengampuniku'. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Siapakah Muhammad?' Nabiyyallah Adam menjawab: ‘Ketika Engkau menciptakanku, aku mengangkat kepala ke arah ‘ArasyMu, dan lalu aku melihat, di sana tertulis: Laa Ilaaha Illallaaah Muhammadur Rosulullaah. Akupun berkata kepada diriku, bahwa tiada seorangpun yang lebih agung daripada orang yang namanya telah Engkau tuliskan di samping NamaMu'. Ketika itu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Dialah Nabi yang terakhir daripada keturunanmu, dan jika tidak karena dia, niscaya Aku tak akan menciptakanmu'.

Dalam suatu hadits yang ditakhrijkan Ibnu Majah dan An-Nisa‘i dalam Sunan-nya, demikian pula At-Tirmidzi (beliau memberikan nilai shahih atasnya), disebutkan:

"Bahwa seorang buta pernah datang kepada Nabi SAW seraya berkata: ‘Yaa Rasulullah, sesungguhnya aku mendapat musibah pada mataku, maka berdo'alah engkau untukku kepada Allah'. Maka sabda Nabi SAW kepadanya: ‘Berwudhulah engkau dan shalatlah 2 raka'at, lalu katakan demikian: Yaa Allah, sesungguhnya aku bermohon dan menghadap kepada Engkau, dengan Nabi-Mu Muhammad. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menuntut syafa'at engkau dalam pengembalian penglihatanku ini. Yaa Allah, perkenankanlah syafa'at Nabi ini kepadaku. Dan sabdanya: ‘Maka jika ada bagimu sesuatu keperluan, katakanlah seperti itu!' "

Demikianlah pembagian tawasul yang penting untuk kita pahami dengan sebenarnya. Selanjutnya cara bertawasul yang benar, harus diisi dengan hajat/keperluan yang benar pula. Sebab di masa sekarang ini, banyak orang yang menyalahgunakan tawasul untuk keperluan yang jauh dari Ridha Allah SWT, tidak sebagaimana para pendahulu kita yang menggunakan tawasul semata-mata untuk ibadah, atau mendekatkan diri (ber-taqarub) kepada Allah semata. Di antaranya adalah untuk mendapatkan ilmu-ilmu tertentu seperti kebal, dll., dijadikan nadzar untuk maksud-maksud duniawi, dsb. Kenyataan inilah yang membuktikan pentingnya pembimbing dzikir/tawasul bagi orang yang sedang menekuni jalan ini agar tetap lurus tawasul-nya awal maupun akhir.

Wallahu A'lam.

(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR'ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia')